Kontroversial! Elon Musk Sebut Tabungan Pensiun Tak Lagi Penting, Kenapa?

Elon Musk
Elon Musk

CEO Elon Musk kembali memicu kontroversi dengan pandangannya soal masa depan ekonomi dan pekerjaan. Ia menilai, menabung untuk masa pensiun di masa depan tidak lagi relevan karena perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan robotik akan mengubah total sistem ekonomi dunia.

Musk menyebut bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir soal tabungan jangka panjang seperti yang selama ini dianjurkan oleh para penasihat keuangan. “Jangan khawatir menyimpan uang untuk pensiun dalam 10 atau 20 tahun. Itu tidak akan penting,” kata Musk, sebagaimana dikutip dari Fortune, Senin, 27 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan ini ia dasarkan pada keyakinannya bahwa dunia akan memasuki era kelimpahan berkat AI, robot, dan teknologi energi yang semakin maju. Menurutnya, peningkatan produktivitas akan begitu besar sehingga konsep kelangkaan tidak lagi berlaku.

Musk bahkan memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, kecerdasan buatan akan melampaui kemampuan manusia secara kolektif. “Pada 2030, AI akan melampaui kecerdasan semua manusia jika digabungkan,” ujarnya. 

Ia juga memperkirakan jumlah robot humanoid akan melebihi jumlah manusia di bumi, yang kemudian akan menggantikan banyak jenis pekerjaan, terutama pekerjaan kantoran.

“AI bisa melakukan setengah atau lebih pekerjaan yang ada saat ini, kecuali yang membutuhkan manipulasi fisik kompleks,” tambahnya.

Dalam skenario tersebut, Musk membayangkan dunia tanpa keterbatasan ekonomi seperti sekarang. Ia menyebut konsep pendapatan universal, bukan dalam bentuk bantuan sosial, melainkan akses tak terbatas terhadap barang dan jasa.

“Akan ada ‘pendapatan universal: kamu bisa punya apa pun yang kamu mau’,” katanya.

Dalam pandangannya, hubungan antara pekerjaan, gaji, dan standar hidup akan berubah total. Pekerjaan tidak lagi menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup, melainkan pilihan seperti hobi.

“Kalau kamu mau bekerja, itu seperti kamu bisa menanam sayuran sendiri di rumah atau membelinya di toko. Menanam itu lebih sulit, tapi sebagian orang tetap melakukannya karena mereka suka,” sambung Musk.

Namun, ia juga mengakui bahwa transisi menuju dunia tanpa pekerjaan wajib ini tidak sepenuhnya tanpa risiko. Salah satu kekhawatiran adalah hilangnya makna hidup bagi sebagian orang ketika pekerjaan tidak lagi menjadi pusat kehidupan.

“Kalau kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau, apakah itu benar-benar masa depan yang kamu inginkan? Karena itu berarti pekerjaanmu tidak lagi penting,” kata Musk.

Pandangan Musk ini muncul di tengah kondisi nyata yang berbeda di masyarakat saat ini. Banyak orang justru masih kesulitan menabung untuk masa depan akibat tekanan ekonomi dan inflasi.

Data Federal Reserve menunjukkan hanya sekitar 55 persen orang dewasa di AS yang memiliki dana darurat setara tiga bulan pengeluaran. Bahkan, kurang dari setengah responden mampu menutupi biaya tak terduga sebesar US$2.000 atau sekitar Rp34 juta. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, banyak survei menunjukkan masih banyak pekerja yang belum siap secara finansial untuk masa pensiun. Meski demikian, Musk tetap konsisten dengan pandangannya bahwa AI akan membawa dunia menuju era kelimpahan. 

Namun, ia juga mengingatkan bahwa perubahan besar ini bisa menimbulkan tantangan sosial baru, termasuk krisis makna hidup dan potensi ketegangan sosial di masyarakat.