Jejak Hitam Comando Vermelho, Geng Kriminal-Kartel Narkoba Paling Bengis di Brasil
Operasi penyergapan besar-besaran di markas Comando Vermelho (Komando Merah) di favela Alemão dan Penhã -- salah satu organisasi kriminal tertua dan terkuat di Brasil oleh aparat keamanan setempat, memicu kekacauan wilayah yang dikenal padat penduduk, terletak di salah satu daerah termiskin dan paling kejam di Rio de Janeiro, di bagian utara kota.
Operasi tersebut memobilisasi sekitar 2.500 petugas sejak dini hari untuk melaksanakan 100 surat perintah penangkapan. Di mana sedikitnya 64 orang tewas dan 81 orang ditangkap, dalam operasi paling mematikan dalam sejarah kota itu.
Menurut Polisi Sipil, tujuan operasi tersebut, yang juga melibatkan anggota Kantor Kejaksaan Rio, adalah untuk menangkap para pemimpin Komando Merah dan menghentikan perluasan wilayah faksi tersebut.
Polisi dan pasukan khusus Brasil menyergap markas gembong narkoba di Favela
Comando Vermelho (Komando Merah) merupakan kelompok kriminal tertua di Brasil. Dibentuk di sebuah penjara di Ilha Grande , di Rio de Janeiro, selama kediktatoran militer Brasil (1964-1985).
Awalnya, kelompok ini dibentuk sebagai milisi pertahanan diri yang disebut "Falange Vermelha" bagi para narapidana, yang dipengaruhi oleh cita-cita keadilan sosial sayap kiri, tetapi berkembang menjadi struktur kriminal yang lebih terorganisasi.
Kelompok ini awalnya melakukan kejahatan ringan seperti penjambretan dan perampokan bank.
Namun pada tahun 1980-an, kelompok ini beralih ke perdagangan kokain, bekerja sama dengan kartel narkoba Kolombia dan mengambil peran kepemimpinan sosial di banyak lingkungan terpinggirkan di Rio.
Pihak berwenang penjara memindahkan para pemimpinnya ke berbagai penjara dalam upaya untuk membubarkannya, tanpa menyadari bahwa tindakan ini akan membantu memperluas pengaruhnya ke seluruh sistem penjara Brasil.
Operasi penyergapan markas kelompok kriminal narkoba di Favela, Brasil
Seiring berjalannya waktu, Comando Vermelho memantapkan dirinya sebagai faksi dominan dalam perdagangan narkoba, mengendalikan sebagian besar perdagangan kokain di Rio dan memperluas wilayah ke wilayah seperti Amazonas dan Mato Grosso.
Kelompok ini juga memiliki basis di Bolivia, sumber utama kokain mereka. Bentrokan mereka dengan kelompok milisi dan Komando Ketiga Murni (Terceiro Comando Puro – TCP) merupakan sumber kekerasan yang sering terjadi di Rio.
Selain perdagangan narkoba dan penyelundupan senjata, Comando Vermelho juga terlibat dalam pemerasan, penculikan, rentenir, dan perampokan truk lapis baja.
Sejak tahun 2020, pemerintah mulai mengikis pengaruh Comando Vermelho dengan melakukan operasi dan penyergapan secara berkala dengan menarget kelompok milisi di Rio yang berada di bawah kendalinya.
Kepemimpinan Komando Merah
Komando Merah memiliki struktur kepemimpinan yang relatif longgar dan digambarkan sebagai jaringan aktor independen, alih-alih organisasi hierarkis yang ketat yang dipimpin oleh seorang pemimpin tunggal. Struktur geng ini menyerupai organisasi waralaba, karena memiliki divisi lokal dan jaringan terpisah yang bekerja sebagai sekutu.
Mar, pemimpin Komando Merah-- kartel narkoba di Rio de Janeiro
Namun, terdapat beberapa petinggi terkemuka dalam struktur tersebut, termasuk Luiz Fernando da Costa, alias "Fernandinho Beira-Mar," yang saat ini dipenjara seumur hidup, dan Isaias da Costa Rodrigues, alias "Isaias do Borel," yang dipenjara selama lebih dari 20 tahun hingga dibebaskan pada tahun 2022.
Márcio dos Santos Nepomuceno, alias "Marcinho VP", adalah tokoh penting lainnya dalam geng tersebut, dan diakui sebagai salah satu pemimpin utamanya bersama Fernandinho Beira-Mar.
Pada bulan Desember 2014, pihak berwenang di Paraguay menangkap seorang pemimpin senior Komando Merah, Luiz Cláudio Machado, alias "Marreta," dan sekarang masih dipenjara.
Fernandinho Beira-Mar tetap mempertahankan pengaruhnya yang kuat dalam kelompok tersebut meskipun menjalani hukuman seumur hidup, dan polisi terus mengincar kaki tangannya.
Pada Januari 2022, sebuah penggerebekan menewaskan Lindomar Gregório de Lucena, alias "Babuino", yang diduga sebagai pemimpin Komando Merah di Rio de Janeiro dan dilaporkan sebagai anak angkat Beira-Mar.