Brigade Pangan Dibentuk, Milenial dan Gen Z Didorong Jadi Motor
Ia menegaskan pentingnya optimalisasi seluruh area pertanian dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, seluruh wilayah pertanian harus dioptimalkan melalui pembentukan brigade pangan.
“Brigade pangan dibentuk untuk memperkuat pengelolaan sawah. Kita ingin anak muda (milenial dan Gen Z) terlibat dan menjadi motor penggerak peningkatan produksi. Semua harus bergerak agar apa yang menjadi visi Presiden Prabowo bisa kita realisasikan dalam waktu cepat,” kata Mentan.
Sementara itu, Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Ali Jamil menyebut berbagai program percepatan tanam sejauh ini telah memberikan hasil nyata.
Di antaranya Nilai Tukar Petani atau NTP yang mencapai 124,36 atau tertinggi sepanjang sejarah.
Selain itu PDB pertanian naik menjadi 13,83 persen dan ekspor pertanian melonjak 42,19 persen.
Ia juga mengatakan apabila mengacu pada proyeksi BPS hingga akhir 2025, produksi beras nasional diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, dengan potensi surplus 4,15 juta ton.
Namun, Ali Jamil menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat semua berpuas diri.
"Keberlanjutan produksi adalah tugas kita bersama. Kita harus menjaga, merawat, dan terus menerus memperluas capaian. Swasembada harus kita capai dalam waktu dekat sesuai arahan Presiden Prabowo," jelas dia.
Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Petanian (Pusat PVTPP) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Luas Tambah Tanam (LTT) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kepala Pusat PVTPP Leli Nuryati mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pengawalan program LTT untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
Langkah nyata tersebut diharapkan memberi kontribusi nyata terhadap capaian kinerja Kementerian Pertanian secara nasional, khususnya dalam percepatan swasembada beras.
“Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan LTT. Diharapkan, kegiatan tersebut memberikan manfaat luas, memperkuat sinergi lintas sektor, serta mendorong percepatan capaian swasembada pangan di Kabupaten Sukabumi,” ungkapnya.
Sukabumi dikenal dengan istilah Gurillapss karena bentang geografisnya yang luar biasa sehingga menjadi modal kuat dalam mengembangkan sektor agroindustri.
Selain potensi alam, kekuatan lain terletak pada tingginya partisipasi petani.
Hingga saat ini, Sukabumi memiliki lebih dari 4.000 kelompok tani aktif yang menjadi ujung tombak pengembangan pertanian dan penguatan ketahanan pangan daerah.