Risiko Dampak Psikologis pada Siswa SMAN 72 Setelah Terjadi Ledakan di Sekolah

Ilustrasi trauma, 1. Munculnya Gejala Trauma dan Ketakutan Berkepanjangan, 2. Dukungan Psikososial Harus Jadi Prioritas, 3. Pentingnya Ruang Aman dan Pemulihan Emosional di Sekolah, 4. Peran Guru dan Orang Tua dalam Pemulihan Psikologis, 5. Perlunya Pendampingan Jangka Panjang
Ilustrasi trauma

 Ledakan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat 7 November 2025 siang menimbulkan kepanikan besar di lingkungan sekolah. Insiden yang terjadi sekitar pukul 12.09 WIB itu bukan hanya mengejutkan karena menimbulkan sembilan korban luka, tetapi juga karena adanya penemuan senjata api laras panjang bertuliskan “Welcome to Hell” (Selamat Datang di Neraka) — sebuah frasa yang menambah kengerian suasana pasca-kejadian.

Menurut laporan tvOnenews, ledakan awalnya diduga berasal dari sound system masjid sekolah. Guru Matematika SMAN 72, Budi Laksono, menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi saat salat Jumat sedang berlangsung. Dentuman keras menyebabkan sejumlah kaca pecah dan beberapa siswa serta staf sekolah mengalami luka akibat pecahan material dan tekanan suara.

Tim Jihandak TNI AL bersama Polda Metro Jaya segera melakukan penyisiran dan sterilisasi area, sementara kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Namun, di balik penanganan teknis dan investigasi yang berjalan, dampak psikologis terhadap siswa dan warga sekolah perlu menjadi perhatian serius yang tak bisa dihindari.

Kondisi masjid di SMAN 72 Jakarta setelah ledakan

Berikut ini adalah sejumlah risiko dampak psikologis yang mungkin dialami oleh para siswa SMAN 72 akibat kejadian di sekolah, seperti dirangkum dari laman UNICEF.

1. Munculnya Gejala Trauma dan Ketakutan Berkepanjangan

Pasca-ledakan, banyak siswa berpotensi mengalami trauma psikologis akibat kejadian mendadak yang mengancam keselamatan diri mereka. Menurut penilaian cepat UNICEF terhadap situasi pasca-ledakan di sejumlah wilayah, sekitar separuh responden melaporkan anak-anak menunjukkan perubahan perilaku atau tanda-tanda stres ekstrem.

Gejalanya bisa berupa kecemasan berlebihan, rasa takut berlebihan terhadap suara keras, mimpi buruk, gangguan tidur, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Siswa yang mengalami trauma semacam ini memerlukan intervensi dini agar dampaknya tidak berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD).

2. Dukungan Psikososial Harus Jadi Prioritas

Ahli psikologi menekankan bahwa dukungan psikososial menjadi langkah utama dan mendesak dalam pemulihan pasca-insiden. UNICEF mencatat, sepertiga rumah tangga juga melaporkan gejala stres pada orang dewasa, menunjukkan bahwa dampak psikologis bukan hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh guru dan orang tua.

Program dukungan psikososial yang efektif dapat meliputi konseling kelompok, kegiatan rekreasional untuk anak, hingga pendampingan profesional bagi siswa dengan trauma berat. 

Sekolah bersama Dinas Pendidikan dan lembaga psikologi diharapkan segera menyediakan layanan konseling sementara di lingkungan sekolah.

3. Pentingnya Ruang Aman dan Pemulihan Emosional di Sekolah

Setelah situasi darurat mereda, langkah berikutnya adalah menyediakan ruang ramah anak di area sekolah. UNICEF dan mitra-mitranya telah membuktikan bahwa ruang aman yang bersifat rekreatif dan suportif membantu anak-anak mengekspresikan emosi mereka dengan sehat.

Ruang semacam ini juga dapat digunakan untuk aktivitas seni, permainan, atau kegiatan kelompok yang mendorong rasa tenang dan kebersamaan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini terbukti mampu membantu siswa memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri setelah peristiwa traumatis.

4. Peran Guru dan Orang Tua dalam Pemulihan Psikologis

Guru dan orang tua memiliki peran vital dalam mendeteksi perubahan perilaku anak. Mereka perlu diberikan pelatihan singkat mengenai tanda-tanda stres atau trauma, seperti anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, mudah tersinggung, atau kehilangan minat belajar.

Selain itu, komunikasi terbuka dan empatik antara guru, siswa, dan orang tua dapat menjadi bentuk dukungan emosional yang sangat membantu dalam proses pemulihan.

5. Perlunya Pendampingan Jangka Panjang

Trauma akibat peristiwa ledakan tidak selalu hilang dalam waktu singkat. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan berkelanjutan dari pihak sekolah, tenaga psikolog, dan instansi terkait.

UNICEF merekomendasikan penyediaan dukungan psikososial yang lebih terspesialisasi, intensif, dan berjangka panjang bagi siswa yang menunjukkan gejala trauma berat.

Pendekatan ini penting agar proses belajar dapat kembali berjalan normal tanpa meninggalkan luka psikologis yang mendalam.

Insiden di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat bahwa dampak bencana atau kekerasan di lingkungan pendidikan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan psikologis.

Karena itu, pemulihan pasca-kejadian harus dilakukan secara menyeluruh — tidak hanya dengan memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga dengan menyembuhkan hati dan pikiran para siswa yang menjadi saksi langsung tragedi tersebut.