Dolar AS Bangkit di Awal 2026 Usai Anjlok Terparah dalam 8 Tahun

Mata uang Dolar AS
Mata uang Dolar AS

Dolar Amerika Serikat (AS) membuka tahun baru dengan catatan positif. Mata uang AS ini berhasil bangkit dari sebagin besar mata uang setelah mengalami tekanan setelah mencatat penurunan tahunan terdalam dalam delapan tahun terakhir. 

Sepanjang tahun 2025, dolar AS terpantau anjlok tajam lebih dari 9 persen secara year on year (yoy) sekaligus menjadi terburuk sejak tahun 2017. Tekanan dolar tahun lalu dipicu oleh menyempitnya selisih suku bunga dengan negara-negara lain, kekhawatiran atas kondisi fiskal AS, perang dagang global, serta isu independensi The Fed. Risiko-risiko tersebut dinilai masih membayangi pergerakan dolar sepanjang 2026.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik 0,24 persen ke level 98,48 pada Jumat, 2 Januari 2026. Sementara itu, Euro turun 0,25 persen menjadi US$1,1716. 

Saat ini, pasar mengalihkan perhatian ke rangkaian data ekonomi AS pekan depan yang akan ditutup dengan laporan ketenagakerjaan (non-farm payrolls). Data tersebut dipandang krusial untuk mengukur peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Pelaku pasar memproyeksikan dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026. Ini lebih agresif dibandingkan proyeksi internal The Fed yang masih terbelah dan mengarah pada satu kali pemangkasan.

“Ini akan menjadi periode evaluasi besar-besaran. Kita belum akan melihat rapat The Fed hingga akhir bulan, dan saat ini belum ada konsensus,” kata Direktur Perdagangan Monex USA, Juan Perez, dikutip dari CNBC Internasional pada Minggu, 4 Januari 2026.

Ia menambahkan, penutupan pemerintahan AS yang berlangsung lama turut memengaruhi kualitas data ekonomi. “Penutupan pemerintah AS sebelumnya belum pernah terjadi selama ini dan berlangsung sangat lama, sehingga memengaruhi cara data dikumpulkan, diinterpretasikan, dan dinilai akurasinya,” ujarnya.

Selain Euro, pound sterling ikut melemah 0,18 persen ke US$1,3445. Padahal, kedua mata uang tersebut mencatat reli tajam sepanjang 2025. 

Tekanan pada euro datang dari data manufaktur zona euro yang lesu. Aktivitas manufaktur tercatat turun pada Desember ke level terendah dalam sembilan bulan terakhir.

Selain data ekonomi, investor turut mencermati dinamika politik AS, khususnya rencana Presiden AS Donald Trump menunjuk Ketua The Fed baru. Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026 dan Trump menyatakan akan mengumumkan penggantinya bulan ini.

Pasar memperkirakan kandidat pilihan Trump akan cenderung mendukung pemangkasan suku bunga lebih agresif. Selama ini, Trump kerap mengkritik The Fed karena dinilai terlalu lambat dan kurang agresif dalam menurunkan biaya pinjaman.

Goldman Sachs menilai isu independensi bank sentral masih akan menjadi sorotan sepanjang 2026. Pergantian pimpinan The Fed menjadi salah satu alasan mengapa risiko terhadap proyeksi suku bunga cenderung condong ke arah dovish,

“Kami memperkirakan kekhawatiran terkait independensi bank sentral berlanjut hingga 2026,” tulis Goldman dalam catatan kepada klien.

Kondisi perdagangan valuta asing pada hari Jumat, 2 Januari 2026, relatif sepi lantaran bursa Jepang dan Tiongkok libur sehingga volume perdagangan tercatat tipis. Meski demikian, penguatan dolar di awal tahun ini menjadi sinyal awal perubahan sentimen pasar setelah periode tekanan panjang sepanjang 2025.