Apa Itu Extended Adolescence? Istilah yang Viral Gegara Kontroversi Azkiave

Ilustrasi Gen Z
Ilustrasi Gen Z

 Media sosial dalam beberapa waktu terakhir diramaikan oleh perbincangan seputar istilah extended adolescence atau masa remaja yang diperpanjang. Istilah ini mencuat ke ruang publik setelah disinggung oleh kreator konten muda, Azkiave, yang menuai pro dan kontra lewat pandangan hidupnya. 

Azkiave, pemilik nama lengkap Azkia Vidiana Putri, dikenal sebagai kreator sekaligus pebisnis berusia 19 tahun yang aktif membagikan opini personal melalui akun Instagram dan TikTok @azkiave. Scroll lebih lanjut yuk!

Sorotan publik terhadap Azkiave bermula dari keputusannya menikah di usia muda dengan pria berusia 29 tahun. Pilihan hidup tersebut dinilai tidak lazim oleh sebagian netizen, sehingga memicu diskusi panjang. 

Konten-konten Azkiave selanjutnya yang membahas kedewasaan, Generasi Z, pendidikan, hingga kritik terhadap standar sosial modern semakin memperkuat perdebatan. Salah satu pernyataannya yang paling banyak dibicarakan adalah ketika ia menyinggung konsep extended adolescence.

“Kita hidup di era Extended Adolescence. Masa remaja yang diperpanjang. Standar dunia yang meninabobokan Gen Z, tenang, masih muda, main-main aja dulu. Tapi Islam menolak itu,” tulis Azkiave di video TikToknya, dikutip Selasa 6 Januari 2026. 

Pernyataan tersebut memicu respons beragam, mulai dari dukungan hingga kritik, terutama ketika dikaitkan dengan realitas ekonomi dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.

Apa Itu Extended Adolescence?

Secara ilmiah, istilah extended adolescence telah lama dibahas dalam kajian psikologi dan sosiologi. Seperti dilansir dari Scientific American, penelitian menunjukkan bahwa remaja masa kini justru cenderung lebih lambat memasuki fase kedewasaan dibandingkan generasi sebelumnya. 

Analisis yang dilakukan peneliti dari San Diego State University dan Bryn Mawr College, dan dipublikasikan dalam jurnal Child Development, menelaah data dari tujuh survei nasional di Amerika Serikat sepanjang 1976 hingga 2016. Survei tersebut melibatkan lebih dari delapan juta remaja berusia 13 hingga 19 tahun dari berbagai latar belakang.

Hasilnya menunjukkan bahwa remaja saat ini lebih jarang terlibat dalam aktivitas yang secara tradisional dianggap sebagai penanda kedewasaan, seperti konsumsi alkohol atau hubungan seksual. Meski kehidupan digital, ponsel pintar, dan media sosial kerap dianggap mempercepat kedewasaan, data justru menunjukkan adanya penundaan dalam perilaku dewasa tersebut. 

Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah meningkatnya kemakmuran dan stabilitas ekonomi dalam keluarga tertentu.

Penelitian tersebut juga mengaitkan fenomena ini dengan life history theory, yang menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan stabil dan berkecukupan cenderung berkembang lebih lambat dibandingkan mereka yang berasal dari lingkungan tidak stabil. 

Dalam keluarga yang lebih sejahtera, terdapat ekspektasi lebih panjang terhadap pendidikan dan karier sebelum seseorang dianggap “dewasa”. Akibatnya, keputusan untuk menikah dan memiliki anak pun semakin ditunda.

Viralnya istilah extended adolescence melalui kontroversi Azkiave menunjukkan bagaimana konsep akademik dapat masuk ke diskursus populer. Di sisi lain, perdebatan ini juga mencerminkan benturan antara nilai budaya, agama, serta realitas sosial-ekonomi generasi muda di era modern.