Taukah Kamu Ternyata Organ Intim Pria Bisa Menyusut, Kok Bisa?

Ilustrasi penis
Ilustrasi penis

 Kebanyakan pria pasti mengenal seperti aap bentuk organ intim mereka. Organ intim pria memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda. Namun pernahkah kamu menyadari tiba-tiba organ intimmu mengalami penyusutan?

Penyusutan organ intim pria sendiri umumnya terjadi pada saat suhu atau cuaca menjadi dingin. Tetapi dalam beberapa kasus ada kalanya organ intim tersebut mengecil karena alasan lain yang tidak ada hubungannya suhu, dan perubahan ini bisa bersifat permanen.

Menurut apoteker senior di Chemist Click, Abbas Kanani kondisi mengecilnya ukuran organ intim ini dikenal sebagai atrofi penis atau penile atrophy.

“Kalau kamu merasa ukuran penis tampak lebih kecil dari biasanya, itu memang bisa membuat tidak nyaman,” ujarnya dikutip dari laman The Sun, Rabu 19 November 2025.

Atrofi penis bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kondisi medis, ketidakseimbangan hormon, pola olahraga, hingga proses penuaan. Berikut tujuh penyebab utama penis bisa terlihat lebih kecildan kapan kamu bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

1. Pertambahan Usia

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami banyak perubahan, termasuk fungsi seksual. Termasuk juga dengan organ intim pria yang bisa mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

“Semakin tua, aliran darah ke penis berkurang, sehingga jaringan di dalamnya menerima lebih sedikit oksigen dan nutrisi penting,” jelas Abbas.

Jika berlangsung lama, hal ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan atrofi. Penurunan aliran darah juga membuat jaringan kehilangan elastisitas, sehingga penis sulit mempertahankan panjang dan ketebalan normalnya.

Ia menambahkan bahwa masalah aliran darah juga dapat menyebabkan peningkatan kolagen, yang memicu fibrosis atau penebalan dan jaringan parut yang membuat ukuran penis mengecil dan kurang elastis.

2. Hormon Tidak Seimbang

Hormon berperan besar pada tampilan penis. Testosteron, hormon penting bagi kesehatan seksual pria, cenderung menurun seiring usia.

“Testosteron membantu mempertahankan struktur penis dan fungsi otot serta jaringan ikat. Jika hormon menurun, penyusutan bisa terjadi secara bertahap,” kata Abbas.

Penurunan hormon juga dapat membuat ereksi lebih jarang atau lebih lemah. Tanpa ereksi yang cukup sering, penis tidak mendapatkan efek stretcing alami yang menjaga ukuran dan elastisitasnya.

Walau penuaan adalah penyebab umum, ketidakseimbangan hormon juga bisa terjadi karena faktor lain.

3. Rokok

Merokok merusak tubuh dalam banyak cara dan penis tidak luput dari dampaknya.

“Kandungan nikotin dan karbon monoksida membuat pembuluh darah menyempit, sehingga aliran darah berkurang,” jelas Abbas.

Zat tersebut juga menurunkan produksi nitrat oksida, yang penting untuk melebarkan pembuluh darah dan memulai ereksi.

Akibatnya? Risiko disfungsi ereksi meningkat, dan penis tidak mendapat aliran darah serta oksigen yang cukup secara rutin, yang dapat menyebabkan penyusutan.

4. Penyakit Peyronie

Penyakit Peyronie adalah kondisi yang membuat penis melengkung saat ereksi. Biasanya dialami pria di atas 40 tahun, tapi pria lebih muda juga bisa mengalaminya.

“Plak fibrotik terbentuk di dalam penis sehingga penis tidak bisa mengembang secara merata, dan menyebabkan melengkung dengan rasa sakit saat ereksi,” ujar Abbas.

Dalam jangka panjang, penis dapat memendek di area tempat plak berada karena kehilangan elastisitas.

Menurut NHS, gejalanya meliputi:

  • Bengkak yang kemudian berubah menjadi benjolan keras
  • Lengkungan penis saat ereksi
  • Ereksi yang menyakitkan
  • Disfungsi ereksi
  • Perubahan bentuk penis seperti menyempit di bagian tertentu

Pada beberapa penderita, kulit di bagian tubuh lain seperti tangan dan kaki juga bisa menjadi lebih tebal atau kurang fleksibel.

5. Konsumsi Obat Tertentu

Jika kamu sedang menjalani pengobatan, tetaplah minum sesuai anjuran. Namun, beberapa obat memang dapat memengaruhi ukuran penis dalam jangka panjang.

“Ereksi rutin penting untuk menjaga kesehatan penis karena membantu meningkatkan aliran darah dan oksigen,” jelas Abbas.

Beberapa obat seperti obat hormon, obat rambut rontok, antidepresan, atau obat tekanan darah bisa memengaruhi keseimbangan hormon, aliran darah, dan fungsi saraf yang berhubungan dengan atrofi penis. Ada obat yang juga menekan produksi testosteron atau mengganggu alirannya ke jaringan penis.

6. Mengalami Penyakit Kronis

Penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau kanker juga dapat berdampak pada ukuran penis. Pada diabetes, kerusakan pembuluh darah akibat gula darah tinggi mengganggu pasokan darah ke penis, sehingga jaringan kekurangan oksigen dan nutrisi.

Pada penyakit jantung, plak yang menumpuk di pembuluh darah menghambat aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk penis, sehingga terlihat lebih pendek. Pada beberapa kondisi kronis, atrofi bisa menjadi permanen.

Pengobatan kanker prostat, terutama radioterapi, juga dikaitkan dengan penyusutan penis. Satu studi kecil menemukan penurunan panjang penis secara bertahap pada pasien yang menjalani terapi tersebut.

7. Kelebihan Berat Badan atau Jarang Olahraga

Berat badan dan gaya hidup juga memengaruhi ukuran penis.

“Kurang olahraga atau kelebihan berat badan dapat menyebabkan sirkulasi darah yang buruk dan ketidakseimbangan hormon,” kata Abbas.

Hal ini bukan hanya buruk untuk kesehatan secara umum, tetapi juga memengaruhi kemampuan mendapatkan ereksi dan produksi hormon seks. Aktivitas fisik membantu melancarkan sirkulasi dan mempertahankan kadar testosteron yang sehat.

Perlukah Panik?

Melihat penis tampak mengecil memang bisa membuat cemas. Namun menurut Abbas, kondisi ini bisa ditangani jika diketahui sejak dini.

“Tanda paling terlihat adalah penurunan panjang dan ketebalan. Kamu mungkin juga merasakan elastisitas berkurang sehingga penis terasa lebih kaku meski tidak ereksi,” jelasnya.

Gejala lain termasuk ereksi yang lebih lemah, sensasi yang menurun saat dirangsang, atau perubahan bentuk seperti kerutan, lengkungan, atau lekukan.

Pria disarankan berkonsultasi ke dokter umum atau spesialis jika merasa mengalami gejala atrofi penis, agar diagnosis tepat bisa ditegakkan dan diberikan penanganan yang sesuai.

Untuk mencegah penyusutan, kamu bisa mulai dengan memperbaiki faktor penyebab di atas mulai dari berhenti merokok, rutin bergerak, kontrol penyakit kronis, dan berdiskusi dengan dokter soal obat yang sedang dikonsumsi.