Tips Menghindari Investasi Bodong di Era Digital, Cek Dulu 6 Hal Ini!
Di tengah meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi, risiko terjebak dalam penawaran investasi bodong juga semakin besar. Maraknya platform digital yang menawarkan imbal hasil tinggi membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam memilih tempat menaruh dana.
Edukasi menjadi kunci penting agar investor tidak mudah tergiur oleh skema yang tidak jelas legalitas dan mekanismenya.
Perusahaan teknologi finansial yang berfokus pada layanan investasi pun menilai bahwa informasi yang tepat dan mudah dipahami masyarakat dapat membantu menekan angka korban investasi ilegal. Literasi keuangan yang kuat menjadi benteng awal sebelum seseorang memutuskan untuk menanam modal, baik melalui instrumen reksa dana, obligasi, maupun saham.
Salah memilih platform atau penyedia layanan dapat berdampak pada kerugian yang tidak sedikit. Berikut sejumlah hal yang perlu diperiksa untuk menghindari investasi bodong di era digital.
1. Pastikan Legalitas Platform dan Izin dari Regulator
Salah satu indikator penting dalam memilih layanan investasi adalah memastikan legalitasnya. Dalam siaran pers, Bibit menegaskan pentingnya berinvestasi melalui platform yang sudah diawasi otoritas resmi.
Misalnya saja, berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bibit sendiri sudah diawasi OJK dan memiliki lisensi sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, serta ditunjuk sebagai Mitra Distribusi Resmi SBN oleh Kementerian Keuangan RI.
2. Edukasi melalui Informasi yang Legal dan Logis
Head of PR & Corporate Communication Bibit, William, menekankan pentingnya edukasi publik. “Melalui kemitraan dengan media, kami meyakini bahwa masyarakat akan teredukasi dan akhirnya memilih untuk berinvestasi dengan cara-cara yang benar dalam rangka membangun masa depan keuangan yang lebih baik," ujarnya sebagaimana dikutip dari siaran pers, Sabtu, 15 November 2025.
Konten edukatif yang kredibel, dapat menjadi panduan masyarakat untuk memverifikasi suatu tawaran investasi.
3. Cek Reputasi Platform
Di antara indikator lain yang bisa dilihat adalah rekam jejak dan pengakuan yang diterima sebuah platform. Salah satunya saja, Bibit, yang baru meraih penghargaan “Produk Aplikasi Investasi Terfavorit” di Anugerah Produk Indonesia 2025.
Bibit meraih penghargaan di API 2025
“Bagi kami, hal terpenting yang mendorong kami melakukan apa yang kami lakukan adalah fokus membantu masyarakat Indonesia membangun masa depan keuangan yang lebih baik lewat investasi yang benar," papar William.
Dalam penilaian penghargaan tersebut, metode yang digunakan berbasis pendekatan kuantitatif melibatkan lebih dari 1000 responden secara representatif, dengan parameter Top of Mind dan Current Usage.
4. Periksa Ragam Produk Investasi dan Mekanisme Kerjanya
Platform legal dapat menawarkan instrumen yang beragam, namun tetap berada dalam aturan resmi. Bibit, misalnya, menyediakan akses ke reksa dana, saham, dan Surat Berharga Negara (SBN) baik di pasar primer maupun sekunder, termasuk ORI, SBR, ST, SR, FR, dan Project Based Sukuk.
Masyarakat perlu memahami setiap instrumen sebelum membeli agar tidak hanya tergiur imbal hasil.
5. Kenali Riwayat dan Perkembangan Platform
Riwayat pengembangan aplikasi atau platform yang jelas, menunjukkan komitmen jangka panjang dan bukan skema yang muncul tiba-tiba seperti pola umum investasi bodong.
6. Hindari Imbal Hasil Tidak Masuk Akal
Terakhir, yaitu perlunya memilih investasi yang legal dan logis. Penawaran yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat umumnya tidak sesuai mekanisme pasar modal yang sebenarnya.
Dengan memeriksa sejumlah aspek tersebut, masyarakat dapat meminimalkan risiko menjadi korban investasi ilegal. Ingat, keterbukaan informasi, pengecekan legalitas, serta pemahaman cara kerja produk investasi merupakan langkah awal yang penting sebelum memutuskan menempatkan dana pada platform digital apa pun.