Waketum MUI Ungkap Budaya Santri Ngecor Gedung di Pesantren Sudah Sejak Lama

Waketum MUI Ungkap Budaya Santri Bangun Gedung di Pesantren Sudah Sejak Lama
Waketum MUI Ungkap Budaya Santri Bangun Gedung di Pesantren Sudah Sejak Lama

 Tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, menyisakan duka mendalam. Sebanyak 13 santri dinyatakan meninggal dunia dan lebih dari 100 orang lainnya menjadi korban, baik luka maupun masih dalam proses evakuasi.

Namun di balik duka ini, sorotan publik juga mengarah pada tradisi pembangunan gedung di lingkungan pesantren. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, mengungkap bahwa sejak dulu budaya santri membangun gedung di pesantren sudah menjadi hal lumrah.

“Saya orang pesantren, dari pesantren zaman dulu salaf. Yang bangun kombongan, kalau sekarang itu dormitory atau  Asrama santri. Kalau dari zaman saya pesantren dulu, yang bangun itu santri,” ujar Marsudi saat hadir dalam program tvOne, dikutip Sabtu 4 Oktober 2025.

“Itu dari zaman dulu begitu. Bahkan ketika mau bikin batanya, bata untuk bangun, ya kita roan. Roan itu kerja bakti. Kerja bakti itu ya kita bikin batanya sendiri, dibakar kemudian dibangun,” Sambungnya.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud

Waketum MUI itu juga menuturkan bahwa di masa lalu, asrama santri atau kombongan biasanya dibangun oleh para santri sendiri berdasarkan kelompok asal daerah.

“Misalnya kayak gini, santri dari Cilacap, ada 50 atau 100 orang, nanti akan membangun asrama kombongan itu, dinamakan santri Cilacap. Santri dari Kebumen, dari Purwokerto, atau dari kota mana, nanti nge-grup sendiri, bikin kombongan sendiri,” jelasnya.

Kebiasaan ini bahkan dilakukan sejak pembuatan material. Para santri membuat batu bata, membakarnya, hingga menyusunnya menjadi dinding dengan pengawasan orang-orang yang dianggap mampu di bidang bangunan.

“Kalau tenaga, ya biasalah dilakukan tenaga dari santri. Dari zaman saya pesantren, bikin batanya, setelah jadi, kemudian kita pasang batanya dengan diawasi tentu oleh orang-orang yang dianggap mampu dan capable dalam konteks membangun,” ucap KH Marsudi.

Pentingnya Melibatkan Ahli Konstruksi

Meski begitu, KH Marsudi menekankan bahwa dalam pembangunan pesantren tetap harus melibatkan para ahli konstruksi agar risiko dapat diminimalisir.

“Ketika membangun, kemudian konsultasi dengan orang-orang ahlinya itu pasti. Karena ketika kita sudah mempunyai rencana mau membangun, ya tanyakan kepada ahlinya,” katanya.

Ia menambahkan, tragedi ambruknya bangunan tidak hanya terjadi di pesantren, melainkan bisa juga menimpa rumah, jembatan, atau gedung tinggi. Karena itu, pesantren tidak bisa dipukul rata sebagai pihak yang lalai.

“Ambruknya sebuah bangunan kan tidak hanya di pesantren Al Khoziny. Ada jembatan ambruk, ada rumah ambruk, ada bangunan tinggi ambruk, banyak. Enggak hanya di pesantren,” ungkapnya.

Menurut KH Marsudi, kunci utamanya adalah ikhtiar dengan melibatkan tenaga profesional. “Ikat dulu untanya, baru tawakal. Artinya apa? Hitung segala risikonya dulu. Siapa yang bisa ngitung itu? Ya arsitek, orang yang tahu bangunan. Itu intinya,” tegasnya.

Pakar ITS Sebut Ada Kegagalan Konstruksi

Tim SAR mengevakuas korban Musala Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, (29/9)

Tim SAR mengevakuas korban Musala Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, (29/9)

Sebelumnya diberitakan, pakar konstruksi dari Teknik Sipil Institut Teknologi Sebelas Maret (ITS), Mudji Irawan, menilai pola keruntuhan Ponpes Al Khoziny menunjukkan adanya kegagalan konstruksi. Ia menyebut kerusakan bangunan tersebut terjadi menyeluruh, bukan parsial.

“Kerusakan ini bukan parsial, tapi menyeluruh. Semua elemen strukturnya gagal,” ujar Mudji.

Kondisi bangunan ponpes itu sempat viral di media sosial karena terlihat memiliki bentuk tidak lazim. Bangunan lima lantai itu tampak makin melebar di bagian atas, sementara di bawahnya hanya ditopang tiang kecil dan konstruksi lama dua lantai.

Struktur Bangunan Ponpes Al Khoziny Jadi Sorotan

Struktur Bangunan Ponpes Al Khoziny Jadi Sorotan

Evakuasi Korban Masih Berlangsung

Hingga Jumat malam, 3 Oktober 2025, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) berhasil mengevakuasi 116 orang, dengan 13 di antaranya meninggal dunia.

Proses evakuasi terus dilakukan siang malam dengan dukungan alat berat dan peralatan khusus seperti search cam flexible Olympus dan Xaver 400 wall scanner.

“Alat berat tidak digunakan untuk membongkar seluruh puing sekaligus, melainkan membuka akses menuju titik korban,” kata Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit.

Meski evakuasi diperkirakan bisa selesai Sabtu 4 Oktober 2025, Basarnas memastikan pencarian korban akan dilanjutkan hingga seluruh santri yang tertimbun ditemukan.