Dari Pesawat Garuda hingga Smelter Amman, Rosan: PMDN Kuartal III-2025 Tembus Rp 279,4 Triliun
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani melaporkan, telah terjadi peningkatan signifikan pada realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di kuartal III-2025.
Dia merinci, dari total investasi kuartal III-2025 yang mencapai Rp 491,4 triliun, PMDN tercatat berkontribusi sebesar Rp 279,4 triliun atau 56,9 persen, sementara Penanaman Modal as6ing (PMA) hanya sebesar Rp 212 triliun atau 43,1 persen.
"Buat kami, ini suatu hal yang positif. Karena kalau melihat target yang ada ke depannya, ini kan cukup tinggi. Karena targetnya meningkat setiap tahunnya. Maka, kami akan bekerja keras untuk bisa memastikan bahwa target ini seluruhnya bisa tercapai," kata Rosan di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Jumat, 17 Oktober 2025.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Dia pun membeberkan sejumlah faktor yang turut mendongkrak secara signifikan eealisasi PMDN di kuartal III-2025 tersebut. Misalnya seperti adanya penambahan gerbong baru kereta MRT Jakarta, smelter tambahan milik Amman Mineral Industri, dan pesawat baru Garuda Indonesia.
Rosan menambahkan, pihaknya kini juga sudah menerapkan skema fiktif positif dalam perizinan investasi, yang memudahkan investor untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.
Dari aturan baru yang diterapkan ini, Rosan memastikan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan 132 izin investasi melalui Online Single Submission (OSS).
"Perizinan yang menyangkut beberapa kementerian atau badan lain, itu bisa dikeluarkan oleh kementerian kami sesuai dengan surface level agreement yang sudah disepakati. Jadi tidak ada lagi keterlambatan," ujarnya.
Sebagai informasi, sebelumnya Rosan juga telah menyampaikan bahwa sektor industri logam dasar, barang logam, barang bukan mesin dan peralatannya, menjadi penyumbang utama dari realisasi investasi kuartal III-2025 dengan total penanaman modal mencapai Rp 62 triliun.
Selanjutnya, sektor pertambangan sebesar Rp 55,9 triliun, transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp 52,6 triliun, jasa lainnya Rp 44,3 triliun, serta perdagangan dan reparasi Rp 34,5 triliun.