Menggugat Kolonialisme, 42 Kutipan Tajam Surat Kartini yang Jarang Diketahui Publik

Raden Ajeng Kartini sering kali dikenal hanya sebagai tokoh emansipasi wanita. Namun, jika kita menggali lebih dalam lewat surat-suratnya, sosok Kartini adalah seorang intelektual yang tajam dalam membedah realitas sosial-politik Jawa pada akhir abad ke-19.
Korespondensi Kartini bukan sekadar curahan hati, melainkan jendela untuk melihat bagaimana sistem kolonial dan tradisi feodal saling mengunci kehidupan rakyat Jawa saat itu.
Perjalanan pemikiran Kartini mulai mendunia saat ia berkirim surat dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, seorang feminis asal Belanda, pada 25 Mei 1899. Pertemuan ide ini berawal dari ketertarikan Kartini pada Pameran Nasional Karya Perempuan (Nationale Tentoonstelling Van Vrouwenarbeid) di Den Haag tahun 1898.
Melalui jurnal De Hollandsche Lelie, Kartini mencari sahabat pena yang bisa membantunya memahami dunia luar. Stella, yang merupakan anggota Partai Buruh Sosial-Demokrat, menjadi kawan diskusi yang membuka cakrawala Kartini tentang pendidikan, kesetaraan, dan kritik terhadap ketidakadilan.
Kumpulan Kutipan Surat Kartini
Berikut adalah deretan kutipan legendaris Kartini yang diambil dari buku "Kartini, Surat Lengkap dan Berbagai Catatan 1898-1904" karya Joost Cote. Kutipan-kutipan ini menggambarkan kegelisahannya akan sistem pendidikan, martabat bangsa, dan harapan untuk masa depan.
1. "Pertama kali petugas karenakan seperti itu ditawari seikat pisang atau semacamnya oleh beberapa penduduk desa dia akan menolaknya; dia akan terus menolaknya untuk kedua kalinya, tetapi ketiga kalinya penolakannya menjadi lebih ragu-ragu, dan pada kesempatan keempat tawaran itu diterima dengan mantap.
Dia berkata pada diri dirinya sendiri; ini bukan kejahatan yang telah saya lakukan, lagi pula, saya tidak memintanya, itu telah diberikan kepada saya dan akan bodok menolaknya jika memang bermanfaat. Menawarkan hadiah tidak hanya sebagai tanda penghormatan tetapi juga perlindungan terhadap beberapa kemalangan tang datang dari pemerintah yang mungkin suatu hari menimpa si pemberi. Jika dia ditangkap oleh wedono untuk beberapa pelanggaran kecil maka dia dapat mengandalkan temannya petugas di kawedanan untuk berbicara atas namanya"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
2."Banyak pejabat, maksudku pejabat peribumi, telah dikerdilkan sedemikian rupa ke dalam keadaan melarat. Ketika Masku tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dari gajinya, Romo pasti segera membantu. Apakah yang mampu dilakukan pejabat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji mereka, tidak memiliki uang, dan malah orang tua atau keluarga yang mendukung secara finansial? Dan mereka terus saja datang dengan persembahan untuk atasan mereka dan kamu akan melihat istri dan anak-anaknya dengan pakaian robek.... Jangan menilai terlalu keras Stella"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
3. "Kukira Pemerintah percaya bahwa ketika masyarakat belajar, mereka tidak mau lagi menggarap lahan"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
4. "Akhirnya pada tahun 1895 ditetapkan: tidak ada anak pribumi (berusia 6 sampai tujuh tahun) yang akan diterima di sekolah dasar negeri untuk orang Eropa jika belum bisa berbahasa Belanda, kecuali mendapat izin tersurat dari Gubernur Jenderal..."
