Temuan Strava bikin Kaget: Ada Riau, Banten hingga Yogyakarta
Strava, aplikasi gaya hidup aktif, merilis edisi ke-12 laporan tahunan Year In Sport: TrenD (“Tahun Olahraga: Laporan Tren”).
Laporan tersebut menyoroti pergeseran nyata di kalangan generasi muda dalam menjalin koneksi dimana mereka memilih menghabiskan lebih sedikit waktu di depan layar dan lebih banyak bergerak di dunia nyata.
Dengan menganalisis miliaran aktivitas dari komunitas global Strava dan hasil survei terhadap lebih dari 30.000 responden (yang terdiri dari pengguna dan bukan pengguna Strava), laporan ini menemukan tren yang jelas, yakni Gen Z mulai beralih dari kebiasaan pasif seperti scrolling di media sosial menuju kegiatan yang aktif.
Di sepanjang tahun ini, Gen Z menunjukkan bagaimana mereka bergerak, berlari, dan berlomba di berbagai jarak. Mereka juga menemukan kebersamaan dan koneksi lewat klub lari, sementara angkat beban membantu mereka untuk tampil dan merasa lebih baik.
Mereka juga mengungkapkan prioritas yang kini berubah: menempatkan aktivitas fisik sebagai hal utama, bahkan saat berlibur, serta mengalokasikan pengeluaran lebih banyak untuk kebutuhan kebugaran dibandingkan untuk kencan.
Pada 2025, pengguna Strava dari berbagai generasi memanfaatkan aplikasi ini untuk menjalin koneksi dan merayakan progres mereka, dengan total 14 miliar kudos dibagikan.
Pengguna Strava juga terus menjelajahi dunia bersama, menghabiskan satu jam aktivitas fisik untuk setiap dua menit penggunaan aplikasi.
“Lebih dari setengah Gen Z berencana untuk lebih sering menggunakan Strava pada 2026, sementara sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa penggunaan Instagram dan TikTok akan tetap sama atau justru berkurang,” ujar Kepala Eksekutif Strava Michael Martin, melalui keterangan resminya, Jumat, 5 Desember 2025.
Ia melihat Gen Z mencari pengalaman nyata, bukan waktu layar yang lebih panjang. Mereka sedang membentuk ulang tatanan hidup, dan kami berkomitmen membangun platform untuk menjaga para pengguna tetap terhubung dan bergerak bersama di masa yang akan datang.
Kota vs. Kota: Peringkat 2025
Dari kota metropolitan yang serba cepat hingga kota di mana komunitas menjadi yang terpenting, data global Strava mengungkap kota-kota yang mendominasi papan peringkat di 2025.
Uri, Swiss, merebut posisi teratas sebagai lokasi paling Instagramable, dengan 42 persen aktivitas menyertakan foto. Cuaca sama sekali tak menghalangi pengguna Strava yang berdedikasi.
Di Kepulauan Riau, Indonesia, mereka tetap aktif meski panas terik, sementara di Greater Reykjavík, Islandia, aktivitas terus berlangsung di tengah suhu yang sangat dingin.
Sulawesi Utara jadi wilayah paling aktif di Indonesia dengan median langkah harian terbanyak secara nasional (5.392 langkah), disusul Banten (5.342) dan Sulawesi Selatan (5.308) yang juga menunjukkan tingkat aktivitas harian yang tinggi.
Gaya Berjalan di Indonesia: Kecepatan vs Jarak jauh
Sulawesi Tenggara memimpin sebagai wilayah dengan pejalan kaki tercepat di Indonesia dengan pace rata-rata 00.12.37/km, disusul Sulawesi Utara (00.12.44/km) dan Sumatera Selatan (00.12.48/km).
Namun, soal jangkauan, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi juara dengan jarak rata-rata 3,9 km per sesi, disusul oleh Gorontalo (3,7 km) dan Sulawesi Tengah (3,6 km).
Walau masyarakat di setiap wilayah punya ritmenya masing-masing, mereka tetap kompak untuk sama-sama aktif bergerak.
Secara global, Copenhagen, Denmark, merebut gelar area metro tercepat dengan kecepatan lari rata-rata mencapai 8:52 menit per mil, sementara pengguna di Afrika Selatan dan Kolombia paling sering berlari dalam kelompok (18,5 persen).
Data kota-kota global juga menunjukkan perbedaan mencolok dalam waktu latihan: Yogyakarta, Indonesia, memiliki paling banyak pengguna yang bergerak di pagi hari, dengan 55,4 persen aktivitas dilakukan antara pukul 4–7 pagi.
Sementara itu, Seoul, Korea Selatan, menjadi kota dengan pengguna yang paling banyak bergerak di malam hari, dengan 11 persen aktivitas setelah pukul 9 malam.