CSR Era Digital: Bagaimana Fintech Membentuk Ekonomi Hijau Baru

Ilustrasi fintech
Ilustrasi fintech

Dalam era digital yang serba cepat, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan semata. Kini, CSR menjadi bagian integral dari strategi bisnis berkelanjutan, termasuk di sektor teknologi finansial atau fintech. 

Melalui inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan, sejumlah perusahaan fintech di Indonesia mulai mengarahkan langkahnya menuju ekonomi hijau — sebuah pendekatan yang menggabungkan kemajuan finansial dengan pelestarian bumi.

Salah satu contohnya tampak dari program kolaboratif antara pelaku fintech nasional dengan lembaga sosial lingkungan yang fokus pada solusi keberlanjutan. Inisiatif tersebut diwujudkan dalam kegiatan penanaman bibit mangrove di kawasan Hutan Lindung Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, yang bertepatan dengan peringatan Hari Habitat Sedunia. Gerakan ini bukan sekadar simbol kepedulian terhadap alam, tetapi juga langkah nyata mendukung pengurangan emisi karbon serta perlindungan ekosistem pesisir.

Prinsip CSR di era digital kini semakin berkembang, tidak hanya mencakup kegiatan sosial dan kemanusiaan, tetapi juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks ini, fintech berperan strategis karena mampu menghubungkan inklusi keuangan dengan keberlanjutan lingkungan. Melalui teknologi, perusahaan dapat menyalurkan pendanaan yang berdampak sosial, memberikan edukasi finansial, serta memberdayakan komunitas lokal agar lebih mandiri secara ekonomi dan ramah terhadap alam.

Penanaman Mangrove di PIK

Penanaman Mangrove di PIK

Beberapa program CSR bahkan menggabungkan aspek lingkungan dan ekonomi secara seimbang. Misalnya, kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemberdayaan karang taruna, hingga pelatihan bagi kelompok ibu rumah tangga untuk mengolah limbah menjadi kerajinan bernilai jual. Upaya semacam ini menunjukkan bagaimana CSR digital bukan hanya soal tanggung jawab, tetapi juga inovasi sosial yang melahirkan ekosistem ekonomi sirkular.

Sejumlah pelaku industri menilai, peran fintech dalam membentuk ekonomi hijau semakin relevan di tengah kesadaran global terhadap krisis iklim.

“Program CSR seperti ini adalah salah satu bukti nyata bahwa Indodana Finance memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup di luar layanan jasa keuangan yang telah kami sediakan. Kami berkomitmen menghadirkan program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan dalam berbagai bentuk, mulai dari pemberdayaan komunitas, dukungan edukasi finansial, hingga aksi pelestarian alam untuk mendukung terciptanya kelestarian lingkungan hidup. Program tersebut juga sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial Perusahaan kepada masyarakat, nasabah, Regulator serta pemegang saham untuk terciptanya kelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan," kata Iwan Dewanto, Direktur Indodana Finance, dalam keterangannya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor — antara perusahaan, komunitas, dan lembaga sosial — menjadi kunci dalam membangun keberlanjutan yang berdampak jangka panjang.

Dengan semakin banyaknya perusahaan fintech yang menanamkan nilai keberlanjutan ke dalam DNA bisnisnya, masa depan ekonomi digital Indonesia tampak bergerak ke arah yang lebih hijau. CSR di era digital bukan lagi sekadar program tanggung jawab, melainkan strategi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan kelestarian bumi. Sebuah langkah kecil dari dunia finansial yang memberi arti besar bagi generasi mendatang.

Cermati Fintech Group (PT Dwi Cermat Indonesia) menggerakkan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada pelestarian lingkungan hidup. Adapun semua entitas di bawah naungan Cermati Fintech Group di antaranya Cermati, Cermati Invest, Cermati Protect, Indodana Finance, dan Indodana Fintech turut menjadi bagian dalam program ini. Program ini berkolaborasi dengan Kertabumi, sebuah yayasan dan wirausaha sosial lingkungan yang berfokus pada solusi keberlanjutan, dengan mewujudkan gerakan nyata melalui kegiatan penanaman bibit mangrove di Kawasan Hutan Lindung, Pantai Indah Kapuk (PIK), bertepatan dengan peringatan Hari Habitat Sedunia pada 6 Oktober 2025.