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
5. "Romo menulis dalam Memorandumnya: Pemerintah tidak mungkin menyiapkan pangan untuk setiap meja orang Jawa, tapi yang dapat dilakukan ialah menyediakan sarana untuk mereka dalam mencari makan, dan hal itu adalah pendidikan yang mudah dijangkau. Penyediaan pendidikan yang baik bagi rakyat adalah sama dengan Pemerintah memberikan obor agak rakyat bisa menemukan jalan yang benar untuk dirinya sendiri, yang akan menunjukkan jalan ke tempat di mana berkas dapat diperoleh"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
Foto Kartini dan adik-adiknya Roekmini, Kartinah dan Soemarti sebagai guru
6. "Tapi apa yang benar adalah benar dan yang adil harus tetap adil. Bisa kamu lihat sendiri bukan, dalam pendidikan dan peradaban, kami ingin setara dengan Eropa. Hak, yang kita tuntut untuk diri kita sendiri, juga harus kita berikan kepada orang lain. Mencegah pendidikan yang setara untuk rakyat sama saja dengan tindakan Tsar yang mengajarkan perdamaian pada dunia sementara ia menginjak hak dan kebebasan rakyatnya sendiri. Haruskan dua hukum ini berlaku; satu untuk kita dan satu untuk mereka - tidak!"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
7. "Mengapa kalian tidak mengulurkan tangan kalian untuk mengangkat saudara berkulit coklat ini? Percayalah semua kejahatan itu bisa dimusnahkan. Lepaskan bebat yang melingkar erat di kepalanya, bukalah matanya dan kalian akan melihat bahwa di dalam dirinya ada sesuatu selain keinginan untuk melakukan hal-hal buruk yang pada dasarnya berasal dari kebodohan dan ketidaktahuan"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
8. "Londo-londo itu menertawakan dan mengolok-olok kami atas ketidaktahuan kami, tapi saat kami mencoba mendidik diri kami sendiri, mereka mengambil sikap menghalang-halangi kami! Oh! Betapa banyak kesedihan yang kualami di sekolah, di mana para guru dan banyak teman-teman sekelas begitu memusuhi kami"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
9. "Pemuda pribumi ini, yang pernah menjadi nomor satu dalam segala hal, sekarang harus merangkak melintasi lantai di depan mantan teman sekolahnya yang bodoh itu, berbicara kepadanya dalam bahasa Jawa tinggi, sementara ia diajak bicara dekan bahasa melayu yang patah-patah. Dapatkah kamu membayangkan penderitaan hati yang penuh kebanggaan dan angkuh ini saat dihina sedemikian rupa?
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
10. "Tidak ada cara yang lebih baik untuk melayani orang Eropa selain dengan merangkak di depan mereka di antara debu-debu lantai dan tidak pernah berbicara sepatah kata pun dalam bahasa Belanda di sekitar mereka. Ia bisa berbicara dengan bahasa Prancis dengan babi yang merusak kebun penduduk desa, berbicara bahasa Inggris dengan anjing - anjing yang membuatnya terjaga di malam hari, dan berdiskusi dalam bahasa Jerman dengan lembu atau kucing"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
11. "Apa pendapatmu tentang banyak sekali pejabat pemerintah kolonial yang dicium kaki dan lututnya oleh penguasa pribumi? Ciuman kaki merupakan tanda penghormatan tertinggi yang dapat kami berikan kepada orang Jawa baik kepada orangtua kami, kerabat kami, maupun pengusaha kami sendiri. Sesungguhnya kami tidak sedang hati menunjukkan rasa hormat dengan cara seperti itu kepada orang asing, dan yang kami lakukan ini sungguh bertentangan dengan keinginan kami, namun cara itu dibutuhkan"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
12. "Aku tidak pernah mengizinkan perempuan yang lebih tua dariku, meskipun status sosial lebih tinggi, untuk menunjukkan kepadaku sebuah kehormatan yang sebetulnya menjadi hakku. Aku tahu mereka ingin; meskipun aku jauh lebih mudah dari mereka, aku keturunan bangsawan yang sangat mereka hormati, dan untuk kamulah mereka akan mengorbankan hidup dan harta bendanya.
