Sejarah Kretek Kewek, Jembatan Berumur Lebih dari 100 Tahun yang Kini Kondisinya Kritis
Kretek Kewek yaitu jembatan yang menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro di Yogyakarta kini berada dalam kondisi kritis.
Jembatan Kewek atau Kretek Kewek yang berusia lebih dari 100 tahun ini meliputi jalur kereta api dan jembatan jalan raya yang membentang di atas Kali Code.
Bagian atas merupakan jembatan kereta api dan KRL yang menghubungkan Stasiun Yogyakarta dan Stasiun Lempuyangan.
Sedangkan bagian bawah untuk kendaraan dikenal sebagai Jembatan Kleringan menghubungkan Kota Baru dan Jalan Abu Bakar Ali, yang kini juga dikenal sebagai Jembatan Amarta.
Pemerintah Kota Yogyakarta kini membatasi arus lalu lintas karena kerusakannya yang disebut telah mencapai titik kritis.
Sejarah Singkat Kretek Kewek
Kretek Kewek dibangun bersamaan dengan jaringan rel kereta api dan Stasiun Lempuyangan yang dikelola Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1872.
Nama “Kewek” berasal dari istilah Belanda Kerk Weg, yang artinya jalan menuju gereja, sedangkan “Kretek” merupakan sebutan orang Jawa untuk jembatan.
Hal ini karena salah satu rute jembatan ini mengarah ke Gereja Santo Antonius di Kotabaru, salah satu alasan penamaan jembatan tersebut.
Pada masa awal, pembangunan jembatan ini sejalan dengan pembangunan Kotabaru pada 1920-an oleh pemerintah Belanda.
Jembatan dibuat dengan struktur viaduk untuk menghindari penumpukan kendaraan akibat lalu lintas kereta api yang padat.
Kretek Kewek Berada di Kawasan Cagar Budaya
Kretek Kewek kini menjadi bagian inti kawasan pusaka Kotabaru sesuai Keputusan Gubernur DIY No. 186/KEP/2011 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya.
Jembatan juga tercatat dalam daftar Potensi Heritage Kota Yogyakarta 2011 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, meski belum resmi menjadi cagar budaya.
Perda Provinsi DIY No. 6 Tahun 2012 kemudian turut menegaskan pelestarian warisan budaya harus memperhatikan bentuk dan fasad asli jembatan.
jembatan Kewek yang sudah kritis, kendaraan dengan bobit besar bakal dilarang melintas, Rabu (19/11/2025)
Renovasi dan Modernisasi Kretek Kewek
Pada 2011, jembatan ini direnovasi seiring dengan dibangunya jalur ganda kereta api.
Jalur kereta yang melintas di atas Jembatan Kleringan juga turut dielektrifikasi pada 2020 untuk mendukung KRL Yogyakarta.
Setelah renovasi pada tahun 2012, nama Jembatan Kleringan pada bagian yang menghubungkan Kecamatan Jetis dan Gondokusuman diganti dengan nama Jembatan Amarta.
Kondisi Jembatan Kleringan yang Sudah Kritis
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, mengatakan kondisi teknis jembatan sudah kritis karena usia yang lebih dari 100 tahun.
“Memang kondisinya sudah kritis secara teknis ya, karena usianya sudah seratus tahun lebih,” ujar Umi, Rabu (19/11/2025).
Umi menegaskan opsi rehabilitasi tidak memungkinkan lagi.
“Memang sudah kritis sebenarnya sudah tidak renovasi lagi tapi memang, dibangun ulang. Tidak memungkinkan kalau hanya direhab renovasi karena tingkat kerusakan sudah sampai di titik kritis,” tambahnya.
Pembatasan Lalu Lintas di Jembatan Kleringan untuk Keselamatan
Sebelum pembangunan ulang dilakukan, DPUPKP sedang menyusun detail engineering design (DED).
“Kami susun pembuatan DED, kalau pembangunan kapan kami masih berjuang nanti mau dengan anggaran tahun berapa masih berproses,” jelas Umi.
Koordinasi dengan Dinas Perhubungan DIY dan Kota Yogyakarta dilakukan untuk membatasi arus kendaraan.
“Tahap awal pembatasan, angkutan-angkutan darat kami sudah koordinasi dengan Dishub DIY dan kota untuk pembatasan. Mungkin nanti juga tahap awal pembatasan jangan sampai kendaraan berhenti di atas jembatan,” ujarnya.
Rambu garis biku-biku kuning telah dipasang sebagai peringatan agar kendaraan tidak berhenti di atas jembatan.
“Jembatan itu kan sampai ke utaranya itu sudah ada garis biku-biku kuning, harapannya tidak ada yang berhenti di situ supaya tidak menambah beban jembatan,” tambah Umi.
Kendaraan Berat Dilarang Melintas di Jembatan Kleringan
Sementara kendaraan berat sementara dilarang melewati jembatan, terutama saat libur panjang.
“Pengaturan traffic supaya long weekend tidak berhenti di atas jembatan tahap awal itu supaya tidak menambah beban di jembatan,” kata Umi.
Namun, kendaraan roda empat seperti mobil pribadi masih diperbolehkan melintas.
“Kalau mobil biasa enggak apa-apa, masih aman. Kendaraan berat tidak lewat situ dulu, kita koordinasi Dishub tidak lewat Jembatan Kewek,” ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “’” dan “Jembatan Kewek Jogja Sudah Berumur 100 Tahun dan Kondisinya Kritis, Arus Lalu Lintas Dibatasi”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.