Taukah Kamu Kalau Manusia Mengalami ’Buta Gerak’ Selama 40 Menit Setiap Hari?
Otak manusia bekerja dengan cara yang diam-diam menakjubkan dan banyak di antaranya tidak pernah dijelaskan bahkan di buku pelajaran sekolah. Mulai dari momen ketika penglihatan kita sebenarnya sempat ’dimatikan’ sesaat, hingga alasan mengapa rasa sakit secara emosional bisa terasa begitu nyata secara fisik. Mekanisme yang jarang disadari ini membentuk cara kita melihat, merasakan, dan tidur setiap hari, sering kali tanpa kita sadari.
Dokter keluarga dan kreator konten kesehatan yang berbasis di Inggris, Dr. Sermed Mezher membagikan tiga fakta menarik tentang ilmu saraf yang menjelaskan cara kerja otak yang mungkin belum banyak diketahui orang. Mulai dari bagaimana otak memproses gerakan mata, mengapa rasa sakit emosional bisa terasa secara fisik, dan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat kita tidur. Berikut ini penjelasan lengkapnya seperti dilansir dari laman Hindustan Times, Rabu 11 Februari 2026.
1. Manusia mengalami “buta gerak” selama beberapa waktu setiap hari
Menurut Mezher, manusia pada dasarnya mengalami kondisi seperti buta terhadap gerakan selama sekitar 40 menit hingga dua jam setiap harinya. Saat mata bergerak cepat dari satu titik ke titik lain, otak sementara waktu menghentikan pemrosesan visual agar dunia tidak terlihat kabur atau membingungkan. Dalam gerakan mata cepat ini, otak mengirim sinyal untuk mengabaikan informasi dari retina selama beberapa milidetik demi menjaga tampilan tetap stabil.
Untuk menutup celah tersebut, otak sering kali ’memanjangkan’ persepsi terhadap momen tepat setelah gerakan mata. Itulah sebabnya ketika kita melirik jam, detik pertama terkadang terasa lebih lama dibanding detik-detik berikutnya.
Mezher menjelaskan bahwa selama gerakan mata cepat yang disebut saccade, otak melakukan proses penyuntingan neurologis yang dikenal sebagai saccadic suppression untuk menjaga kejernihan penglihatan. Ketika mata bergerak cepat, bayangan pada retina sebenarnya bergerak dengan kecepatan yang bisa membuat pandangan terasa buram dan membingungkan.
Untuk mencegah hal itu, otak sesaat menghentikan pemrosesan informasi visual selama pergerakan tersebut. Dalam waktu singkat ketika kita secara fungsional ’tidak melihat’ inilah, persepsi kita tetap terasa stabil dan tajam, bukan goyah dan penuh bayangan kabur.
2. Patah hati memang bisa terasa menyakitkan secara fisik
Mezher juga menjelaskan bahwa otak menggunakan pusat pemrosesan yang sama untuk rasa sakit emosional dan rasa sakit fisik. Lantaran adanya jalur saraf yang saling tumpang tindih ini, tekanan emosional dapat dirasakan tubuh dengan cara yang mirip seperti cedera fisik. Inilah alasan mengapa patah hati atau luka batin benar-benar bisa terasa menyakitkan secara fisik.
Ia menyebutkan bahwa bagian otak seperti anterior insula dan anterior cingulate cortex berperan dalam memproses kedua jenis rasa sakit tersebut. Jadi, ketika seseorang merasa sangat sedih atau terluka secara emosional, tubuhnya memang bisa merasakan dampaknya secara nyata.
3. Saat fase REM, tubuh kita seperti “dilumpuhkan”
Menurut Mezher, ketika kita memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement), otak dengan sengaja mematikan kemampuan tubuh untuk bergerak. Otot-otot menjadi lumpuh sementara agar kita tidak benar-benar melakukan gerakan sesuai dengan mimpi yang sedang dialami.
Mekanisme yang sama juga terjadi saat seseorang mengalami kelumpuhan tidur (sleep paralysis). Dalam kondisi ini, seseorang sudah terbangun dan sadar, tetapi otaknya masih berada dalam mode REM. Akibatnya, tubuh belum bisa bergerak untuk sementara waktu.
Mezher menjelaskan bahwa kelumpuhan ini kemungkinan memiliki beberapa fungsi, salah satunya mencegah kita bertindak sesuai mimpi, misalnya melakukan gerakan berbahaya tanpa sadar. Mekanisme ini juga mungkin berguna pada masa lalu ketika manusia tidur di tempat yang berisiko, seperti di ketinggian. Selain itu, proses inilah yang menjadi inti dari pengalaman sleep paralysis yang sering terasa menakutkan yakni sudah sadar sepenuhnya, tetapi tubuh tidak bisa digerakkan.