Sungguh menyentuh bagaimana orang-orang yang rendah hati ini berbakti kepada penguasa mereka. Sangat menyakitkan melihat orang - orang yang lebih tua dariku merangkak di antara debu di lantai di depanku"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
13. "Banyak orang Eropa di sini yang sangat risau ketika orang - orang Jawa - bawahan mereka - secara bertahap mendidik mereka sendiri, dan terkadang muncul orang berkulit cokelat yang menunjukkan diri telah memiliki seperangkat otak yang sama baiknya di kepala dan di hati di dalam tubuhnya seperti orang kulit putih"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
14. "Tapi lakukanlah apa yang kalian suka, kalian tidak akan pernah bisa menahan arus waktu"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
15. ".... Tetapi ada juga sangat, sangat banyak yang memusuhi kami tidak lain lantaran kami berani bersaing dengan mereka dalam hal pendidikan dan budaya. Mereka menjelaskan hal ini kepada kami dengan cara yang sangat menyakitkan. 'Saya orang Eropa, kamu Jawa' atau dengan kata lain 'Saya lah penaklukmu, kalian yang ditaklukkan'. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali kami diajak bicara dalam bahasa Melayu yang patah-patah meskipun orang itu tahu betul bahwa kami bisa bicara bahasa Belanda."
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
16. "Mengapa begitu banyak orang Belanda merasa tidak nyaman berbicara dengan kami dalam bahasa mereka sendiri? Ah, sekarang aku tahu, bahasa Belanda terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut cokelat"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
17. "Oh! Sekarang aku mengerti mengapa ada penentangan terhadap pendidikan untuk orang Jawa. Ketika mendapatkan pendidikan, orang-orang Jawa tidak akan lagi mengatakan 'ya' dan 'amin' untuk segala sesuatu yang dipulihkan atasannya yang dipaksakan kepadanya"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
18. "Itu sama halnya dengan gerakan perempuan yang kamu aksikan: orang Jawa sedang mengemansipasikan diri sendiri. Dan dengan cara yang sama seperti kalian para perempuan dan gadis ditentang oleh mereka yang merasa telah menjadi tuan selama beradab-abad, di sini orang Jawa sedang dihambat perkembangannya oleh tuan-tuan mereka"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
19. "Dan ketika pertempuran untuk emansipasi pria sedang berlangsung, maka para perempuan pun akan bangkit. Orang-orang yang malang, betapa banyak yang harus kalian tanggung"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
Foto Kartini, Kardinah dan Roekmini di Semarang tahun 190220. "Baru-baru ini aku membaca: 'Jangan menolak, hai para tetua, segala sesuatu yang baru. Ingat segala sesuatu yang sekarang sudah usang adalah pernah menjadi baru pada zamannya' (Aku mengutip dari ingatanku).
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
21. "Dan saya sendiri akan belajar menjadi seorang guru, agar bisa mengajar para calon ibu itu, tak hanya mengajarkan intelektualitas, tapi juga cinta dan keadilan seperti yang kami pelajari dari orang-orang Eropa"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
22. "Apa gunanya jika laki-laki terpaksa menyisihkan sejumlah uang ketika perempuan yang mengatur rumah tangga tidak tahu nilai uang? Pemerintah ingin mendidik orang Jawa, membudayakan mereka dan sebagai permulaan memaksa para pejabat kelas atas, yang tidak lain adalah bangsawan, belajar bahasa Belanda. Latar pendidikan para calon kini menjadi kriteria dalam membuat pengangkatan.Tetapi apakah pendidikan intelektual adalah segalanya?
