Waspadai Kaki Mati Rasa, Bisa Jadi Awal Komplikasi Berat Penyakit Diabetes

Ilustrasi kaki.
Ilustrasi kaki.

Diabetes melitus masih menjadi salah satu penyakit kronis dengan jumlah kasus yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai “silent killer” karena gejalanya sering tidak disadari hingga muncul komplikasi serius. 

Salah satu komplikasi yang patut diwaspadai adalah kaki diabetes, kondisi yang dapat berujung pada amputasi jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Pondok Indah (RSPI) – Puri Indah, mengatakan, diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai kerusakan organ, termasuk saraf dan pembuluh darah di area kaki. Kondisi inilah yang menjadi pintu masuk terjadinya luka kronis hingga infeksi berat.

“Diabetes melitus, atau yang lebih dikenal dengan diabetes, jika tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, salah satunya adalah kaki diabetes yang dapat berujung amputasi jika tidak ditangani dengan tepat, segera,” kata dr. Wirawan saat temu media di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Diabetes melitus sendiri merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi keduanya. Penyakit ini terbagi dalam beberapa tipe, yaitu tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, serta tipe spesifik lain yang berkaitan dengan penyebab tertentu seperti kelainan genetik atau efek obat-obatan.

Pada tahap awal, gejala diabetes sering kali tidak spesifik. "Beberapa tanda yang umum antara lain penurunan berat badan tanpa sebab jelas, sering merasa lapar (polifagia), sering buang air kecil (poliuria), dan mudah haus (polidipsia). Namun, banyak penderita tidak menyadari kondisi ini hingga terjadi komplikasi," jelasnya. 

Salah satu komplikasi jangka panjang yang paling sering terjadi adalah kaki diabetes atau Diabetic Foot Ulcer (DFU). Diperkirakan, sekitar 15 persen pasien diabetes mengalami kondisi ini, dan sekitar 85 persen kasus amputasi tungkai bawah berkaitan dengan diabetes.

“Diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf (neuropati diabetik) dan penurunan sirkulasi darah di kaki, sehingga membuat kaki rentan terkena infeksi dan luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh,” ungkap dr. Wirawan. 

Kerusakan saraf perifer membuat kaki menjadi kebas atau mati rasa. Akibatnya, penderita tidak merasakan nyeri saat terjadi luka kecil, lecet, atau tertusuk benda tajam. Luka yang tidak terasa ini sering kali diabaikan dan terus mendapat tekanan saat berjalan, sehingga membesar dan berisiko terinfeksi.

Selain neuropati, diabetes juga dapat menyebabkan gangguan saraf otonom yang membuat kulit kaki menjadi sangat kering dan mudah pecah-pecah. Celah kecil pada kulit dapat menjadi pintu masuk kuman. Di sisi lain, penyempitan pembuluh darah atau Peripheral Artery Disease (PAD) membuat aliran darah ke kaki berkurang, sehingga luka sulit sembuh karena kekurangan oksigen dan nutrisi.

“Kaki diabetes atau luka kaki pada penderita diabetes bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba. Prosesnya terjadi perlahan, sering kali tanpa disadari, akibat kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama.”

Dalam kasus yang lebih berat, dapat terjadi perubahan bentuk kaki akibat kerusakan tulang dan sendi yang dikenal sebagai Charcot foot. Perubahan ini menimbulkan titik-titik tekanan baru saat berjalan, sehingga meningkatkan risiko luka berulang.

Menurut dr. Wirawan, kombinasi gangguan saraf dan gangguan aliran darah menjadi faktor utama terjadinya luka kronis pada kaki penderita diabetes. “Kaki diabetes merupakan komplikasi serius yang dapat berujung pada amputasi jika tidak ditangani dengan tepat. Kombinasi gangguan saraf dan gangguan aliran darah menjadi faktor utama terjadinya luka yang sulit sembuh.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, deteksi dini dan pengelolaan gula darah yang baik menjadi langkah krusial dalam mencegah amputasi. Penanganan kaki diabetes memerlukan pendekatan multidisiplin yang meliputi kendali metabolik, kendali infeksi, perawatan luka, hingga intervensi vaskular bila diperlukan.

Edukasi pasien juga memegang peranan penting, termasuk pemeriksaan kaki secara rutin, menjaga kebersihan dan kelembapan kulit, serta menggunakan alas kaki yang sesuai.