2 Juta WNI Berobat ke Luar Negeri Tiap Tahun, Devisa Negara Bocor hingga 6 Miliar Dolar AS

Devisa negara diperkirakan bocor hingga enam miliar dolar Amerika Serikat per tahunnya. Hal itu terjadi karena banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) yang berobat ke luar negeri atau wisata medis.
"Setiap tahun sekitar 2 juta WNI melakukan wisata medis ke luar negeri, menyebabkan potensi kebocoran devisa hingga 6 miliar dolar Amerika Serikat," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam siaran persnya, Jumat (21/11/2025).
Adapun negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura kerap menjadi tujuan para orang Indonesia wisata medis.
Berdasarkan data Singapore Tourism Board dan Kementerian Kesehatan Singapura, sekitar 47,2 persen dari pasien asing yang berobat ke negara itu adalah WNI.
Sementara itu, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin mengatakan, memang banyak orang Indonesia pergi ke Malaysia untuk berwisata medis.
Ilustrasi Penang Hill di Penang, Malaysia.
Dikutip dari Kompas.id, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan, 1 dari 1.000 rumah tangga di Indonesia pernah berobat ke luar negeri.Malaysia menjadi negara tujuan yang paling banyak didatangi untuk berobat. Selain itu, negara lainnya, yakni Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan. Lantas, apa saja layanan yang paling banyak diakses oleh warga negara Indonesia ketika berobat ke negara-negara tersebut?
Dari data yang dilaporkan, pelayanan kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan kesehatan rutin (MCU). Selain itu, layanan kesehatan lain yang juga diakses di luar negeri, yakni layanan terkait kanker, bedah atau operasi, kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu anak, serta kesehatan tradisional.
Hampir seluruh layanan kesehatan tersebut paling banyak diakses di Malaysia. Bahkan, lebih dari 90 persen layanan kanker, kesehatan reproduksi, dan kesehatan tradisional dilakukan di negara tersebut.
Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama di balik fenomena WNI lebih memilih untuk berobat di luar negeri, mulai dari fasilitas kesehatan yang lebih lengkap hingga biaya pengobatan yang justru lebih murah di sana. Namun, menurut Timboel, yang paling menentukan adalah kualitas pelayanan.
“Yang paling utama adalah kualitas pelayanan dan bagaimana pembiayaannya disusun,” ujarnya kepada Kompas.com melalui sambungan telepon pada Kamis (12/6/2025).
Ia mencontohkan, durasi konsultasi dengan dokter di luar negeri jauh lebih panjang dan mendalam dibandingkan di Indonesia.
Jika di luar negeri pasien bisa berdiskusi dengan dokter selama 30 menit, di Indonesia sering kali hanya 5 menit. Hal ini tentu berpengaruh pada pemahaman pasien terhadap penyakitnya dan rekomendasi medis yang diberikan.
Potensi wisata medis Indonesia
Ilustrasi rumah sakit.
Widiyanti menjelaskan Indonesia memiliki potensi besar dalam wisata kesehatan. Pada sektor wellness tourism, Indonesia memiliki kekuatan intrinsik dari tradisi herbal, praktik pemulihan tubuh dan pikiran, serta keragaman bentang alam.Nilai pasar wellness Indonesia mencapai 56,4 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 6,65 persen pada 2019–2023. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara dan salah satu yang tumbuh tercepat di Asia Pasifik.
“Kekuatan pasar wellness yang terus meningkat perlu dimanfaatkan sebagai momentum percepatan pengembangan medical dan wellness tourism,” ucap Widiyanti.
Kerjasama Kemenpar dan Kemenkes
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat kerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui sinergi program dan kegiatan untuk mendorong pengembangan dan penyelenggaraan wisata kesehatan di Indonesia.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Widiyanti dan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Jumat (21/11/2025), di Kantor Kemenkes, Jakarta.
“Kerja bersama ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan pariwisata sekaligus menegaskan komitmen menghadirkan wisata kesehatan yang berkualitas, berkesinambungan, dan berdaya saing,” kata Widiyanti.
MoU tersebut menjadi dasar kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari penyusunan kebijakan dan program wisata kesehatan; peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM); pertukaran serta pemanfaatan data dan informasi; pengembangan investasi dan pemasaran layanan kesehatan; hingga pembentukan kelompok kerja pariwisata kesehatan.
Peluang ini menjadi ruang strategis bagi Indonesia untuk menyediakan layanan kelas dunia di dalam negeri, sekaligus memperkuat ekosistem layanan kesehatan nasional.
Kemenpar akan terus memperkuat pengembangan paket wisata kesehatan berbasis layanan unggulan rumah sakit, memperluas promosi fasilitas medis, serta memfasilitasi kemitraan antara rumah sakit, industri pariwisata, dan penyedia layanan perjalanan.
Melalui sinergi dengan Kemenkes, kedua kementerian menargetkan penyusunan peta jalan (roadmap) wisata kesehatan yang lebih terarah serta pembentukan kelompok kerja yang memastikan pengembangan berjalan end to end dan lintas sektor secara efektif.
Kedua kementerian juga akan memperkuat kurasi dan promosi layanan wisata kesehatan, termasuk penetapan standar pelayanan dan pengembangan produk prioritas. “Termasuk penyelenggaraan forum industri dan investasi untuk memperkuat ekosistem pendukung sektor,” kata Widiyanti.
Menpar Widiyanti juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia, mulai dari pelatihan bahasa Inggris dan hospitality bagi tenaga kesehatan, pelatihan first aid bagi pemandu wisata, hingga pelatihan berbasis kompetensi untuk tenaga kerja wellness.
Ia optimistis bahwa peningkatan fasilitas dan layanan medis yang dijalankan Kemenkes akan mendukung upaya peningkatan indeks daya saing pariwisata nasional (TTDI). Menpar berharap Indonesia bisa naik dari peringkat 22 ke peringkat 20, bahkan menembus 10 besar dunia.
“Saya berharap penandatanganan MoU hari ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih terarah dan berkelanjutan,” kata Menpar.
Budi Gunadi mengapresiasi penguatan kerja sama ini dan menegaskan integrasi pariwisata dan kesehatan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi upaya pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Turut hadir mendampingi Widiyanti, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani serta Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar Hariyanto.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.