Jika seseorang ingin benar-benar beradab, pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
23. "Bangsawan lebih suka menderita kemiskinan dan kesengsaraan dibandingkan kaya tapi harus berkerja tanpa payung berukir emas di atas kepala terhormat mereka"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
24. "Saat nanti kami telah menyelesaikan studi dan kembali ke Jawa, kami akan membuka sekolah asrama untuk putri-putri bangsawan, yang ditanam pemerintah jika memungkinka; jika tidak kami akan mencoba mendapatkan dukungan pribadi, mungkin melalui lelang atau semacamnya"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
25. "Teman-teman yang terkasih, bantu kami untuk pergi dari sini, untuk bekerja mewujudkan ide-ide kami. Sebuah awal akan dibuat untuk mengakhiri ketidakadilan besar yang telah membuat hati ribuan perempuan dan anak-anak berdarah"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
26. "'Orang-orang bodoh yang malang' saya mendengar Anda berkata, 'apakah kamu mencoba untuk mengguncang gedung raksasa itu, merobohkannya sendiri?' Ya, kami akan mengguncangnya, Moedertje, dengan sekuat tenaga. Bahkan jika hanya hanya satu batu yang copot, kami tidak akan menganggap hidup kami sia-sia"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
Foto Kartini, Raden Adipati Djojoadiningrat, Soematri, Roekmini dan Kartinah di Rembang.27. "Perjuangan kami bukan untuk melawan laki-laki, tapi melawan kepercayaan warisan lama, adat, yang tidak lagi cocok untuk Jwa di masa depan; ini adalah perjuangan di mana ada beberapa orang lain, bersama-sama dengan kami, akan menjadi pelopor"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
28. "Persahabatan antara perempuan yang belum menikah dan laki-laki yang sudah menikah maupun belum menikah dianggap sama sejak tidak dapat diterima. Nanti saat kami sudah memancarkan keberdikarian, kami akan melakukannya. Masku mengenal mereka semua, baik secara pribadi maupun melalui korespondensi. Kami tahu ada lelaki yang menghargai perempuan yang berpendidikan dan berpikir"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
29. "Saya pernah mendengar seorang laki-laki, seorang pejabat pribumi berposisi tinggi mengatakan bahwa istri yang terpelajar dan beradab akan menjadi pendamping yang hebat"
(Surat untuk Stella Zeehandelaar, 13 Januari 1900)
30. "Moedertje, dapatkan anda membayangkan sesuatu yang lebih mengerikan daripada orang yang apatis?
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900
31. "Sungguh mengerikan merasakan energi untuk bekerja dan semangat untuk bekerja di satu tempat, namun ditakdirkan menjadi pengangguran"
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900)
32. "Tentu kami ingin mencintai dan berharap diri kami dicintai, tapi hanya sekali dan oleh satu orang"
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900)
33. "Betapa indahnya cinta. Ini adalah surga dan neraka bersama. Mencintai dan menghormatinya adalah satu-satunya kebutuhan hidup kita, dan merupakan bagian terbesar dari kebahagian kita. Tanpa cinta, selamanya akan ada bayangan di atas hidup kita. Kami ingin menerima kebahagian kami dari tangannya.
Tanpa cinta kita sendiri, kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya bahagia, dan dengan cintanya tidak pernah kita sepenuhnya bahagia"
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900)
34. ".... Lebih baik hidup penuh perjuangan dari pada hidup tanpa cita-cita"
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, 13 Agustus 1900)
35. "Tujuan Tuhan untuk kita akan selalu baik-hidup kita adalah berkat, bukan cobaan. Kita, manusia sendirilah yang sering menjadikannya rintangan:
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, 13 Agustus 1900)
36. "Sayangnya ada begitu banyak orangtua dan tidak peka dan anak-anak yang tidak tahu berterima-kasih (sayangnya yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama) di dunia ini, sehingga bagi kami, begitu sangat menyegarkan mendengar cerita tentang orangtua yang sepenuhnya terlibat dalam perkembangan anak-anak mereka dan tentang anak-anak yang mencintai orangtua mereka, dan khususnya yang mengikhlaskan ibu mereka seperti John, diri dan Doppie, memuja satu-satunya Moedertje mereka.
