Top 6+ Cara Mengatasi Rasa Kewalahan di Tengah Padatnya Aktivitas Menurut Psikolog

Di tengah padatnya rutinitas dan derasnya arus informasi setiap hari, banyak orang merasa kewalahan.
Mulai dari pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga terpaan berita global, semua bisa membuat pikiran penat dan kesehatan mental terganggu.
Psikolog Klinis, Praktisi, sekaligus Edukator isu kesehatan mental, Dra. Tika Bisono, MPsiT., Psikolog menekankan, pentingnya mengenali sinyal kewalahan dan mencari cara sehat untuk mengatasinya.
Cara mengatasi rasa kewalahan
Berikut enam tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa kewalahan dalam keseharian:
1. Buat batasan dengan berita
Konsumsi informasi yang terlalu banyak justru bisa meningkatkan stres. Tika menyarankan agar setiap orang lebih bijak dalam mengatur paparan berita.
“Tanyakan pada diri sendiri, seberapa banyak konten berita yang nyaman kamu konsumsi, dan seberapa sering. Tidak masalah untuk beristirahat sejenak dari berita, bahkan hal ini bisa bermanfaat,” jelas Tika dalam Webinar Fenomena Kesepian pada Perantau: Bagaimana Mengatasinya, Sabtu (4/10/2025).
Beberapa cara yang bisa dilakukan misalnya hanya mengecek berita beberapa kali dalam sehari, mematikan notifikasi di ponsel, atau berhenti mengikuti akun media sosial yang memicu kecemasan.
Selain itu, sebaiknya hindari membaca berita tepat sebelum tidur agar tubuh punya waktu rileks dan tidur lebih nyenyak.
2. Gunakan latihan grounding
Saat isu global terasa terlalu berat, teknik grounding bisa membantu menenangkan pikiran.
“Kamu bisa mencoba mindfulness, latihan grounding sederhana, atau berjalan-jalan di alam. Aktivitas ini membantu mengembalikan diri ke momen sekarang dan memberi rasa tenang,” ungkap dia.
Teknik ini membantu kita tidak larut dalam kekhawatiran berlebihan, melainkan kembali fokus pada apa yang sedang terjadi di sekitar.
3. Tetapkan waktu tanpa ponsel
Kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus membaca berita buruk sering membuat pikiran semakin penuh. Untuk mengatasinya, cobalah membuat zona bebas ponsel.
“Misalnya, matikan notifikasi atau ubah ponsel ke mode pesawat di waktu tertentu. Kamu juga bisa menjadikan kamar tidur atau meja makan sebagai area bebas ponsel, sehingga ada waktu yang tidak terganggu oleh bunyi notifikasi,” kata Tika.
Membatasi penggunaan ponsel memberi ruang untuk fokus pada diri sendiri maupun orang terdekat tanpa distraksi.
4. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan dan tindakan positif
Saat menghadapi masalah besar, sering kali kita merasa tidak berdaya. Padahal, lanjut Tika, tindakan kecil tetap punya arti penting.
“Tindakan kecil seperti menandatangani petisi, menjadi relawan di komunitas, atau menyumbangkan barang, langkah positif dapat membantu mengurangi rasa tidak berdaya dan memberi makna baru,” tuturnya.
Dengan begitu, energi yang biasanya terkuras untuk merasa cemas bisa dialihkan ke hal-hal produktif.
5. Izinkan diri untuk beristirahat
Banyak orang menganggap istirahat hanya boleh dilakukan setelah bekerja keras. Padahal, ia menyebutkan, istirahat adalah bagian penting dari kesejahteraan.
“Meluangkan waktu untuk diri sendiri bukan berarti berhenti peduli pada sekitar, justru itu adalah bentuk merawat diri agar bisa terus peduli pada hal lain,” pungkasnya.
Aktivitas sederhana seperti membaca buku, tidur siang, melukis, atau yoga bisa membantu tubuh dan pikiran pulih dari rasa lelah.
6. Bicara dengan orang lain
Terakhir, jangan ragu untuk membuka diri kepada orang lain. Menurut Tika, berbagi perasaan bisa membantu meringankan beban batin.
“Habiskan waktu berkualitas bersama orang-orang terdekat, keluarga, atau sahabat. Kamu juga bisa membagikan perasaanmu dengan seseorang yang dipercaya, misalnya pasangan atau orang penting lainnya,” sarannya.
Dengan dukungan sosial yang kuat, rasa kewalahan bisa berkurang dan digantikan dengan rasa nyaman serta diterima.
Rasa kewalahan memang sering muncul dalam keseharian, terutama saat dihadapkan dengan tuntutan hidup yang tinggi.
Namun, dengan langkah sederhana seperti membatasi konsumsi berita, beristirahat, hingga berbicara dengan orang lain, kesehatan mental bisa tetap terjaga.