Fenomena Penumpang Menginap, Perlukah KRL Beroperasi 24 Jam? Ini Kata Pengamat

Stasiun Cikarang, Stasiun Rangkasbitung, Joni Martinus, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Fenomena Penumpang Menginap, Perlukah KRL Beroperasi 24 Jam? Ini Kata Pengamat

Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menilai wacana pengoperasian kereta rel listrik (KRL) selama 24 jam memerlukan kajian lebih dalam.

Pernyataan tersebut disampaikan Joni menanggapi fenomena penumpang yang menginap di Stasiun Cikarang demi mengejar kereta pertama keesokan harinya.

Fenomena ini juga sudah ditanggapi Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhi yang membuka kemungkinan penambahan jam operasional KRL.

“Saat ini opsi tersebut perlu kajian yang lebih mendalam. Semua pihak pemangku kepentingan, mulai dari Kemenhub, KAI, KCI, serta stakeholder lainnya, perlu duduk bersama,” ujar Joni dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (19/11/2025).

“Karena harus mempertimbangkan dari berbagai aspek,” tambahnya.

Aspek yang Perlu Dikaji

Joni menyebutkan ada dua aspek utama yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan pengoperasian KRL selama 24 jam.

1. Aspek perawatan dan pemeliharaan

Menurut Joni, waktu di luar jam operasional, baik tengah malam hingga dini hari, sangat penting dan mutlak untuk kegiatan perawatan prasarana dan sarana perkeretaapian.

Perawatan mencakup jalan rel, persinyalan, listrik aliran atas, hingga rangkaian KRL.

“Hal ini harus dilakukan oleh pihak PT KCI guna memastikan keselamatan dan keandalan KRL pada keesokan harinya," jelas Joni.

2. Aspek efektivitas dan kebutuhan penumpang

Meski ada permintaan, KCI tetap harus mempertimbangkan kondisi jumlah penumpang pada lewat tengah malam yang umumnya sudah sangat sedikit.

Hal ini berpotensi menimbulkan tantangan dari sisi efektivitas operasional maupun finansial.

“Belum lagi kebutuhan sumber daya manusia juga menjadi bahan kajian,” imbuh Joni.

Joni juga menyoroti pentingnya peningkatan keamanan bila operasional KRL benar-benar diperpanjang menjadi 24 jam.

Ia menilai KCI perlu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang yang terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu kereta pertama.

"Bagaimanapun juga mereka adalah pelanggan setia KRL dan stasiun mesti menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi pengguna KRL," ujar Joni.

Fenomena Penumpang Menginap Juga Terjadi di Stasiun Rangkasbitung

Selain di Stasiun Cikarang, juga menemukan fenomena serupa di Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Penumpang yang menginap umumnya berasal dari wilayah Serang dan sekitarnya, baik pekerja maupun mahasiswa yang bepergian menuju atau dari Jabodetabek.

Jam operasional kereta yang terbatas, khususnya KA Lokal, membuat sebagian penumpang kerap tertinggal kereta sehingga harus menginap untuk menunggu jadwal pertama keesokan harinya.

Salah satunya adalah Fajar (22), mahasiswa asal Serang yang tertinggal KA Lokal Merak.

Fajar tiba di Rangkasbitung sekitar pukul 22.00 WIB setelah naik KRL dari Palmerah, sementara KA Lokal Merak terakhir berangkat pukul 21.22 WIB.

“Sudah tahu bakal ketinggalan kereta, jadi pasrah saja. Sementara menginap di sini menunggu kereta besok pagi,” kata Fajar.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.