Kenapa Manohara Menolak Disebut Mantan Istri oleh Media? Ini Alasannya

mantan istri, Manohara, Kenapa Manohara Menolak Disebut Mantan Istri oleh Media? Ini Alasannya

Aktris dan model Manohara Odelia menyampaikan klarifikasi terbuka terkait penyebutan status masa lalunya yang selama ini kerap muncul di media.

Dalam surat terbukanya, ia meminta media berhenti menyebut dirinya sebagai mantan istri Pangeran Kelantan karena label tersebut dinilai tidak akurat dan menyesatkan.

Klarifikasi ini menyoroti pentingnya akurasi bahasa dan etika media dalam pemberitaan publik.

Lantas, mengapa Manohara menolak sebutan yang semula kerap disematkan padanya? 

Manohara tegaskan penyebutan "mantan istri" tidak akurat

Permintaan tersebut disampaikan Manohara melalui unggahan panjang di akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa penyebutan itu tidak mencerminkan realitas yang ia alami saat masih remaja.

"Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai 'mantan istri'. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi ini tidak akurat dan menyesatkan," tulis Manohara, dikutip dari , Selasa (6/1/2026).

Manohara menekankan bahwa peristiwa yang dialaminya bukan hubungan romantis, bukan hubungan atas dasar persetujuan, dan bukan pernikahan yang sah.

Ia menyebut dirinya berada dalam kondisi di bawah umur yang belum bisa memberikan persetujuan. 

"Apa yang terjadi selama masa remaja saya bukanlah hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela," tulisnya.

Istilah dinilai membingkai ulang situasi paksaan

Menurut Manohara, penggunaan istilah mantan istri menyiratkan adanya hubungan sah yang dijalani secara dewasa dan atas kehendak bersama.

Ia menilai label tersebut justru membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang legitim.

Atas dasar itu, Manohara meminta media Indonesia, termasuk editor, penulis, dan platform digital, untuk menghentikan penggunaan istilah tersebut saat merujuk dirinya.

"Saya meminta media Indonesia, editor, penulis, dan platform digital, termasuk Google dan Wikipedia, untuk berhenti menggunakan label ini ketika merujuk kepada saya," pintanya.

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan penyebutan tersebut bukan hanya tidak akurat, tetapi juga bermasalah secara etika.

"Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis," imbuh Manohara.

Klarifikasi bukan untuk mengungkit masa lalu

Manohara menegaskan bahwa klarifikasi ini tidak bertujuan membuka kembali luka lama. Ia menyampaikan permintaan tersebut demi keakuratan, tanggung jawab penggunaan bahasa, dan martabat penyintas.

"Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting. Kata-kata memiliki konsekuensi. Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat," tulisnya.

Sebagai informasi, Manohara sempat menjadi sorotan publik pada 2008 setelah dikaitkan dengan Tengku Muhammad Fakhry Petra dari keluarga kerajaan Kelantan, Malaysia.

Peristiwa itu terjadi ketika Manohara masih berusia remaja dan memicu perhatian luas media nasional maupun internasional.

Dalam berbagai pernyataan terbarunya, Manohara kembali menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan pernikahan yang sah maupun hubungan atas dasar persetujuan, melainkan berlangsung dalam situasi keterpaksaan dan keterbatasan kebebasan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang