Kejanggalan Kasus Kematian Dosen Untag Semarang, Ada Sosok Polisi Berpangkat AKBP

Polda Jateng, dosen tewas, berita semarang hari ini, info semarang hari ini, dosen semarang tewas, dosen semarang meninggal, kasus kematian dosen, kematian dosen asal semarang, Kejanggalan Kasus Kematian Dosen Untag Semarang, Ada Sosok Polisi Berpangkat AKBP, 1. D Satu KK dengan B, 2. B Tidak Hadir di RS Saat Otopsi, 3. Keluarga Terlambat Menerima Informasi Kematian D, 4. B Disebut Berasal dari Direktorat Samapta Polda Jateng

Kematian seorang dosen berinisial D (35) di sebuah hotel di kawasan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah, menyisakan sejumlah kejanggalan.

D ditemukan tidak bernyawa oleh seorang perwira menengah Polri berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP) berinisial B pada Senin (17/11/2025) sekitar pukul 05.40 WIB.

Saat pertama kali ditemukan, D berada dalam kondisi tanpa busana, tergeletak di lantai kamar mandi, dan darah terlihat keluar dari hidung serta mulut.

Berikut sejumlah kejanggalan di balik kasus kematian D.

1. D Satu KK dengan B

Sampai saat ini, belum diketahui secara resmi siapa sosok polisi berinisial B yang sekamar dan menemukan D dalam kondisi tidak bernyawa.

Menurut pengakuan Tiwi selaku kerabat D, korban dan B ternyata satu Kartu Keluarga (KK) yang sama.

Temuan tersebut bermula ketika adik Tiwi menanyakan alamat D yang ternyata sama dengan B.

D juga disebut sebagai saudara B, namun Tiwi belum pernah mendengar korban menyebut nama polisi ini.

Menurut dugaan Tiwi, D sengaja dimasukan ke KK yang sama dengan B agar proses perpindahan Kartu Tanda Penduduk (KTP) menjadi lebih mudah.

2. B Tidak Hadir di RS Saat Otopsi

Tiwi juga mempertanyakan sosok B yang tidak berada di RS ketika jenazah D diotopsi.

“Iya korban satu KK dengan saksi pertama (AKBP B), katanya sebagai saudara. Kecurigaan ini muncul ketika adik saya menanyakan alamat korban dengan saksi pertama kok sama, ternyata mereka satu KK, korban dimasukkan ke KK sebagai saudara,” ujar Tiwi dikutip dari TribunJateng, Rabu (19/11/2025).

“Kalau namanya saudara harusnya hadir karena sebagai saudara harusnya hadir, tapi sampai sore dia (polisi) itu tidak datang,” sambungnya.

3. Keluarga Terlambat Menerima Informasi Kematian D

Tiwi menambahkan, keluarga baru diberi tahu bahwa D sudah meninggal pada Senin (17/11/2025) petang, padahal korban ditemukan meninggal pada pagi hari.

Foto yang diterima pihak keluarga menunjukkan bahwa wajah korban terlihat berbeda ketika masih hidup.

“Informasinya keluar darah dari hidung dan mulut korban. Kemudian sekilas dari foto korban yang kami terima,  ada bercak darah keluar dari bagian intim korban,” jelas Tiwi.

Nah, ini yang masih membuat keluarga korban masih merasa janggal atas kematian ini,” tambahnya.

4. B Disebut Berasal dari Direktorat Samapta Polda Jateng

Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Muda Mudi Alumni Untag Semarang Jansen Henry Kurniawan menduga, polisi berinisial B yang sekamar dengan D berasal dari Direktorat Samapta Polda Jateng bagian Pengendalian Massa (Dalmas).

Kematian D dinilai janggal karena korban ditemukan bersama polisi yang kini menjadi saksi kunci.

Selain itu, tugas B di kepolisian juga dinilai tidak ada kaitannya dengan tindak pidana saat penemuan D di kamar hotel.

“Oknum polisi ini yang mengabarkan kematian korban ke resepsionis hotel, Polsek Gajahmungkur dan tim Inafis Polrestabes Semarang,” kata Jansen dikutip dari Tribun Jateng, Selasa (18/11/2025).

Jansen meminta polisi mengungkap kasus kematian D secara terang benderang tanpa memberikan perlindungan kepada oknum maupun institusi tertentu.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.