Era Digital Ubah Cara Orang Mengenal Produk

Ilustrasi belanja online.
Ilustrasi belanja online.

 Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk cara orang mengenal dan memilih produk. Jika dulu konsumen hanya mengandalkan toko fisik atau iklan konvensional, kini informasi tentang berbagai produk bisa diperoleh dengan mudah melalui internet, media sosial, hingga komunitas daring.

Perubahan ini ikut memengaruhi industri retail global. Persaingan yang semakin ketat membuat banyak perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan metode penjualan tradisional. Konsumen modern juga memiliki kebiasaan baru, seperti mencari ulasan produk, membandingkan harga secara online, hingga mengikuti tren yang berkembang di platform digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah perubahan tersebut, perusahaan retail mulai beradaptasi dengan membangun berbagai pendekatan baru agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Tidak sedikit yang memadukan toko fisik dengan platform digital, distribusi yang lebih luas, serta aktivitas komunitas untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan.

Masa depan industri retail dinilai tidak lagi ditentukan oleh jumlah toko yang dimiliki suatu perusahaan. Keberhasilan bisnis justru lebih bergantung pada kemampuan membangun ekosistem yang kuat di sekitar konsumen.

“Retail tidak lagi hanya tentang membuka toko baru. Retail masa depan adalah tentang membangun ekosistem yang menghubungkan produk, distribusi, teknologi, dan komunitas dalam satu pengalaman yang terintegrasi,” ujar Jhonny Thio Doran, Founder & CEO DORAN Group yang menaungi JETE dalam keterangan tertulisnya. 

Dalam perkembangan model retail modern, fungsi toko fisik juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya toko hanya menjadi tempat transaksi, kini perannya semakin bergeser menjadi ruang interaksi antara konsumen dan brand. Banyak perusahaan mulai menjadikan toko sebagai tempat pelanggan merasakan langsung pengalaman menggunakan produk.

“Konsumen datang ke toko bukan hanya untuk membeli produk. Mereka datang untuk merasakan brand, mencoba teknologi, serta berinteraksi dengan komunitas yang memiliki minat yang sama,” jelasnya.

Perubahan pendekatan ini juga terlihat pada berbagai perusahaan teknologi yang menghadirkan beragam produk untuk menunjang gaya hidup digital masyarakat. Salah satunya adalah produk teknologi naungan Jhonny yang menawarkan berbagai perangkat mulai dari wearable device, perangkat audio, hingga produk rumah pintar yang terhubung dengan teknologi modern.

Di luar pengembangan produk, perusahaan juga mulai membangun keterlibatan dengan konsumen melalui berbagai kegiatan komunitas. Aktivitas seperti acara olahraga, pertemuan komunitas, hingga event besar menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan antara brand dan pengguna.

“Brand yang kuat bukan hanya yang sering muncul di iklan, tetapi yang mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari konsumennya,” kata Jhonny.

Pendekatan yang menggabungkan toko fisik, platform digital, distribusi nasional, dan aktivitas komunitas kini semakin sering digunakan dalam industri retail. Model ini dinilai mampu menciptakan hubungan jangka panjang antara perusahaan dan konsumennya, bukan sekadar transaksi sesaat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, peluang bagi brand lokal juga masih terbuka luas. Dengan jumlah penduduk yang besar serta perkembangan teknologi yang cepat, pasar domestik Indonesia menjadi ruang penting bagi pertumbuhan produk lokal.

“Indonesia memiliki pasar yang luar biasa besar. Jika brand lokal mampu membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan, kita tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga bersaing di level global,” tandasnya.