Elon Musk: AS bakal Hancur

Elon Musk resmi meluncurkan layanan internet Satelit Starlink di Denpasar, Bali, Minggu, 19 Mei 2024.
Elon Musk resmi meluncurkan layanan internet Satelit Starlink di Denpasar, Bali, Minggu, 19 Mei 2024.

Miliarder Elon Musk telah mengindikasikan niatnya untuk mendanai kandidat Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu Kongres pada akhir tahun ini, dengan mengatakan bahwa AS akan mengalami kehancuran jika Partai Demokrat merebut kembali kekuasaan di Parlemen.

Kepala eksekutif Tesla dan SpaceX itu mengomentari sebuah unggahan di media sosial X oleh seorang influencer konservatif, yang mengklaim bahwa 'Elon Musk dilaporkan akan sepenuhnya mendanai Partai Republik untuk membantu Presiden Donald Trump merebut kembali kendali penuh dalam pemilihan paruh waktu November mendatang".

Ia juga menanggapi pesan tersebut dengan memperingatkan jika “Amerika Serikat akan hancur jika kaum kiri radikal menang”. Partai Demokrat 'akan membuka pintu gerbang bagi imigran ilegal dan aksi penipuan'. "Dan itu bukanlah Amerika," tegas Elon Musk, seperti dikutip dari situs Russia Today, Senin, 5 Januari 2026.

Pada Desember 2025, Axios melaporkan, berdasarkan sumber terpercaya, bahwa Musk baru-baru ini telah mengirim 'cek besar' kepada Partai Republik untuk digunakan selama pemilihan Kongres, dengan rencana untuk menyumbangkan lebih banyak lagi sepanjang tahun ini.

Partai Republik telah mengalami serangkaian kekalahan dari Partai Demokrat dalam pemilihan khusus tahun lalu, termasuk di negara bagian yang secara tradisional dianggap sebagai benteng mereka.

Dukungan untuk Donald Trump telah menurun sejak ia memulai masa jabatan keduanya, dengan jajak pendapat Economist/YouGov awal pekan ini menunjukkan bahwa presiden mengakhiri tahun dengan tingkat persetujuan 39 persen dan tingkat ketidaksetujuan 56 persen.

Elon Musk, yang dulunya adalah sekutu dekat Trump selama Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024, menyumbangkan US$290 juta (Rp..) dan menjadi donor utama kampanye tersebut.

Setelah menjabat, presiden menunjuknya sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) yang baru dibentuk untuk memangkas biaya pemerintah federal.

Hubungan Musk dengan Trump memburuk pada Juni 2025 karena RUU andalan presiden yang disebutnya "RUU besar dan indah," yang secara signifikan memperluas pengeluaran federal.

Miliarder itu, yang mengundurkan diri sebagai kepala DOGE di tengah keretakan tersebut, menyebut undang-undang itu sebagai "kekejian yang menjijikkan," menuduh presiden memiliki hubungan dengan pelaku kejahatan seksual yang dihukum, Jeffrey Epstein, dan mempertimbangkan pembentukan partainya sendiri untuk melemahkan Partai Republik.

Donald Trump menyebut CEO Tesla dan SpaceX itu "gila". Hubungan mereka tampaknya telah membaik dalam beberapa bulan terakhir, dengan Trump terekam menepuk lengan Elon Musk saat makan malam di Gedung Putih pada November 2025. Menurut Axios, keduanya sekarang berbicara melalui telepon 'sesekali'.