Kami tidak akan percaya bahwa laki-laki yang mencintai ibu mereka bisa menjadi jahat Tampaknya mustahil bagi kami"
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, 13 Agustus 1900)
37. "Baiklah, jika kami tidak pergi ke Belanda, bisakah saya pergi ke Batavia untuk belajar menjadi dokter? Apa jawaban Romo dapat bisa kami simpulkan secara singkat sebagai berikut: bahwa saya tidak oleh lupa kalau saya adalah orang Jawa, bahwa sekarang belum memungkinkan untuk saya pergi ke arah itu-akan berbeda dalam 20 tahun ke depan- tapi sekarang tidak mungkin tanpa menanggung beban yang sulit 'karena saya akan menjadi perintis'. Romo harus berpikir matang dan keras tentang masalah ini, mendiskusikannya dengan yang dan menerima banyak nasihat"
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900)
39. "Masih menjadi pertanyaan apakah Sekolah Pribumi Perempuan benar-benar akan didirikan, tapi saya tidak putus asa tentang hal itu; beberapa tanda menunjukkan berbagai hal, jika tidak bisa disebut banyak, bahkan orang-orang berpengaruh di negeri ini dengan sungguh-sungguh berusaha untuk membangkitkan dunia pribumi dan membawa 'cahaya' ke dalam dunia perempuan Pribumi untuk mengangkat keluar dari kondisi tragis yang selama ini mereka alami"
(Surat untuk Mevrouw Ovink-Soe, Agustus 1900)
40. "Saya selalu berpikir tentang nasib perempuan, saya sangat prihatin dengan kondisinya, tidak diakui dan tertindas sebagaimana masih banyak terjadi di berbagai bangsa meski kita sudah memasuki zaman pencerahan ini, saya akan membela mereka dengan senang hati dan gagah berani"
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)
41. "Angkatlah kami dari kolam kemurungan dan kesengsaraan di mana egoisme laki-laki telah menjatuhkan kami dan membuat kami tenggelam. Bantu kami untuk memerangi keakuan kaum laki-laki yang tak menghargai apapun, iblis yang slama berabad-abad telah menyiksa, menjebak perempuan, sehingga saking terbiasanya dengan perlakuan buruk yang dilakukan terhadap mereka, tidak bisa lagi melihat ketidakadilan yang terjadi di dalamnya, menganggap penaklukan mereka dengan penuh ketabahan sebagai hak laki-laki, sebagai warisan penderitaan setiap perempuan:
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)
42. "Saya memang masih muda, tetapi tidak tuli atau buta, dan saya telah mendengar juga banyak, bahkan mungkin terlalu banyak, yang membuat hati saya menggelika kesakitan, yang menyapu saya dalam pemberontakan yang membara, melawan tradisi yang mengakar kuat nan menjadi kutukan untuk para perempuan dan anak"
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)
43. ".... Setelah mata mereka terbiasa dengan cahaya dan keindahan matahari, lantas langsung mencintai matahari dan pemandangan indah dari dunia yang tercerahkan, namun mereka kini sedang berada di titik di mana kebutaan menutupi mata mereka kembali, didorong kembali di dalam kegelapan dari mana mereka datang dan di mana masing-masing dari setiap nenek moyang mereka tinggal! "
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)
44. "... Bukan hanya buku-buku yang membuat mereka memberontak-mereka membenci kondisi yang telah ada sejak dahulu kala dan yang merupakan kutukan - sebuah kutukan bagian setiap perempuan dan gadis! Kerinduan akan kebebasan, keberdikarian, dan emansipasi, tidak lahir dalam beberapa hari terakhir, tetapi sudah di masa mudanya yang paling awal, ketika emansipasi masih merupakan kata yang tidak dikenalnya, dan buku-buku juga terbitan-terbitan yang membawa masalah-masalah seperti itu masih jauh di luar jangkauan, keinginan itu lahir dari salah satu saudara itu; dengan segera dan cakrawala yang lebih jauh masuk ke dalam kehidupannya"
(Surat untuk Mevrouw Abendanon-Mandri, Agustus 1900)
Surat-surat ini membuktikan bahwa Kartini adalah seorang visioner. Ia tidak hanya menginginkan hak untuk sekolah, tetapi juga menggugat ketidakadilan sistemik yang menghambat kemajuan bangsanya. Lewat tulisan, ia telah menanamkan benih keberanian yang hingga kini masih terus tumbuh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang