Badak Jawa Musofa Mati karena Penyakit Kronis Usai Keberhasilan Translokasi dengan Amfibi TNI AL

Badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, tnuk ujung kulon, badak jawa musofa, Kendaraan amfibi TNI AL, amfibi marinir, Badak Jawa Musofa Mati karena Penyakit Kronis Usai Keberhasilan Translokasi dengan Amfibi TNI AL

Seekor Badak Jawa jantan bernama Musofa, yang sebelumnya dipindahkan dari habitat alaminya ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), akhirnya tidak dapat diselamatkan.

Musofa diketahui mengalami penyakit kronis bawaan yang sudah berlangsung lama dan tidak mampu ditangani meski mendapat perawatan intensif.

Sesampainya di JRSCA, Musofa sempat menunjukkan respons adaptasi positif. Tim medis terus melakukan observasi ketat selama masa habituasi di kandang rawat.

Namun pada 7 November 2025, kondisi klinisnya mendadak memburuk. Prosedur penanganan darurat segera dilakukan, tetapi nyawa Musofa tidak dapat diselamatkan.

Hasil nekropsi yang dilakukan tim patologi IPB University menunjukkan adanya gangguan kronis pada lambung, usus, dan otak, serta infeksi parasit dalam jumlah signifikan.

Ditemukan pula luka lama akibat perkelahian di alam, meski bukan sebagai penyebab utama kematiannya.

Temuan ini menegaskan adanya tantangan kesehatan serius yang kemungkinan telah dialami Musofa jauh sebelum translokasi.

Mengapa Translokasi Musofa Menjadi Tahap Penting Konservasi?

Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, menjelaskan bahwa translokasi Musofa merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat populasi Badak Jawa di alam.

Operasi ini melibatkan pakar konservasi dalam dan luar negeri, tim medis satwa liar, Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta berbagai mitra konservasi.

Translokasi menjadi kebutuhan mendesak karena keragaman genetik Badak Jawa semakin menurun.

Penelitian IPB University menunjukkan bahwa populasi Badak Jawa hanya memiliki dua haplotype, dengan tingkat inbreeding mencapai 58,5 persen untuk haplotype 1 dan 6,5 persen untuk haplotype 2.

Kondisi ini membuat spesies semakin rentan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan jangka panjang.

Ardi mengatakan seluruh prosedur translokasi telah mengikuti standar konservasi internasional.

"Seluruh prosedur dilaksanakan sesuai standar konservasi internasional, dengan simulasi, penilaian etik, serta kesiapan logistik dan pengamanan. Musofa dipindahkan tanpa luka atau cedera, namun penyakit kronis yang lama diderita menjadi tantangan medis yang tidak dapat diatasi," ujarnya melalui keterangan resminya.

Badak Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, tnuk ujung kulon, badak jawa musofa, Kendaraan amfibi TNI AL, amfibi marinir, Badak Jawa Musofa Mati karena Penyakit Kronis Usai Keberhasilan Translokasi dengan Amfibi TNI AL

Translokasi Badak Jawa dengan Kendaraan Amfibi TNI AL

Bagaimana Proses Translokasi Dilaksanakan?

Translokasi Musofa dikenal sebagai bagian dari Operasi Merah Putih, sebuah operasi konservasi berskala besar yang melibatkan Kementerian Kehutanan, TNI, dan Yayasan Badak Indonesia (YABI).

Operasi ini merupakan momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya seekor Badak Jawa ditranslokasi ke kawasan konservasi khusus.

Sebelum pelaksanaan lapangan, tim menggelar Tactical Floor Game (TFG) pada 25 September 2025 di Jakarta untuk memetakan seluruh skenario operasional, mulai dari rute evakuasi, pembagian peran, hingga mitigasi risiko.

Salah satu aspek teknis paling penting adalah penggunaan kendaraan amfibi KAPA K-61 Marinir TNI AL yang mampu melintasi jalur ekstrem TNUK.

Pada 3 November 2025, Musofa berhasil masuk ke pit trap setelah pemantauan intensif. Proses pemindahan dimulai keesokan harinya, melewati jalur hutan yang sempit dan licin menuju titik penjemputan amfibi KAPA K-61.

Pada 5 November, perjalanan laut dilanjutkan menuju Legon Pakis, sebelum Musofa akhirnya tiba di JRSCA pada pukul 18.20 WIB.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang