Jejak Kolonial yang Masih Hidup: Pondok Boro, Hunian Rp 4.000 di Kauman Semarang

Semarang, Pondok Boro, pondok boro semarang, alamat pondok boro semarang, pondok boro kauman semarang, sewa pondok boro, biaya pondok boro, Jejak Kolonial yang Masih Hidup: Pondok Boro, Hunian Rp 4.000 di Kauman Semarang

 Di tengah gemerlap dan padatnya kawasan pusat Kota Semarang, Jawa Tengah, masih berdiri satu tempat yang menjadi saksi panjang perjuangan warga kecil mencari tempat bernaung.

Namanya Pondok Boro, sebuah penginapan sederhana yang telah bertahan sejak masa kolonial Belanda dan hingga kini masih menjadi rumah sementara bagi para perantau dengan biaya sewa hanya Rp 4.000 per hari.

Berlokasi di kawasan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Pondok Boro dikenal luas di kalangan pedagang kecil, kuli angkut, dan pekerja serabutan yang menggantungkan hidup di sekitar Pasar Johar dan pusat-pusat keramaian kota.

“Pondok Boro ini dihuni oleh penginap aktif sekitar 90-an orang dan kalau didata mungkin sampai 200-an orang,” ungkap Taryono, salah satu penjaga yang telah bekerja di sana selama 15 tahun, diutip , Jumat (10/10/2025).

Memasuki lorong bangunan, deretan dipan kayu panjang tampak memenuhi setiap bilik.

Ada bilik tengah, bilik lor, bilik kidul, bilik loteng, hingga bilik sragen.

Alas tidur mereka berasal dari spanduk bekas, sementara di sisi lain berdiri lemari kayu sederhana milik penghuni.

Meski sederhana, tempat ini menyediakan kebutuhan dasar seperti kamar mandi bersama dan listrik.

Awal mula adanya Pondok Boro

Semarang, Pondok Boro, pondok boro semarang, alamat pondok boro semarang, pondok boro kauman semarang, sewa pondok boro, biaya pondok boro, Jejak Kolonial yang Masih Hidup: Pondok Boro, Hunian Rp 4.000 di Kauman Semarang

Maryadi (70) salah satu penghuni tertua di Pondok Boro dan sejak kecil hidup kawasan Pengianapan Pondok Boro Semarang. Terletak di tengah perkampungan di Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Jumat (10/10/2025). (Fatah Akrom/KOMPAS.com)

Taryono menuturkan, Pondok Boro dulunya merupakan gudang rempah-rempah yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Setelah kemerdekaan, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi tempat penginapan murah bagi masyarakat kecil dan para perantau.

Awalnya daerah Kauman dan sekitaran Pasar Johar banyak pedagang asongan, kuli kasar, dan masyarakat kecil perantau yang tidur di emperan pasar atau pertokoan saat malam.

"Kemudian setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi para perantau karena banyaknya orang yang kesulitan mencari tempat tinggal murah di Kota Semarang,” kata dia.

Sistem pembayaran di Pondok Boro

Sistem pembayaran di Pondok Boro pun sangat fleksibel. Penghuni dapat membayar harian, mingguan, atau bulanan sesuai kemampuan.

“Terkadang biaya sewa kami gunakan untuk renovasi meskipun tidak kami lakukan secara spesifik, cuma tambal sulam tembok saja. Kalau renovasi penuh ya kami sepertinya tidak bisa karena biayanya bisa ratusan juta,” jelasnya.

Menurut Taryono, pengelolaan penginapan ini tidak berorientasi pada keuntungan.

Pondok Boro lebih mengedepankan fungsi sosial untuk membantu masyarakat kecil bertahan di tengah kota.

“Penginapan Pondok Boro ini sifatnya sosial, karena kalau dihitung pun sepertinya keuntungannya nggak ketemu. Bayar listrik sebulan bisa hampir satu juta, bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bisa jutaan per tahun,” tambahnya.

Rumah kehidupan bagi perantau kecil

Salah satu penghuni tertua, Maryadi, telah tinggal di Pondok Boro sejak lahir pada 1955.

Ia menyebut tempat itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Ibu saya dulu mempunyai warung di dekat Sungai Koping. Karena ada penggusuran bantaran sungai tahun 1985, ibu saya akhirnya berjualan di depan Pondok Boro sehingga sempat saya memutuskan tinggal di sini,” ungkapnya.

Maryadi, yang kini bekerja sebagai pembuat kaca rias, mengenang masa-masa sulit ketika kawasan tersebut masih rawan banjir.

“Dulu waktu kali itu masih sering banjir, kamar kami bisa kerendam sampai semata kaki,” katanya.

Ia mengaku telah mencoba berbagai pekerjaan sejak muda, mulai dari berjualan kopi giling, nasi bungkus, hingga menjadi buruh kasar di kawasan Pecinan.

Meski hidup serba terbatas, Maryadi merasa bersyukur masih memiliki tempat untuk beristirahat.

“Ya orang seperti kami, yang penting bisa istirahat, Mas. Dalam kondisi seperti ini kami masih merasa senang, dan sudah cukup untuk hidup,” tambahnya.

Warisan sosial yang tetap bertahan

Meski bangunan tua itu jauh dari kesan modern, Pondok Boro telah menjadi simbol ketahanan masyarakat kecil di tengah tekanan urbanisasi.

Dengan biaya sewa yang sangat terjangkau, tempat ini terus memberi ruang hidup bagi mereka yang tersisih oleh mahalnya harga hunian di perkotaan.

Bagi para penghuninya, Pondok Boro bukan sekadar tempat tidur, melainkan bagian dari kisah panjang perjuangan warga kecil mempertahankan hidup di tengah kota yang terus berubah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.