Sejarah Jembatan Gladak Perak yang Pernah Runtuh Diterjang Erupsi Semeru 2021
Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB kembali mengancam kawasan Besuk Sat dan Jembatan Gladak Perak yang menjadi jalur utama Malang–Lumajang.
Status Gunung Semeru juga langsung naik dari Level II (Waspada) ke Level IV (Awas) hanya satu jam setelah erupsi.
Awan panas terpantau menerjang Jembatan Gladak Perak sehingga mengingatkan publik pada sejarah jembatan sebagai akses vital di jalur selatan yang menghubungkan Malang dan Lumajang.
Gunung Semeru erupsi pada Rabu (19/11/2025).
Lokasi dan Fungsi Jembatan Gladak Perak di Jalan Lintas Selatan
Jembatan Gladak Perak berlokasi di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Juga dikenal sebagai Jembatan Besuk Kobokan, jembatan ini menjadi salah satu infrastruktur penting di jalur nasional lintas selatan.
Masyarakat setempat lebih mengenal jembatan ini sebagai Gladak Perak karena menjadi akses penghubung vital antara Malang dan Lumajang.
Rangka jembatan berwarna merah-putih tampak mencolok di ruas Jalan Raya Dampit–Lumajang yang melintasi Pronojiwo menuju Candipuro.
Sejarah Jembatan Gladak Perak
Jembatan Gladak Perak memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda dan sempat beberapa kali dibangun ulang. Berikut adalah ringkasan sejarahnya.
Jembatan Gladak Perak pada Masa Kolonial
Dilansir dari , Jembatan Gladak Perak lama dibangun pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1925-1940.
Dalam sejarahnya, sejarah wilayah Lumajang yang turut menjadi sasaran Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 berdampak pada keberadaan jembatan tersebut.
Untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda, Zeni Pioneer 22 Jatiroto dari batalion tempur TNI AD meledakkan jembatan itu.
Setelah kondisi wilayah mulai stabil, jembatan lama kemudian dibangun kembali dan difungsikan lagi pada 1952.
Jembatan lama ini dikenal pula sebagai Jembatan Piket Nol atau Jembatan Pancing dengan lebar sekitar 4 meter dan panjang 100 meter.
Sebutan Jembatan Pancing muncul karena banyak warga memancing di sekitar lokasi tersebut.
Pembangunan Jembatan Gladak Perak di Tahun 1998
Jembatan baru yang berdiri di sisi selatan jembatan lama dibangun dengan pondasi beton bertulang pada 1998.
Panjang jembatan mencapai sekitar 130 meter dan tampak lebih kokoh dibanding jembatan lama.
Sayangnya, pada 4 Desember 2021, jembatan ini hancur diterjang banjir lahar setelah erupsi Gunung Semeru.
Erupsi tersebut juga meruntuhkan Gladak Perak lama yang dibangun era kolonial.
Jembatan Gladak Perak lama yang dibangun pada 1925-1940 hancur akibat diterjang lahar saat Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021.
Dilansir dari Antara, sebelum hancur, kedua jembatan itu berjajar di atas Sungai Besuk Sat dan membentuk lanskap khas di kawasan tersebut.
Jembatan lama berada di sisi utara dan tidak lagi dipergunakan untuk lalu lintas sejak jembatan baru berdiri.
Bangunan lama itu tercatat sebagai cagar budaya dengan struktur khas jembatan kolonial.
Kini, keduanya telah rata dengan material vulkanik, hanya menyisakan puing yang tidak lagi berfungsi sebagai penghubung Malang–Lumajang.
Kerusakan Jembatan Gladak Perak saat itu langsung dirasakan warga, terutama di Pronojiwo.
Arus kendaraan bak terbuka pengangkut sayur dan pasir yang menjadi sumber mata pencaharian warga berhenti total.
Jaringan toko ritel modern di Pronojiwo pun terdampak karena distribusi produk yang selama ini dipasok dari Jember ikut terhenti.
Pengiriman yang semestinya dilakukan setiap hari tak bisa dilanjutkan hingga akses kembali tersedia.
Pelaku usaha berskala besar lebih mudah mencari solusi, namun pelaku ekonomi kecil mengalami dampak paling berat.
Pembangunan Kembali Jembatan Gladak Perak pada 2022
Kementerian PUPR kemudian membangun kembali jembatan utama Lumajang–Malang itu.
Dilansir dari , Jembatan Besuk Kobokan yang mulai dibangun pada 2022 dengan biaya Rp 160 juta ini dilakukan untuk menggantikan jembatan lama yang hancur akibat erupsi 2021.
Pada 2023, Jembatan Gladak Perak sudah dapat dilewati kembali oleh masyarakat.
Jembatan dengan rangka baja ini kemudian menyandang rekor sebagai jembatan pratt truss terpanjang di Indonesia.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bina Marga, pembangunan Jembatan Besuk Kobokan meraih rekor MURI pada 11 Maret 2023.
Jembatan itu memecahkan rekor sebagai pratt truss terpanjang dengan bentang 140 meter.
Struktur pratt truss memiliki balok horizontal, vertikal, dan diagonal yang saling menguatkan.
Jembatan ini melintasi Sungai Besuk Sat, jalur lahar Gunung Semeru yang sewaktu-waktu bisa dipenuhi material vulkanik.
Untuk mengantisipasi kemungkinan banjir lahar dingin, konstruksinya dibuat tanpa pilar tengah.
Sebagai jalur utama penghubung Malang–Lumajang, desain ini diperlukan agar jembatan tetap aman ketika aktivitas Semeru meningkat.
Jembatan Gladak Perak atau Besuk Kobokan di Desa Sumberluwuh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.
Perubahan Nama Jembatan Gladak Perak Menjadi Besuk Kobokan
Meski status jalan di titik ini merupakan jalan nasional, masyarakat sempat bingung saat melihat nama "Jembatan Besuk Kobokan" terpasang di sisi barat jembatan.
Pasalnya, selama ini, warga lebih mengenal lokasi tersebut sebagai Gladak Perak.
Dilansir dari , Bupati Lumajang Thoriqul Haq sempat menjelaskan bahwa nama Besuk Kobokan merujuk pada dokumen resmi Kementerian PUPR.
"Banyak yang bertanya kok namanya Jembatan Besuk Kobokan, jadi kami jelaskan bahwa nomenklatur di Kementerian PUPR, ini adalah Jembatan Besuk Kobokan. Jadi proyeknya ini namanya pembangunan Jembatan Besuk Kobokan," kata Thoriq.
Ia meminta masyarakat tidak gusar dengan penamaan tersebut.
Thoriq berjanji pihaknya akan menambahkan tulisan Jembatan Gladak Perak setelah jembatan diresmikan.
"Masyarakat menamakan ini jembatan Gladak Perak. Karena ini sudah identik namanya Gladak Perak dan kami sudah terima banyak masukan ya nanti akan kami buatkan tulisan nama Jembatan Gladak Perak," ujarnya saat itu.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.