Rentetan Kapal Tenggelam di Pesisir Jambi, Nelayan Diminta Waspada Cuaca Laut Memburuk hingga Februari
Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur) mengimbau para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengutamakan keselamatan saat melaut menyusul terjadinya gelombang tinggi dan angin kencang di wilayah pesisir perairan Jambi.
Kondisi cuaca tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan dan berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan laut maupun dampak bagi masyarakat pesisir.
Imbauan ini disampaikan menyusul sejumlah kejadian kecelakaan kapal nelayan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah daerah menilai penguatan kewaspadaan perlu terus dilakukan, terutama bagi nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran kecil.
Mengapa nelayan diminta meningkatkan kewaspadaan?
Kepala Dinas Perikanan Tanjung Jabung Timur, Hendri, menjelaskan bahwa fenomena gelombang tinggi dan angin kencang merupakan kondisi yang lazim terjadi pada periode Desember hingga Februari.
Fenomena ini dikenal sebagai periode angin utara, yang secara historis memang membawa dampak signifikan terhadap aktivitas pelayaran dan penangkapan ikan di wilayah perairan Jambi.
"Fenomena itu memang terjadi di Desember 2025 hingga Februari 2026, nelayan sudah tau risikonya. Kita ingin mengingatkan kembali agar nelayan waspada, apalagi kemarin baru saja kapal nelayan tenggelam akibat di hantam gelombang," kata Hendri di Muara Sabak, Senin (12/1/2026) dikutip dari Antara.
Menurutnya, meskipun nelayan telah memahami pola musiman tersebut, pengingat tetap diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan memakan korban jiwa.
Seberapa berbahaya kondisi gelombang saat ini?
Hendri menyebutkan bahwa ketinggian gelombang laut saat ini dapat mencapai dua meter, bahkan lebih tinggi apabila disertai hembusan angin kencang.
Kondisi ini dinilai sangat berisiko, khususnya bagi kapal nelayan berukuran kecil dengan daya tahan terbatas terhadap gelombang besar.
Untuk itu, nelayan yang menggunakan kapal di bawah 10 gross tonnage (GT) disarankan untuk tetap berada di wilayah perairan aman, yakni di bawah empat mil laut dari garis pantai.
Selain itu, nelayan juga diminta mempertahankan titik koordinat pelayaran guna memudahkan proses koordinasi dan pencarian apabila terjadi keadaan darurat.
Langkah keselamatan apa yang perlu dilakukan nelayan?
Dinas Perikanan Tanjab Timur mengingatkan pentingnya persiapan sebelum melaut. Salah satu langkah utama adalah memantau kondisi cuaca terkini melalui kanal resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Hendri menilai pemantauan informasi cuaca menjadi sangat krusial, mengingat dalam kurun waktu satu pekan terakhir terjadi sejumlah insiden kecelakaan laut di perairan Jambi.
Berdasarkan catatan, tiga peristiwa kapal tenggelam terjadi di kawasan Selat Berhala dan perairan Pangkal Duri.
Akibat kejadian tersebut, dua orang nelayan ditemukan meninggal dunia, sementara lima orang lainnya berhasil diselamatkan oleh petugas gabungan.
Rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat nyata akan tingginya risiko melaut di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Bagaimana dampak gelombang tinggi bagi masyarakat pesisir?
Selain nelayan, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga diminta untuk tetap waspada. Gelombang tinggi tidak hanya membahayakan aktivitas di laut, tetapi juga berpotensi menghantam permukiman warga yang berada dekat dengan garis pantai.
Kasus terbaru tercatat menimpa satu unit rumah warga di Desa Kuala Simbur, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman gelombang tinggi dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pesisir.
Berdasarkan data pemerintah daerah, jumlah nelayan di pesisir Tanjung Jabung Timur mencapai sekitar 6.000 jiwa.
Mereka tersebar di lima kecamatan pesisir, yakni Sadu, Nipah Panjang, Sabak Timur, Kuala Jambi, dan Mendahara.
Dengan jumlah nelayan yang cukup besar, potensi risiko akibat cuaca buruk juga semakin tinggi apabila tidak diantisipasi secara bersama-sama.
"Bila tidak memungkinkan, jangan dipaksa demi keselamatan bersama, untuk masyarakat pesisir kita minta tetap waspada, ancaman gelombang masih berpotensi menghantam pemukiman," jelas Hendri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang