Petambak Udang Lampung Tertekan, Harga Jual Turun Pasca-Isu Cesium-137
Petambak udang tradisional di Lampung tengah menghadapi tekanan berat. Harga jual udang mereka menurun drastis setelah muncul isu bahwa produk udang mengandung isotop nuklir Cesium-137 (Cs-137).
Arie Suharso, perwakilan petambak udang dari Dipasena, Tulang Bawang, mengatakan bahwa kasus ini langsung berdampak pada industri udang nasional.
Meski pemerintah bergerak cepat dengan mewajibkan sertifikasi bebas Cs-137 bagi eksportir untuk menjaga kelancaran ekspor, khususnya ke Amerika Serikat, Arie menilai langkah tersebut belum menyentuh masalah yang dialami petambak di lapangan.
“Sampai hari ini harga masih anjlok, dan belum ada upaya dari pemerintah untuk membantu petambak kecil yang menjadi korban reputasi dan ekonomi akibat kasus ini,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (12/11/2025) petang.
Arie mengungkapkan, saat ini harga udang di tingkat petambak hanya Rp 53.000 per kilogram untuk ukuran 60 ekor, jauh lebih rendah dibanding harga normal yang biasanya berkisar Rp 65.000–Rp 75.000 per kilogram. Sementara itu, biaya operasional untuk memproduksi satu kilogram udang mencapai Rp 30.000–Rp 40.000.
“Penurunan harga ini bukan sekadar soal pendapatan, tetapi mengancam keberlanjutan usaha tambak di tengah tingginya biaya operasional dan ancaman penyakit udang yang terus menghantui setiap siklus budidaya,” jelasnya.
Arie menekankan bahwa persoalan ini seharusnya menjadi tanggung jawab negara, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan dan Pembudidaya Ikan.
Ia juga menyoroti perhatian pemerintah yang dianggap timpang. Menurutnya, petambak kecil merasa terabaikan karena pemerintah lebih fokus pada pembangunan tambak modern senilai Rp 7,5 triliun di Nusa Tenggara Timur.
“Upaya menstabilkan harga dan menekan biaya produksi di tambak rakyat nyaris tak terlihat,” katanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.