AI, Semikonduktor, hingga Energi Hijau: Mesin Baru Ekonomi Asia Pasifik

Transformasi digital.
Transformasi digital.

Kendati stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, namun masih ada beberapa dinamika baik global maupun domestik yang membuat investor ragu untuk mengambil keputusan investasi, eskalasi geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah, dan tantangan struktural di dalam negeri membuat pasar keuangan Indonesia akan bergerak secara hati-hati.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Senior Portfolio Manager, Asia Pacific Equities, Manulife Investment Management, Marco Giubin, beberapa negara di kawasan ini sedang menyiapkan gelombang ekspansi ekonomi yang ditopang oleh pemulihan manufaktur, peningkatan belanja konsumen, serta akselerasi transformasi digital.

Bicara transformasi digital tidak terlepas dari siklus teknologi, terutama yang terkait dengan revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu penopang ekonomi di Asia Pasifik pada tahun lalu.

Publikasi terbaru Dana Moneter Internasional atau IMF menunjukkan bahwa 2026 akan diwarnai pertumbuhan ekonomi kawasan 'Emerging and Developing Asia' tetap resilien, dengan potensi pertumbuhan sekitar lima persen.

Salah satu sinyal kuat datang dari pasar modal, yaitu pasar saham dari beberapa negara di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan mencetak rekor pada 2026, dengan pipeline IPO yang sangat kuat, megadeals besar, serta berbagai aktivitas pendanaan ekuitas yang mengindikasikan dinamika pertumbuhan perusahaan-perusahaan di kawasan ini.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa Asia Pasifik sedang memasuki fase ekspansi bisnis yang menarik bagi investor global, mulai dari Korea Selatan dan Taiwan yang memimpin inovasi teknologi, hingga India dan negara-negara ASEAN yang terus memperluas pasar domestiknya," kata Marco, Kamis, 5 Maret 2026.

Selain itu, tren global seperti relokasi manufaktur, diversifikasi rantai pasok, dan peningkatan kebutuhan teknologi membuat Asia Pasifik menjadi wilayah yang mendapat aliran modal signifikan.

China, meskipun menghadapi perlambatan struktural, tetap menjadi penggerak penting dalam ekosistem industri regional. Negara lain yang diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global juga menunjukkan kinerja kuat, mengimbangi risiko ekonomi global yang masih ada.

Sementara itu, prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia berpotensi meningkatkan likuiditas dan minat investasi ke kawasan Asia Pasifik di sepanjang 2026.

Marco menjelaskan bahwa dalam konteks sektor, beberapa area yang dinilai paling prospektif di Asia Pasifik antara lain teknologi semikonduktor, kesehatan, dan bioteknologi, ritel serta energi baru terbarukan dan infrastruktur hijau.

Di sektor teknologi semikonduktor, didorong oleh permintaan global akan AI, infrastruktur digital, dan perangkat pintar, negara-negara seperti Korea Selatan dan Taiwan terus memperluas kapasitas teknologi mereka.

Sementara itu, lonjakan inovasi bioteknologi pascapandemi Covid-19 mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan di bidang kesehatan dan bioteknologi di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Konsumen kelas menengah, India dan Asia Tenggara diprediksi mengalami peningkatan daya beli yang signifikan, mendorong peluang investasi di sektor ritel, gaya hidup, dan jasa keuangan.

"Asia Pasifik juga terus berakselerasi untuk memanfaatkan dan memasyarakatkan energi baru terbarukan dan infrastruktur hijau, mulai dari transisi energi, penggunaan panel surya, hingga kendaraan listrik," jelas Marco.

Bagi investor Indonesia yang ingin mengakses potensi pertumbuhan Asia Pasifik dengan lebih mudah, menurut Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja, bisa memilih Reksa Dana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF).

Produk ini menawarkan eksposur ke berbagai saham syariah unggulan di kawasan Asia Pasifik, dikelola secara profesional dengan pendekatan investasi berbasis pertumbuhan.

Freddy menambahkan bahwa beberapa fitur utama MANSYAF seperti diversifikasi lintas negara dan fokus pada saham syariah yang berkualitas, membantu investor menangkap peluang di sektor-sektor yang berkembang pesat di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Produk ini berdenominasi dollar AS, menawarkan perlindungan tambahan terhadap volatilitas Rupiah, yang menurut berbagai analisis masih berpotensi mengalami tekanan episodik akibat dinamika global.

“Investor Indonesia dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan yang lebih dinamis tanpa harus menavigasi kompleksitas investasi global secara langsung,” ungkap Freddy.