Luhut Ungkap Sudah Tolak Keberadaan TPL Sejak 20 Tahun Lalu
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap sudah menolak keberadaan PT Toba Pulp Lestari (TPL) sejak 20 tahun lalu. Penolakan ini didasari lantaran kerusakan alam yang ditimbulkan perusahaan tersebut.
"Saya menolak TPL itu sebenarnya sejak saya lihat sendiri waktu saya Menperindag. Saya saya menyaksikan sendiri keluhan masyarakat tentang Danau Toba yang semakin keruh dan berbau. Belum lagi kawasan hutan yang kian rusak," ungkap Luhut dikutip dari akun Instagram resminya, Rabu 14 Januari 2026.
Luhut juga menegaskan bahwa sikapnya konsisten terhadap PT Toba Pulp Lestari. Mantan menko marves ini bahkan menyarankan kepada presiden agar izin usaha perusahaan itu dicabut.
"Jadi menurut saya nggak ada gunanya itu lagi Toba Pulp di situ, Toba Pulp sudah cukup itu. Itu sudah nggak benar. Bukan hanya menentang, saya sarankan kepada presiden untuk dicabut," kata dia.
Di sisi lain, Luhut juga telah menyampaikan kepada presiden Prabowo Subianto lahan konsensi milik perusahaan tersebut harus dikembalikan untuk kepentingan rakyat.
"Saya sudah menyampalkan kepada Presiden Prabowo bahwa lahan tersebut harus dikembalikan untuk kepentingan rakyat. Kami akan ubah eksploitasi menjadi pemulihan yang menumbuhkan harapan. Pertanian berbasis teknologi dan pemulihan ekosistem akan menjadi upaya untuk memulihkan masa depan masyarakat Tapanuli secara lebih bermartabat," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan merespon tudingan yang menyebut dirinya merupakan pemilik saham dari TPL. Dia bahkan menantang untuk bisa membuktikan klaim mereka tersebut.
“Kalau orang nuduh saya punya saham, saham mana? Tunjukin. Saya tidak pernah punya saham kecuali di perusahaan saya yaitu PT Toba Sejahtera yang saya buat sendiri. Di situ ada Kutai Energi satu-satunya yang punya IUP yang saya dapat tahun 2003 atau 2004. IUP batu bara di Kutai Kartanegara ya itulah sampai hari ini milik saya. Saya tidak punya IUP nikel, saya tidak punya saham di Morowali yang dituduhkan oleh yang tidak jelas itu. Saya punya saham katanya di sana tidak punya. Tunjukan bawa kemari,” kata dia.
Luhut mengaku kesal dengan tuduhan tersebut karena sudah menyangkut harga dirinya. Dia sendiri juga tidak pernah tertarik memiliki saham-saham IUP nikel terutama saat dirinya menjabat sebagai menteri koordinator bidang kemaritman dan investasi (menko marves).
”Maaf saya agak jengkel ini karena menurut saya ini sudah menyangkut dignity, menyangkut harga diri. Saya tidak ada, saya tidak pernah mau memiliki saham-saham IUP nikel yang semua di bawah kekuasaan saya waktu saya jadi menko marves. Saya tidak mau,” kata dia.