Lebih dari 75 Persen Rumah Kini Tak Terjangkau, Ini Biang Keroknya!
Krisis keterjangkauan perumahan di Amerika Serikat (AS) semakin melebar dan menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan harga rumah yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan, membuat kepemilikan rumah kini terasa semakin tidak realistis.
Banyak keluarga harus menunda impian membeli rumah, sementara biaya hidup terus meningkat. Di berbagai kota besar, kesenjangan antara pendapatan dan harga rumah membuat pasar menjadi semakin eksklusif.
Para ahli menyebut situasi ini sebagai ancaman bagi keberlanjutan “American Dream”. Sebab rumah bukan hanya tempat tinggal tetapi juga aset penting pembentukan kekayaan jangka panjang.
Namun, minimnya pembangunan rumah terjangkau selama bertahun-tahun membuat masyarakat kian kesulitan mengejar harga yang melonjak. Laporan terbaru Bankrate menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan, di mana lebih dari 75 persen rumah di seluruh AS tidak lagi terjangkau bagi rumah tangga rata-rata.
Bankrate menetapkan sebuah rumah sebagai “terjangkau” jika biaya perumahan tahunan tidak melebihi 30 persen pendapatan rumah tangga. “Hanya sebagian kecil rumah yang masih terjangkau bagi rumah tangga tipikal. Pada titik ini, kepemilikan rumah mulai terasa bukan lagi tonggak umum kelas menengah, melainkan sebuah kemewahan,” ungkap Analis Data Bankrate Alex Gailey, sebagaimana dikutip dari CBS News, Kamis, 11 Desember 2025.
Ilustrasi KPR.
Kelangkaan pasokan rumah terjangkau menjadi salah satu pemicu utama. “Kondisi ini membuat rumah tangga rata-rata memiliki jauh lebih sedikit pilihan rumah yang mampu mereka beli, dan kita tidak membangun pada tingkat yang seharusnya,” papar Gailey.
Data National Association of Realtors menunjukkan bahwa pada tahun lalu hanya 24 persen penjualan rumah berasal dari pembeli rumah pertama. Jumlah ini merosot drastis dibandingkan 50 persen pada tahun 2010. Sementara itu, analisis Zillow menyebut Amerika Serikat membutuhkan 4,7 juta unit rumah tambahan untuk memenuhi permintaan.
Pendapatan median rumah tangga di AS pada 2024 setelah disesuaikan inflasi mencapai sekitar US$84.000 atau setara Rp1,39 miliar. Namun angka ini jauh dari pendapatan yang dibutuhkan untuk membeli rumah tipikal, yaitu sekitar US$113.000 atau Rp1,88 miliar per tahun. Harga rumah median pun mencapai US$435.000, setara Rp7,22 miliar.
Kondisi lebih buruk terjadi di kota-kota termahal seperti New York, San Francisco, dan Seattle, di mana rumah tangga harus berpenghasilan minimal US$200.000, atau sekitar Rp3,32 miliar per tahun untuk mampu membeli rumah median.
Berdasarkan data Federal Reserve Bank of St. Louis, tingkat kepemilikan rumah di AS pada 2025 berada di kisaran 65 persen, turun dari puncaknya lebih dari 69 persen pada 2004.