Sohib Elon Musk Jadi Bos NASA

Elon Musk di Pelantikan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (AS).
Elon Musk di Pelantikan Donald Trump Menjadi Presiden Amerika Serikat (AS).

Sohib Elon Musk resmi menjadi bos Badan Penerbangan dan Antariksa atau NASA. Ya, Senat Amerika Serikat atau AS mengukuhkan Jared Isaacman, seorang miliarder, astronot swasta, dan bestie pendiri SpaceX, Elon Musk, sebagai kepala NASA yang baru.

Pengesahan tersebut disetujui dengan selisih suara yang besar. Isaacman (42), membiayai dan ikut serta dalam dua penerbangan berawak sipil SpaceX, salah satunya menampilkan perjalanan luar angkasa.

Hubungan dekatnya dengan perusahaan Elon Musk muncul ketika NASA semakin bergantung pada SpaceX untuk berbagai misi.

Jared Isaacman membangun kekayaannya dengan mendirikan Shift4, sebuah perusahaan pemrosesan pembayaran yang kini menangani miliaran transaksi setiap tahunnya.

Perjalanannya untuk menjadi administrator NASA tidaklah mudah. ​​Presiden AS Donald Trump pertama kali menominasikan Isaacman pada Desember 2024, memujinya sebagai "pemimpin bisnis yang berprestasi, filantropis, pilot, dan astronot," seperti dikutip dari situs Russia Today, Jumat, 19 Desember 2025.

Donald Trump menarik pencalonannya pada Mei 2025 di tengah perseteruan publiknya dengan Elon Musk.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada pertengahan tahun ini, Trump menuduh Musk "benar-benar kehilangan kendali" dan menjadi "bencana".

Ia mengklaim jika Elon Musk telah meminta "salah satu teman dekatnya untuk memimpin NASA," yang digambarkan Trump sebagai "tidak pantas." Isaacman sebelumnya telah memberikan sumbangan politik kepada kandidat Partai Demokrat.

Donald Trump juga mencalonkan kembali Jared Isaacman pada November kemarin, ketika hubungannya dengan Elon Musk mulai membaik.

Selama sidang konfirmasi Senat AS pada awal Desember, Isaacman mengatakan dirinya ingin mengirim astronot AS kembali ke Bulan sebelum China dan berusaha menampilkan dirinya sebagai sosok yang independen dari Musk.

Konfirmasi ini muncul ketika AS dan China mengejar ambisi luar angkasa yang saling bersaing, termasuk misi ke bulan dan perluasan jaringan satelit.

China mengoperasikan stasiun luar angkasanya sendiri dan melakukan penerbangan berawak secara teratur, sementara AS sangat bergantung pada mitra komersial seperti SpaceX dan Blue Origin, serta kemitraan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), termasuk dengan Rusia, setelah program pesawat ulang-alik NASA dihentikan pada 2011.