Stres Berlebihan, Kapan Harus Datang ke Psikolog?
Setiap orang pasti pernah mengalami stres. Namun, perasaan tertekan yang terlalu sering atau berlarut-larut jangan diabaikan. Dampaknya bukan hanya pada mental, tapi juga kesehatan fisik.
Sayangnya, banyak orang menunda untuk mencari pertolongan profesional karena menganggap masalahnya masih bisa diatasi sendiri.
Menurut psikiater sekaligus pakar kesehatan mental, dr. Jessi Gold, terapi bukan hanya untuk mereka yang sudah berada di titik terendah.
“Sebenarnya, setiap orang bisa mendapatkan manfaat dari terapi. Tidak ada waktu yang salah untuk meminta bantuan,” ujarnya dikutip dari SELF Magazine, Kami (18/9/2025).
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menemui psikolog? Berikut tanda-tanda yang bisa menjadi sinyal penting.
Kapan harus datang ke psikolog?
1. Emosi tidak stabil dan mudah meledak
Jika kamu akhir-akhir ini lebih sering marah, menangis, atau tersinggung karena hal kecil, ini bisa menjadi tanda bahwa kesehatan mental sedang terganggu.
Perubahan emosi yang naik turun drastis biasanya bukan cuma mengganggu diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar.
“Perhatikan bagaimana reaksi kamu terhadap stres sehari-hari. Jika biasanya bisa mengendalikan diri tetapi kini mudah meledak, itu sinyal ada sesuatu yang berubah dalam kesehatan mental,” ungkap Maia Wise, terapis klinis di Washington DC.
Psikolog dapat membantu mengenali akar penyebab ledakan emosi tersebut dan mengajarkan strategi untuk mengelola perasaan dengan lebih sehat.
2. Sulit menjalani aktivitas seperti biasa
Bangun pagi terasa berat, pekerjaan menumpuk tidak sanggup diselesaikan, bahkan aktivitas sederhana seperti makan atau bersih-bersih rumah menjadi beban.
Ilustrasi menangis.
Jika hal ini terus terjadi, psikolog Riana Elyse Anderson dari Universitas Michigan menilai ada gangguan pada keseimbangan mental.
“Jika biasanya kamu bisa menyelesaikan tugas dengan baik, tetapi sekarang rasanya seperti menanggung beban berton-ton batu bata, itu tanda diri kamu berfungsi berbeda dari biasanya,” ujar dia.
Melalui terapi, seseorang bisa dibantu menemukan cara agar energi kembali terkendali dan rutinitas terasa lebih ringan.
3. Merasa kehilangan arah hidup
Banyak orang pernah merasa hidupnya tidak ada perubahan, tetapi bila perasaan ini menetap terlalu lama, bisa menimbulkan frustasi.
Meski sudah mencoba berbagai cara, tetap saja merasa buntu. Psikolog Kathryn Gordon, penulis The Suicidal Thoughts Workbook mengatakan, berkonsultasi dengan psikolog bisa membantu kamu menemukan motivasi hidup.
“Terapi dapat membantu mengenali hambatan menuju kebahagiaan dan memberikan panduan untuk melewatinya,” jelasnya.
4. Terjebak dalam pola buruk
Mengulang hubungan toksik, kecanduan belanja, atau makan berlebihan bisa menjadi pola yang sulit diputus. Seseorang mungkin sadar bahwa kebiasaan itu merugikan, tetapi tetap melakukannya.
“Sering kali seseorang tahu perilaku itu tidak sehat, tetapi tetap melakukannya karena merasa tidak bisa lepas,” ucap psikolog Emilie B. Joseph.
Dengan bantuan psikolog, siklus ini bisa diputuskan melalui eksplorasi penyebab mendasar, serta membangun kebiasaan yang lebih sehat.
5. Kewalahan menghadapi tekanan
Stres yang normal biasanya masih bisa diatasi dengan istirahat atau hiburan. Namun, jika perasaan kewalahan terus-menerus muncul hingga mengganggu konsentrasi dan membuat tubuh mudah lelah, itu sinyal perlu bantuan.
“Rasa kewalahan bisa muncul dari banyak faktor, mulai dari pekerjaan, hubungan, hingga emosi pribadi,” jelas terapis Brit Barkholtz.
Psikolog dapat membantu mengurai perasaan ini dan memberikan cara yang lebih sehat untuk menyalurkannya.
6. Menghadapi perubahan besar dalam hidup
Pindah ke kota baru, kehilangan pekerjaan, atau memasuki fase baru seperti menikah maupun menjadi orangtua sering memicu kecemasan.
Menurut terapis Jessica Gaddy Brown, terapi bisa membantu menghadapi transisi besar dalam hidup dengan lebih tenang. Kamu juga bisa merasa lebih siap menghadapi perubahan tersebut.
“Terapi menawarkan ruang objektif untuk memahami pikiran dan emosi, sehingga perubahan terasa lebih mudah dijalani,” jelasnya.
7. Trauma yang belum terselesaikan
Trauma, baik karena kehilangan orang terdekat, kecelakaan, atau pengalaman kekerasan, sering meninggalkan jejak emosional yang mendalam.
Bahkan setelah bertahun-tahun, luka itu bisa kembali terasa melalui mimpi buruk, kecemasan, atau reaksi berlebihan.
“Terapi membantu mengeksplorasi dan memproses dampak emosional, sehingga seseorang bisa memahami respons emosionalnya dan belajar menghadapi pemicu dengan lebih sehat,” kata Brown.
Datang ke psikolog bukan berarti lemah, melainkan bentuk kepedulian pada diri sendiri.
Jika tanda-tanda di atas mulai terasa, jangan ragu untuk berkonsultasi. Dengan dukungan profesional, beban mental bisa terasa lebih ringan dan hidup pun lebih seimbang.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.