Sudah Punya 100 Anak, CEO Telegram Tawarkan Donor Sperma Gratis
CEO Telegram yang juga miliarder asal Rusia, Pavel Durov kembali menjadi sorotan dunia usai menyoroti isu infertilitas alias kesuburan. Dirinya menawarkan untuk menanggung biaya program bayi tabung atau IVF untuk perempuan berusia 37 tahun yang ingin memiliki anak menggunakan spermanya.
Pavel Durov yang mengklaim telah memiliki 100 anak melalui donor sperma ini punya alasan tersendiri dibalik tindakannya itu. Disebutnya bahwa aktivtas tersebut sebagai menyebut aktivitas donasi sperma tersebut sebagai tugas sipil.
Menurutnya, langkah ini penting untuk membantu mengatasi kelangkaan materi donor berkualitas tinggi sekaligus menghapus stigma seputar donor sperma. Durov secara terbuka mengaitkan penurunan jumlah sperma dan meningkatnya infertilitas di seluruh dunia dengan faktor lingkungan, termasuk polusi plastik. Ia mengaku senang bisa turut membantu mengatasi masalah tersebut.
Tak hanya itu saja, CEO Telegram ini juga menyebut anak-anak hasil dari donor spermanya itu juga tidak dibeda-bedakannya. Anak-ana tersebut bisa mewarisi sebagian dari kekayaannya suatu hari nanti sama seperti keenam anaknya yang lahir dari tiga pasangan berbeda.
“Selama mereka bisa membuktikan DNA yang sama dengan saya, suatu hari mungkin 30 tahun lagi mereka berhak mendapatkan bagian dari harta saya setelah saya meninggal,” ujar Durov dalam wawancara di podcast Lex Friedman pada Oktober lalu dikutip dari laman New York Times, Senin 29 Desember 2025.
Sperma Durov Banyak Diminati
The Wall Street Journal dalam laporan mendalamnya menyebut sperma Durov sebagai komoditas yang sangat diminati. Tahun lalu, puluhan perempuan disebut merespons iklan yang menawarkan sperma Durov secara gratis di sebuah klinik di Moskow.
Melalui forum publik, media sosial, dan situs web, klinik fertilitas tersebut menggambarkan Durov sebagai sosok dengan kecocokan genetik tinggi dan menekankan bahwa ia bersedia membiayai IVF bagi perempuan di bawah 37 tahun yang ingin menggunakan spermanya yang disebut banyak diminati.
Meski Durov kini tidak lagi mendonorkan sperma secara langsung, sampel dari donasi sebelumnya dilaporkan masih tersimpan di Altravita Clinic yang berbasis di Moskow.
“Para pasien yang datang semuanya terlihat sangat baik, berpendidikan, dan sehat,” ujar seorang mantan dokter klinik tersebut yang pernah memeriksa beberapa relawan.
Ia menambahkan bahwa para peserta harus berstatus belum menikah untuk menghindari persoalan hukum.
“Mereka ingin memiliki anak dari, katakanlah, tipe pria tertentu. Mereka melihat figur ayah seperti itu sebagai sosok yang tepat,” kata dokter tersebut, seraya menegaskan bahwa Durov tidak terlibat dalam proses pemilihan perempuan penerima spermanya.
Dalam unggahan di Telegram pada Juli 2024, miliarder yang kini berbasis di Dubai itu mengonfirmasi bahwa spermanya masih tersedia. Namun, demi menghindari masalah hukum, akses ke sampel tersebut dibatasi hanya untuk perempuan belum menikah berusia 37 tahun ke bawah.
Awal Mula Kegiatan Donor Sperma
Durov mengatakan aktivitas donor spermanya bermula pada 2010, ketika ia membantu seorang teman yang kesulitan memiliki anak. Ia kemudian terus mendonorkan sperma setelah diberi tahu oleh para ahli fertilitas bahwa terjadi kekurangan donor.
Dalam unggahan di platform miliknya, Durov menulis, bahwa aktivitas donornya di masa lalu telah membantu lebih dari seratus pasangan di 12 negara untuk memiliki anak.
Ia juga mengumumkan rencana untuk membuka akses DNA-nya secara terbuka agar anak-anak biologisnya dapat dengan mudah saling menemukan.
“Tentu ada risikonya, tapi saya tidak menyesal pernah menjadi donor. Kelangkaan sperma sehat kini menjadi masalah serius di seluruh dunia, dan saya bangga bisa berkontribusi untuk menguranginya,” tambahnya.
Pengalaman pertamanya menjadi ayah terjadi pada 2009 dan 2010, saat ia memiliki dua anak dengan pacarnya. Setelah itu, ia dikaruniai tiga anak lagi bersama Irina Bolgar, seorang pengacara HAM yang tinggal di Swiss.