Harga Emas Tak Seindah Awal Tahun, Proyeksi Baru Bikin Investor Was-was
Harga emas yang sempat melesat tajam pada awal 2026 kini mulai menghadapi tekanan baru. Setelah dianggap sebagai aset safe haven paling kuat di tengah konflik global, logam mulia ini mulai kehilangan momentum dalam jangka pendek.
Bank investasi global Morgan Stanley baru saja memangkas target harga emas untuk paruh kedua 2026. Langkah ini menjadi sinyal bahwa ekspektasi pasar terhadap reli emas perlu disesuaikan kembali, terutama setelah volatilitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, prospek emas belum sepenuhnya suram. Banyak analis masih melihat adanya peluang kenaikan harga jika bank sentral mulai memangkas suku bunga dan tekanan inflasi mulai mereda.
Morgan Stanley memangkas target harga emas menjadi US$5.200 per ons atau setara Rp88,4 juta per ons, turun cukup tajam dari proyeksi sebelumnya sebesar US$5.700 per ons atau sekitar Rp96,9 juta per ons.
Revisi ini muncul setelah harga emas mengalami tekanan besar selama enam minggu terakhir. Sebelum konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari, harga emas sempat mendekati rekor tertinggi di level hampir US$5.500 per ons atau sekitar Rp93,5 juta.
Namun situasi berubah cepat. Harga emas dilaporkan turun sekitar 8 persen sejak konflik dimulai dan kini bergerak di kisaran US$4.700 hingga US$4.800 per ons, atau sekitar Rp79,9 juta hingga Rp81,6 juta.
Meski target diturunkan, Morgan Stanley tidak sepenuhnya pesimistis. Bank ini masih melihat dukungan struktural dari permintaan kuat bank sentral, kekhawatiran pelemahan nilai mata uang, dan ketegangan geopolitik yang masih tinggi.
Sebagai gambaran, bank sentral China menambah cadangan emas sebanyak 5 ton pada Maret. Selain itu, ekonom Morgan Stanley juga masih memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini, yakni pada September dan Desember.
Morgan Stanley menilai ada tiga faktor utama yang menyebabkan reli emas kehilangan tenaga. Pertama, permintaan resmi dari bank sentral mulai melemah. Bank sentral Turki menjual 52 ton emas antara 27 Februari hingga 27 Maret, sementara India menunda sejumlah persetujuan impor bullion.
Pembelian dari bank sentral lain juga melambat, dengan rata-rata Januari dan Februari hanya sekitar 31 ton per bulan, jauh di bawah rata-rata 50 ton sepanjang 2025. Kedua, dana dari ETF mulai berbalik arah. Setelah ETF mengakumulasi 150 ton emas pada Januari dan Februari, mereka justru melepas 90 ton pada Maret karena harapan pemangkasan suku bunga mulai memudar.
Ketiga, faktor teknikal ikut memperburuk keadaan. Harga emas turun di bawah moving average 50 hari dan kemudian 100 hari, yang memicu aksi jual sistematis. Dewan Emas Dunia atau World Gold Council juga melaporkan arus keluar ETF secara berturut-turut sejak 17 Maret.
“Sederhananya, emas berhenti menjadi taruhan dengan keyakinan tinggi dan berubah menjadi aset mahal yang membutuhkan kondisi nyaris sempurna untuk terus naik,” ungkap laporan tersebut sebagaimana dikutip pada The Street, Kamis, 23 April 2026.
Meski begitu, harga emas masih mendapat dukungan di level moving average 200 hari. Kenaikan berikutnya diperkirakan baru akan datang jika Federal Reserve benar-benar mulai memangkas suku bunga dan pasar obligasi menjadi lebih tenang.
Sejumlah institusi besar di Wall Street bahkan masih memiliki target harga emas yang cukup tinggi. Wells Fargo memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$6.100 hingga US$6.300 per ons atau sekitar Rp103,7 juta hingga Rp107,1 juta pada akhir 2026.
J.P. Morgan bahkan memperkirakan emas bisa menyentuh US$6.300 per ons, sementara BNP Paribas melihat rata-rata harga emas 2026 di level US$5.620 dengan potensi puncak di atas US$6.250.
Fokus pasar kini tertuju pada data tenaga kerja April, inflasi CPI, dan risalah rapat The Fed pada akhir bulan. Ketiga faktor ini akan sangat menentukan arah harga emas berikutnya.
Jika inflasi mulai melandai dan peluang pemangkasan suku bunga kembali menguat, emas berpotensi bangkit lagi. Namun jika inflasi tetap panas dan imbal hasil obligasi terus naik, tekanan terhadap logam mulia kemungkinan masih akan berlanjut.