Keraton Yogyakarta Gelar Numplak Wajik, Ini Makna dan Rangkaian Tradisi Jelang Garebeg Besar 2026
Keraton Yogyakarta dijadwalkan menggelar prosesi Numplak Wajik pada Selasa (17/3/2026) sebagai bagian dari rangkaian tradisi menjelang Garebeg Besar.
Prosesi ini umumnya dilaksanakan tiga hari sebelum puncak Garebeg dan menjadi penanda dimulainya penyusunan Gunungan.
Kegiatan tersebut rencananya berlangsung di Panti Pareden, Kompleks Magangan, Keraton Yogyakarta, dan terbuka untuk umum.
Keraton Yogyakarta secara rutin menggelar prosesi Numplak Wajik menjelang Garebeg, baik Garebeg Sawal, Garebeg Besar, maupun Garebeg Mulud.
Berdasarkan pelaksanaan sebelumnya, prosesi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara adat Keraton yang sarat makna simbolis.
Makna Numplak Wajik
Dilansir dari laman kratonjogja.id (5/6/2025), Penghageng Kawedanan Widya Budaya, KRT Rintaiswara, menjelaskan bahwa Numplak Wajik berasal dari dua kata, yakni “numplak” dan “wajik”.
Numplak berarti menuangkan isi wadah dengan membalik posisi agar isinya tumpah ke tempat yang telah disiapkan.
Sementara wajik merupakan makanan tradisional berbahan ketan, gula jawa, dan kelapa.
Dalam prosesi ini, wajik biasanya ditumpahkan ke bagian dasar Gunungan Wadon atau Estri sebagai simbol awal penyusunan Gunungan.
Rangkaian prosesi
Merujuk pelaksanaan sebelumnya, prosesi diawali dengan doa bersama yang dipimpin abdi dalem.
Selanjutnya, abdi dalem mengoleskan minyak pada alas Gunungan, kemudian menumplakkan wajik dan memperkuatnya dengan kerangka bambu.
Di luar area prosesi, abdi dalem biasanya memainkan musik gejog lesung sebagai bagian dari tradisi penolak bala.
Gunungan dan simbol kehidupan
Gunungan yang disiapkan dalam Garebeg terdiri dari lima jenis, yaitu Kakung, Wadon (Estri), Gepak, Dharat, dan Pawuhan.
Wajik yang ditumplakkan pada Gunungan Wadon melambangkan penghormatan terhadap perempuan sebagai sumber kehidupan dan kesinambungan generasi.
Selain wajik, Gunungan juga berisi berbagai komponen lain seperti baderan, gendul, telur bebek rebus, serta sayuran.
Sebagai penutup, abdi dalem biasanya membagikan kinang (sirih) dan singgul kepada masyarakat yang hadir.
Pembagian tersebut menjadi simbol berkah sekaligus menandai berakhirnya prosesi Numplak Wajik sebelum memasuki puncak Garebeg.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang