Ramalan "Mencengangkan" Elon Musk soal Robot Masa Depan

humanoid, Ramalan

CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, akhirnya muncul di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan lalu.

Ini merupakan penampilan perdana Musk di panggung pertemuan elit ekonomi global tersebut.

Dalam debutnya, orang terkaya di dunia ini langsung melontarkan prediksi yang mencengangkan mengenai masa depan peradaban manusia dan mesin.

Musk memperkirakan bahwa dalam waktu dekat, populasi robot humanoid di Bumi akan melampaui jumlah populasi manusia.

Menurut kalkulasinya, rasio robot terhadap manusia nantinya bisa mencapai lebih dari satu banding satu.

"Saya pikir kita akan melihat sesuatu yang melampaui rasio 1:1 untuk robot humanoid terhadap manusia," ujar Musk, sebagaimana dikutip KompasTekno dari Euronews.

Artinya, jika populasi manusia mencapai 8 miliar, jumlah robot yang beroperasi bisa jauh di atas angka tersebut.

Pernyataan ini bukan sekadar imajinasi fiksi ilmiah. Musk sedang menggambarkan pergeseran fundamental ekonomi global yang makin bergantung pada AI.

Ia meyakini bahwa ekonomi masa depan tidak lagi dibatasi oleh jumlah tenaga kerja manusia.

Robot humanoid, menurut Musk, akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan fisik. Hal ini memungkinkan produktivitas ekonomi melonjak drastis tanpa batas yang selama ini menjadi kendala pertumbuhan negara-negara maju.

Pusat dari ambisi besar ini adalah Optimus, robot humanoid yang sedang dikembangkan secara agresif oleh Tesla. Musk sesumbar bahwa robot ini nantinya bisa melakukan berbagai tugas.

Mulai dari pekerjaan berbahaya di pabrik, tugas repetitif di gudang, hingga membantu urusan rumah tangga sehari-hari, seperti melipat baju atau memasak.

Pertaruhan Rp 16.000 triliun

Optimisme Musk soal "banjir" robot ini sejatinya memiliki kaitan erat dengan strategi bisnis Tesla yang sangat ambisius.

Robot kini telah menjadi salah satu pilar vital bagi valuasi perusahaan, bahkan diproyeksikan bakal lebih bernilai ketimbang bisnis mobil listrik mereka.

Hal ini menjadi latar belakang mengapa para pemegang saham Tesla sebelumnya menyetujui paket gaji fantastis untuk Musk. Nilainya tak main-main, mencapai 56 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16.000 triliun.

Persetujuan gaji jumbo tersebut didasari oleh keyakinan investor bahwa Musk mampu merealisasikan visi futuristiknya.

Investor bertaruh bahwa di bawah kendali Musk, Tesla bisa bertransformasi dari sekadar produsen otomotif menjadi pemimpin global di bidang AI dan robotika.

Jika prediksi Musk di Davos benar dan Optimus sukses dikomersialisasikan secara massal, nilai saham Tesla diprediksi akan meroket.

Peringatan bahaya AI

Meski sangat antusias dengan potensi ekonomi dari robot, Musk tidak menutup mata terhadap risiko fatalnya.

Di hadapan para pemimpin dunia dan pebisnis top di Davos, pemilik media sosial X (dahulu Twitter) ini kembali menyalakan "lampu kuning" soal bahaya keberadaan AI.

Ia menekankan bahwa keberadaan miliaran robot cerdas harus disertai dengan pengawasan yang sangat ketat.

Musk memperingatkan agar pengembangan kecerdasan buatan ini tidak menjadi bumerang yang justru mengancam eksistensi penciptanya.

"Kita harus memastikan bahwa hasilnya baik untuk umat manusia," pungkas Musk, menutup visinya tentang masa depan yang penuh sesak oleh robot.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang