Cabor Hoki Sudah Matang, Keputusan Tim Review Jadi Penentu Langkah ke SEA Games 2025
Keinginan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir agar SEA Games hanya mempertandingkan cabang olahraga (cabor) yang diperlombakan di Olimpiade mendapat sorotan serius dari berbagai pihak. Pengurus induk cabang olahraga pun diminta ikut menyambut gagasan tersebut agar tidak berhenti sebagai wacana semata.
Ketua Umum PP Federasi Hockey Indonesia (FHI), Mayjen TNI (Purn) Budi Sulistijono, menyebut gagasan Erick layaknya “angin segar” bagi dunia hoki nasional. Apalagi, Erick juga mendorong agar PON mewajibkan cabor-cabor Olimpiade ikut dipertandingkan.
Menurut Budi, arah kebijakan tersebut mampu memompa semangat PP FHI dan atlet-atlet untuk terus mengejar prestasi dunia. Ide itu dianggap selaras dengan langkah pembinaan jangka panjang yang sudah dijalankan FHI.
“PP FHI sangat mengapresiasi gagasan cemerlang Pak Menpora Erick Thohir. Strategi ini memberi dukungan besar bagi upaya kami membangun prestasi hoki Indonesia. Inilah ‘angin segar’ bagi masyarakat hoki Tanah Air,” ujar Budi yang sedang mendampingi Timnas Hoki Indoor menjalani TC di Jerman, Minggu 15 November 2025,
Budi menjelaskan, keberhasilan Timnas Hoki Indonesia meraih emas perdana di SEA Games 2023 Kamboja adalah buah dari proses panjang. Terlebih, hoki bukan bagian dari Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) sehingga tidak mendapat dukungan APBN.
“Tidak masuk DBON berarti tidak ada dana APBN. Bagi kami tidak masalah. Itu justru menjadi cambuk agar lebih serius. Alhamdulillah, kami bisa mencatat sejarah lewat emas Timnas Hoki Indoor Putra di Kamboja,” ujarnya.
FHI juga berhasil membawa Timnas Hoki lolos ke Asian Games Hangzhou 2022, sebuah pencapaian bersejarah mengingat sebelumnya Indonesia hanya tampil melalui wild card saat menjadi tuan rumah pada 2018.
Namun Budi menyadari mempertahankan prestasi bukan perkara mudah. Target SEA Games Thailand 2025 meningkat menjadi 2 emas dan 4 perak. Karena itu, FHI memulai pelatnas lebih awal pada Januari 2025, meski kucuran dana untuk Hoki Outdoor baru turun pada September 2025.
Tidak hanya itu, Indonesia juga didapuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia Hoki Field 2025 di GBK, Senayan. Ajang ini menjadi bagian seleksi menuju SEA Games.
Ia menjelaskan bahwa pelatnas kini berlangsung sembilan bulan, jauh lebih panjang dari sebelumnya yang hanya tiga bulan. Langkah ini diambil karena ketatnya persaingan, terutama dengan Malaysia dan Thailand. Selain TC di Jerman, Timnas juga menjalani uji coba di Australia dan Spanyol.
“Hoki Putri Outdoor juga kami turunkan di Kejuaraan Asia Tengah 2025. Hasilnya membanggakan karena mereka keluar sebagai juara,” tambahnya.
Dalam peningkatan kualitas tim, FHI mengontrak pelatih asal Australia, Jason Butcher, yang pernah membawa Australia juara Youth Olympic.
Saat ini PP FHI mendapat kuota 34 atlet dari Tim Review untuk nomor indoor putra-putri. Sementara Hoki Field dan Hoki 5s masih menunggu keputusan final.
“Kami butuh 60 atlet agar peluang memenuhi target bisa lebih besar. Persiapan kami maksimal, termasuk melibatkan pelatih berkualitas dari Australia,” tegas Budi.
Terkait keputusan akhir Tim Review, Budi masih menunggu sikap Menpora Erick Thohir. Ia yakin Erick mampu mengambil keputusan bijak dan menghargai induk olahraga yang serius membangun prestasi tanpa bergantung APBN.
Budi juga mengingatkan pengorbanan para atlet yang menjalani pelatnas sembilan bulan, bahkan sampai mengorbankan sekolah dan pekerjaan demi membela Merah Putih. “Kami hanya bisa berharap. PP FHI tunduk pada keputusan pemerintah,” tandasnya.
Di sisi lain, FHI terus berjuang menghadapi mahalnya biaya sewa lapangan. Minimnya fasilitas bertaraf internasional menjadi tantangan pembinaan.
“Biaya lapangan sangat mahal. Kami bisa terus jalan karena bekerja sama dengan Eden Sport Centre di Depok untuk pelatihan indoor. Harapannya nanti ada juga lapangan Field agar biaya bisa ditekan,” ujar Budi.