Cerita 2 Penumpang Rela Bermalam di Stasiun Rangkasbitung Usai Tertinggal Kereta: Uang Tinggal Rp 6.000, Taksi Online Terlalu Mahal

Stasiun Rangkasbitung, Kereta lokal Merak, PT Kereta Api Indonesia, kereta lokal merak, jadwal stasiun rangkasbitung, Cerita 2 Penumpang Rela Bermalam di Stasiun Rangkasbitung Usai Tertinggal Kereta: Uang Tinggal Rp 6.000, Taksi Online Terlalu Mahal

Bagi sebagian orang, kereta menjadi pilihan utama karena harganya yang terjangkau dan mampu menjangkau banyak daerah, termasuk bagi dua penumpang yang akhirnya harus bermalam di stasiun setelah tertinggal kereta terakhir.

Dua penumpang tersebut memutuskan tidur di stasiun bukan karena ingin berangkat lebih pagi, melainkan karena tak memiliki cukup uang untuk menggunakan transportasi lain.

Salah satunya adalah Agung (33), warga Kalianda, Lampung, yang memilih bermalam di Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak setelah tertinggal KRL terakhir tujuan Tanah Abang pada pukul 22.02 WIB.

Namun Kereta lokal Merak yang ia tumpangi baru tiba pukul 23.15 WIB. Hal ini membuat Agung tak sempat naik kereta lanjutan menuju Jakarta seperti yang direncanakan.

Ia sempat mencari alternatif transportasi untuk bisa pergi ke rumah kerabatnya di Kebayoran, namun biaya yang ditawarkan taksi online mencapai Rp 500.000.

Agung mengaku tidak sanggup membayar ongkos setinggi itu karena sejak awal memilih naik kereta dari Merak lantaran harga tiketnya paling murah.

Akhirnya, ia memutuskan menunggu di Stasiun Rangkasbitung hingga jadwal keberangkatan KRL pertama pada Kamis (6/11/2025) pukul 04.00 WIB.

Enggak tahu kalau sudah tidak ada kereta ke Kebayoran, adanya ke Parungpanjang, tetapi masih jauh sekali ke tujuan saya,” ujarnya dikutip dari , Rabu (5/11/2025),

“Bus sudah tidak ada, ada taksi online tadi dibilang tarifnya Rp 500.000 ke Jakarta, enggak mampu saya bayar,” tambahnya.

Uang Nenek Aisah Sisa Rp 6.000

Kisah serupa juga dialami Aisah (63), warga Cilegon, Banten, yang juga harus bermalam di Stasiun Rangkasbitung karena uangnya hanya tersisa Rp 6.000.

Aisah tiba di stasiun tersebut usai perjalanan panjang menggunakan KRL dari Depok, namun kereta Lokal Merak sudah berangkat lebih dulu.

“Saya bingung mau ke mana, enggak ada pilihan kendaraan lain ke Cilegon dari sini. Kayaknya mau istirahat di sini saja,” ujarnya kepada , Rabu (5/11/2025).

Ia mengaku tidak memiliki pilihan lain seperti menginap di penginapan atau memesan transportasi daring karena biayanya terlalu mahal.

Bagi Aisah, kereta tetap menjadi andalan karena ongkosnya paling murah dan sesuai dengan uang yang tersisa di dompetnya.

Uangnya yang tinggal Rp 6.000 hanya cukup untuk membayar tiket kereta Rp 3.000 dan ongkos angkot untuk sampai ke rumah.

Selain itu, ia juga tidak memiliki handphone, sehingga tidak bisa menghubungi keluarga atau meminta bantuan siapa pun.

Seperti Agung, Aisah pun berencana pulang ke Cilegon menggunakan KA Lokal Merak pada Kamis (6/11/2025). Namun, ia memilih keberangkatan kereta pukul 05.30 WIB.

Gak apa-apa, nunggu di sini saja bareng sama yang lain,” ujarnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.