Pemilik Warung Bakso Babi di Bantul Usai Viral: Sekarang Susah
Pemilik warung bakso babi di Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang viral belakangan ini mengaku menyesal setelah tempat usahanya viral di media sosial.
Seorang pemilik warung berinisial “S” mengatakan kondisi usahanya saat ini pascaviral sangat sulit.
“Susah sakniki. Mending ora viral koyo ngeten (sekarang susah, lebih baik tidak viral),” ujar pemilik warung secara singkat sambil menolak berkomentar lebih lanjut, seperti yang dikutip dari Kompas.com, Selasa (28/10/2025).
Warung ini viral karena sebuah video yang beredar di media sosial pada bulan ini menampilkan spanduk bertuliskan “Bakso Babi (Tidak Halal)”.
Di bawahnya, terdapat keterangan, “Informasi ini disampaikan oleh DMI Ngestiharjo dan MUI Kapanewon Kasihan”.
DMI dan MUI: edukasi konsumen, bukan larangan
Sekjen DMI Ngestiharjo, Akhmad Bukhori, menjelaskan, pemasangan spanduk tersebut sebagai bentuk kepedulian kepada umat Islam agar tidak salah membeli.
“Sama sekali tidak betul bahwa DMI kemudian melarang penjualan,” kata Bukhori.
“Kami betul-betul memikirkan bagaimana seorang penjual, sumonggo (silakan), hanya kita menyarankan kepada pihak penjual juallah dengan informasi yang lengkap kalau memang ini bakso babi ya sampaikanlah,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua MUI Kapanewon Kasihan, Armen Siregar, menambahkan, spanduk sebenarnya sudah dipasang sejak Januari 2025 oleh DMI.
Namun, setelah viral, banyak masyarakat salah paham dan menganggap warung bakso babi didukung DMI.
“Intinya menyampaikan informasi agar masyarakat tidak terjebak. Karena kalau kita melarang menjual juga tidak bisa karena tidak ada undang-undangnya,” ucapnya.
“Tapi, tujuan kita melindungi konsumen, karena banyak yang berjilbab beli bakso tersebut,” imbuhnya.
Bukhori menegaskan, spanduk terbaru sudah diperbarui dengan menambahkan logo MUI untuk menghindari mispersepsi.
Hal ini sejalan dengan Pasal 93 UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang mewajibkan pelaku usaha mencantumkan keterangan non-halal untuk produk berbahan haram.
Sebelumnya, pemilik warung telah diminta oleh pemangku wilayah untuk memberikan keterangan bahwa bakso di warungnya non-halal.
Namun, Bukhori mengatakan, penjual sempat keberatan karena khawatir pendapatannya akan turun ketika dipasang.
“Cuma dari penjual merasa keberatan atau bagaimana gitu, karena kalau ditulis bakso babi kan pembelinya otomatis berkurang,” ucap Bukhori, seperti yang dikutip Tribunnews, Senin (27/10/2025).
“Jadi, penjual hanya bilang iya-iya gitu saja. Setelah beberapa kali teguran, penjual hanya memasang tulisan B2 di kertas HVS. Tulisan itu pun kadang dipasang, kadang enggak”, lanjutnya.
Proses pemasangan spanduk bakso mengandung babi di salah satu warung di Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta oleh DMI Ngestiharjo dan MUI pada Jumat (24/10/2025).
Sejarah usaha bakso sejak 1990-an
Menurut Blorok, pemilik kios tempat penjual bakso babi berjualan, sang penjual berinisial S sudah menekuni usaha ini sejak lama.
Awalnya, S berjualan keliling pada tahun 1990-an sebelum menetap di simpang tiga dekat lokasi warung saat ini sejak 2009.
“Karena yang parkir memenuhi jalan, beliau minta izin mengontrak kios ke bapak saya dan diizinkan. Jadi di sini itu sejak tahun 2009, dan kontrakan itu habis bulan November 2026,” kata Blorok, Senin (27/10/2025).
Blorok menambahkan, S selalu terbuka kepada pembeli bahwa bakso yang dijual terbuat dari daging babi.
Pemasangan spanduk ia nilai juga sebagai langkah positif agar masyarakat mendapat informasi yang jelas.
“Dulu sama penjual bakso ditulisi bakso babi di gerobaknya. Kalau adanya pemasangan spanduk bakso babi ini juga tidak masalah, karena dengan adanya spanduk ini malah benar, biar yang mau beli tahu kalau itu bakso babi,” ujarnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "" dan di Tribunnews.com dengan judul "Penjual Bakso Babi di Bantul Keberatan jika Dipasang Keterangan Non Halal, Takut Pendapatan Menurun".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.