Terungkap! Sultan HB X Bongkar Penyebab Keracunan MBG di Yogyakarta

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X

Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi sorotan. Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa permasalahan tersebut bukanlah sesuatu yang rumit untuk ditelusuri penyebabnya. Menurutnya, akar masalah justru terletak pada pola memasak yang kurang tepat.

Sultan mengingatkan bahwa risiko keracunan muncul ketika makanan, khususnya sayur dimasak terlalu dini lalu dikonsumsi beberapa jam kemudian. Pola semacam ini, kata dia, berpotensi besar membuat masakan cepat basi.

Siswa korban keracunan MBG di Kabupaten Bandung Barat

Siswa korban keracunan MBG di Kabupaten Bandung Barat

Sri Sultan menyoroti persoalan kapasitas katering yang seringkali tidak sesuai dengan jumlah pesanan. Ia mencontohkan, jika sebuah katering hanya mampu menyiapkan 50 porsi, namun diminta membuat 100 porsi, maka kualitas masakan sulit terjaga.

“Kalau katering dilihat kapasitas berapa dia sehari membuat paket. Kalau paketnya itu hanya mambu 50 porsi (sehari), disuruh buat 100 porsi, gak bisa,” jelasnya.

“Kalau 50 porsi biasanya dimasak pukul 04.30 untuk dimakan jam 08.00 atau 10.00 pagi, mungkin masih aman. Tapi kalau dipaksa jadi 100 porsi, masaknya bisa dari jam 02.00 atau 02.30 dini hari. Dimakan jam 10 pagi, itu sudah berisiko keracunan,” sambungnya.

Menurut dia, hal ini tidak perlu diteliti dengan rumit menggunakan analisis kimia. Secara logika, makanan yang dimasak dini hari dan baru dikonsumsi beberapa jam kemudian jelas rentan basi.

“Sebenarnya gak rumit cari (penyebab) kenapa keracunan, gak usah menggunakan orang kimia, udah masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam delapan aja sudah mesti basi, udah pasti itu,” kata dia.

Sultan juga mengaitkan pengalamannya ketika membuka dapur umum saat bencana erupsi Gunung Merapi beberapa tahun lalu. Dari pengalaman itu, ia belajar bagaimana pola masak sangat berpengaruh terhadap ketahanan makanan.

“Saya di rumah juga sering masak. Selain itu, saya punya pengalaman empat tahun membuka posko pengungsian Gunung Merapi. Dari situ saya tahu, kalau sayur dimasak dini hari lalu baru dimakan pagi, pasti basi. Jadi sebaiknya sayur dimasak mendekati waktu makan. Kalau yang digoreng, boleh lebih dulu, tapi sayur jangan,” ucapnya.

Lebih lanjut, orang nomor satu di Jogja itu menegaskan bahwa kasus keracunan akan terus berulang jika pola memasak tidak diperbaiki. Ia meminta agar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam program MBG bisa lebih disiplin dalam menyesuaikan waktu memasak dengan waktu konsumsi.

“Selama pola masak tidak berubah, korban tidak akan berkurang,” tandasnya.