AS Lagi-lagi Veto Resolusi Dewan Keamanan PBB, Gencatan Senjata di Gaza Gagal
Amerika Serikat (AS) kembali memveto resolusi penting Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuntut gencatan senjata di Gaza, sementara Israel memperluas serangan besar-besaran di Kota Gaza. Resolusi tersebut, yang disetujui oleh 14 dari 15 anggota dewan pada hari Kamis, menyerukan "gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen di Gaza yang dihormati oleh semua pihak", pembebasan semua tawanan yang ditahan oleh Hamas dan kelompok-kelompok lain, serta pencabutan pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Dirumuskan oleh 10 anggota tidak tetap DK PBB, resolusi ini melangkah lebih jauh dari versi sebelumnya dengan menyoroti situasi kemanusiaan di Gaza setelah hampir dua tahun perang di Jalur Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 65.141 orang, menurut pejabat kesehatan Palestina. Seperti yang diperkirakan, Amerika Serikat memveto upaya tersebut. "Penolakan AS terhadap resolusi ini tidak akan mengejutkan," kata Morgan Ortagus, wakil utusan khusus AS untuk Timur Tengah. "Dewan ini gagal mengutuk Hamas atau mengakui hak Israel untuk membela diri, dan secara keliru melegitimasi narasi palsu yang menguntungkan Hamas, yang sayangnya telah beredar luas di dewan ini," ungkapnya Ortagus menambahkan bahwa deklarasi resmi Klasifikasi Fase Pangan Terpadu (IPC), pemantau kelaparan global yang didukung PBB, tentang kelaparan di wilayah kantong tersebut pada bulan lalu telah menggunakan “metodologi yang cacat”. Ia malah memuji kinerja Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) Amerika yang disetujui Israel -yang dijaga ketat militernya, padalah di tempat itu banyak warga Palestina terbunuh saat mencari makanan untuk keluarga mereka. Hak Veto Semena-mena Veto AS terhadap rancangan resolusi untuk mengakhiri agresi Israel di Jalur Gaza kali ini merupakan yang kesekian kalinya. Pada Juni 2025, AS juga memveto rancangan resolusi serupa. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan rasa kecewanya karena resolusi untuk mendorong berakhirnya perang di Gaza kembali gagal disahkan. Setelah pemungutan suara, Duta Besar Palestina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Riyad Mansour, mengatakan bahwa veto AS “sangat disesalkan” dan telah mencegah “Dewan Keamanan memainkan perannya yang semestinya dalam menghadapi kekejaman ini dan melindungi warga sipil dalam menghadapi genosida.” "Sayangnya, Dewan tetap diam dengan mengorbankan kredibilitas dan otoritasnya," tambah Mansour. "Ini menunjukkan bahwa dalam hal kejahatan kekejaman, penggunaan hak veto seharusnya tidak diizinkan," Duta Besar Aljazair untuk PBB, Amar Bendjama, juga menyampaikan kata-kata yang tegas. "Saudara-saudara Palestina, saudari-saudari Palestina, maafkan kami," ujarnya. "Maafkan kami, karena dunia berbicara tentang hak, tetapi mengingkarinya bagi orang Palestina. Maafkan kami karena upaya kami, upaya tulus kami, telah hancur berkeping-keping melawan tembok penolakan ini."