Aprizal Pecah Telur di Usia 30 Tahun, Akhiri Penantian Panjang dengan Perak SEA Games 2025

Pesenam Indonesia Muhammad Aprizal Raih Perak di SEA Games 2025
Pesenam Indonesia Muhammad Aprizal Raih Perak di SEA Games 2025

 Muhammad Aprizal akhirnya menutup penantian delapan tahun dengan raihan medali perdananya di SEA Games. Pesenam putra Indonesia itu merebut perak pada nomor gelang-gelang SEA Games 2025 Thailand yang berlangsung di Gymnasium 5, Thammasat University Rangsit Campus, Kamis.

Bagi Aprizal, hasil ini bukan sekadar pencapaian biasa. Setelah memulai debut di SEA Games 2017 dan melalui perjalanan yang penuh pasang surut, podium edisi 2025 menjadi titik balik kariernya. Ia membukukan nilai 12.900 dan berada tepat di belakang pesenam Vietnam Nguyen Van Khanh yang merebut emas dengan skor 13.767. Adapun perunggu diamankan pesenam Filipina, De Leon Justine Ace, dengan 12.700.

Aprizal tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian yang sudah lama ia tunggu. Ia menuturkan bahwa medali perak ini menjadi jawaban dari penantian panjangnya sejak pertama kali tampil di SEA Games 2017. Pada usianya yang kini 30 tahun, ia menyadari bahwa banyak pihak menilai perjuangannya untuk kembali ke level tertinggi bukan hal mudah, sehingga podium kali ini terasa jauh lebih berharga baginya.

Perak yang diraih di Negeri Gajah Putih ini terasa sangat spesial. Aprizal mengakui bahwa dirinya sempat kesulitan tampil maksimal dalam berbagai kesempatan sebelumnya karena tekanan mental saat bertanding. Menurutnya, kali ini ia memilih tampil lebih rileks, tanpa memasang target muluk, demi mengurangi beban pikiran.

Ia menuturkan bahwa sebelumnya ia kerap gugup sehingga tidak bisa menampilkan kemampuan terbaiknya. Namun hari ini ia mencoba berpikir sederhana, bahwa jika tidak mendapat hasil, mungkin belum rezekinya.

Perubahan mindset itu menjadi titik balik. Aprizal menilai dukungan kuat dari Federasi Gimnastik Indonesia berperan besar dalam kebangkitannya. Ia mengungkapkan bahwa federasi tetap percaya dan memberinya kesempatan kembali memperkuat timnas, meskipun ia sempat vakum cukup lama dan absen dari pemanggilan sejak terakhir kali tampil di Pelatnas pada SEA Games 2019.

Mendapat kepercayaan kedua, Aprizal menebusnya dengan kerja keras. Ia mengakui usianya yang tak lagi muda membuat proses latihan lebih berat dan penuh dinamika. Drama demi drama ia lalui, namun dukungan pelatih membuatnya tetap bertahan.

Ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada pelatih daerah dan seluruh staf yang terus mendorongnya, meski ia kerap merasa lelah secara fisik maupun mental.

Menjelang tampil, Aprizal sempat dilanda gugup. Tetapi arahan pelatih agar tetap tenang dan fokus mengerjakan gerakan satu per satu membuatnya kembali mengontrol situasi. Ia mengatakan bahwa rasa nervous tetap ada karena ini adalah ajang besar dan medali pertama yang ia raih sejak berkarier di level regional.

“Sebelumnya kendalanya memang belum bisa menampilkan yang terbaik, mungkin karena nervous juga. Tadi saya mikirnya kalau nggak dapat ya sudah, mungkin belum rezekinya,” ujarnya.

Setelah berhasil mengunci perak bersejarah ini, Aprizal enggan memasang rencana jauh soal masa depan kariernya. Ia mengaku ingin menjalani segala sesuatu secara mengalir, terlebih karena kualitas dan kesiapan menuju SEA Games berikutnya masih belum bisa ia pastikan. Proses menuju kompetisi besar, menurutnya, sangat berat dan penuh tantangan.

Dengan pencapaian perdananya ini, Aprizal menjadi gambaran nyata bahwa perjalanan panjang dan penuh hambatan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Di tengah persaingan ketat dan tuntutan fisik cabang senam, kesabarannya akhirnya terbayar di usia yang bagi sebagian atlet sudah memasuki masa senja karier.