Belajar dari Kasus Deepfake AI di Semarang, Begini Peran Penting Orangtua di Dunia Digital

Kasus penyebaran video deepfake AI di Semarang yang menampilkan wajah guru dan teman sekolah dalam konten tak senonoh, memicu kekhawatiran publik terhadap penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan.
Peristiwa ini bukan hanya soal pelanggaran hukum dan moral, tapi juga menjadi pengingat penting bagi orangtua untuk lebih aktif menjaga keamanan digital anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Menurut Psikolog Meity Arianty, orangtua memiliki peran besar dalam membentuk perilaku dan kesadaran anak agar lebih bijak memanfaatkan teknologi, termasuk AI.
Peran orangtua tidak bisa digantikan teknologi
Meity menjelaskan, di era digital yang serba cepat, orangtua harus menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman tentang dunia maya.
“Orangtua dapat menjaga keamanan anak di tengah pesatnya penggunaan AI dengan menerapkan pendekatan yang proaktif dan edukatif,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (17/10/2025).
Menurut dia, pendekatan ini bukan sekadar mengawasi, tetapi juga melibatkan komunikasi yang terbuka dan konsisten dengan anak.
“Ajarkan anak tentang bahaya dan risiko yang mungkin muncul di dunia digital, termasuk manipulasi gambar atau video menggunakan teknologi AI,” tambahnya.
Dengan begitu, anak akan memahami bahwa dunia digital memiliki konsekuensi nyata, dan bukan sekadar ruang bermain tanpa batas.
Lebih lanjut, Meity menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua.
1. Edukasi soal privasi digital sejak dini
Salah satu langkah penting yang disarankan Meity adalah memberikan edukasi tentang privasi digital sejak dini.
Ia menekankan, anak perlu memahami nilai dari data pribadi dan pentingnya menjaga informasi tersebut agar tidak disalahgunakan.
“Orangtua harus mengajarkan pentingnya privasi, serta cara melindungi data pribadi secara online,” tegas Meity.
Menurutnya, banyak anak dan remaja yang tanpa sadar membagikan data pribadi di internet, seperti foto, lokasi, hingga informasi identitas.
Hal-hal sederhana ini bisa dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk membuat konten manipulatif seperti deepfake.
“Memberikan edukasi tentang privasi digital dan cara menghindari risiko di dunia maya juga penting agar anak merasa lebih terlindungi di masa depan,” katanya.
2. Mengenalkan etika dan empati digital
Selain memahami teknologi, Meity juga menyoroti pentingnya membangun etika digital sebagai bagian dari pendidikan karakter anak.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan emosional dan empati tetap menjadi pondasi utama dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
“Orangtua juga perlu mengenalkan anak pada etika digital, seperti bertanggung jawab atas apa yang dibagikan di media sosial dan bagaimana mengenali serta menghindari potensi penyalahgunaan teknologi,” ujar Meity.
Dengan menanamkan empati, anak akan lebih mampu memahami dampak dari tindakan online mereka terhadap orang lain.
“Anak perlu tahu bahwa di balik layar, ada manusia lain yang bisa terluka karena perilaku digital yang tidak bertanggung jawab,” lanjutnya.
3. Bangun komunikasi yang aman dan terbuka
Meity menekankan, komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak menjadi kunci utama dalam mencegah penyalahgunaan teknologi.
Psikolog yang berpraktik di Depok ini menilai, anak harus merasa nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
“Ciptakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk diskusi agar anak menjadikan orangtuanya tempat pertama untuk mendapatkan informasi yang berimbang,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, anak akan terbiasa untuk mencari solusi bersama orangtuanya ketika menghadapi masalah digital, bukan justru menutup diri atau mencari jawaban di tempat lain yang belum tentu aman.
Meity menegaskan, menghadapi pesatnya perkembangan AI, tugas orangtua bukan untuk menakuti anak, tetapi menyiapkan mereka agar lebih tangguh secara mental dan moral.
Ia berharap kasus di Semarang menjadi momentum refleksi bagi masyarakat bahwa kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter dan kesadaran digital di rumah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.