BMKG Ahmad Yani Semarang Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem di Pantura Tiga Hari ke Depan

Cuaca ekstrem, BMKG, BMKG Ahmad Yani Semarang Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem di Pantura Tiga Hari ke Depan

BMKG Ahmad Yani Semarang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di wilayah Pantura selama tiga hari ke depan.

Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya intensitas hujan di wilayah Jawa Tengah.

Cuaca ekstrem diperkirakan terjadi dalam bentuk hujan lebat, angin kencang, hingga puting beliung, terutama di kawasan pesisir.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan banjir dan gangguan aktivitas masyarakat.

Prakirawan BMKG Ahmad Yani Semarang, Ferry Oktarisa, mengatakan Jawa Tengah saat ini memasuki puncak musim hujan yang berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.

Situasi tersebut membuat potensi hujan lebat masih sering terjadi di hampir seluruh wilayah provinsi ini.

"Potensi hujan sedang hingga lebat ini hampir menyeluruh di wilayah Jateng untuk seminggu ke depan ataupun tiga hari ke depan," katanya.

Pantura Timur Jadi Wilayah Perhatian Khusus

Menurut Oktarisa, wilayah yang memerlukan kewaspadaan lebih tinggi berada di Pantura Timur. Daerah-daerah tersebut meliputi Demak, Jepara, Pati, Kudus, Rembang, dan Grobogan.

Potensi hujan lebat di kawasan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga tiga hari ke depan dan masuk dalam kategori cuaca ekstrem.

"Pantura Timur itu wilayah Demak, Pati, Kudus, Jepara, kemungkinan sampai tiga hari ke depan (berpotensi cuaca ekstrem, red.). (Curah hujan) sedang hingga lebat sampai ekstrem," katanya.

Ia menambahkan, dalam beberapa hari terakhir intensitas hujan di sejumlah daerah bahkan tercatat sangat tinggi.

Hujan Ekstrem dan Ancaman Angin Kencang

Oktarisa menjelaskan bahwa dua hari sebelumnya, hujan di Jepara, Kudus, dan Demak termasuk kategori ekstrem dengan curah hujan di atas 100 milimeter per hari.

Selain hujan lebat, masyarakat pesisir Pantura Timur juga diminta mewaspadai potensi angin kencang.

“Di wilayah pesisir dekat laut itu berpotensi puting beliung atau angin kencang,” katanya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau menghindari lokasi berisiko saat hujan deras, seperti berada di dekat baliho, tiang listrik, pohon besar, maupun bangunan yang rawan roboh.

Potensi Banjir Masih Mengintai

Dengan hujan deras yang terus terjadi sejak 9 Januari 2025, potensi banjir masih mengancam wilayah Pantura Timur. Oktarisa menyebut curah hujan tinggi dipicu oleh sejumlah faktor meteorologis.

Penyebabnya antara lain adanya pusat tekanan rendah di perairan selatan Nusa Tenggara hingga Bali, pertemuan angin atau konvergensi, serta kondisi kelembaban udara yang tinggi.

"Masih ada potensi banjir karena di situ hujan lebatnya sudah dari dua hari, dari tanggal 9 (Januari 2025) itu sudah hujan lebat.

Kemungkinan sampai tiga hari ke depan masih ada potensi hujan deras di wilayah Pantura Timur," katanya.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan terus memantau perkembangan informasi cuaca dari sumber resmi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang