Soroti Kebijakan BI, Ekonom Sarankan 4 Taktik Ala Brazil Demi Selamatkan Rupiah
Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan dinilai belum memberikan dampak optimal bagi penguatan nilai tukar rupiah.
Alih-alih menstabilkan mata uang, langkah tersebut justru dinilai menjadi salah satu pemicu keluarnya modal asing dari pasar domestik.
Ekonom Gede Sandra menilai bahwa situasi moneter yang dihadapi Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan dinamika ekonomi yang dialami Brazil pada tahun 2002 silam.
"Ini hal yang sebenarnya bisa dihindari bila Bank Sentral itu lebih tepat responsnya. Tapi ini malah seperti memperburuk,” ucap Gede Sandra, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Merujuk pada penelitian ekonom Olivier Blanchard (2004), Gede menjelaskan bahwa Brazil pernah mengambil langkah serupa dengan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Namun, kebijakan tersebut justru direspons negatif oleh pasar, memicu kepanikan investor, keluarnya modal asing, dan depresiasi mata uang.
"Harapannya mata uang menguat (apresiasi), dia malah melemah. Dan masalahnya, pengalaman di Brazil ini tidak menjadi pelajaran bagi otoritas moneter di Bank Indonesia," tutur Gede.
Kekhawatiran pasar, menurut Gede, turut diperberat oleh rasio utang Indonesia yang kini berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang mulai mendekati posisi Brazil saat itu (50-60 persen). Selain itu, tingkat imbal hasil (yield) surat utang Indonesia juga mengalami kenaikan hingga menyentuh level 7 persen.
"Pada saat otoritas Bank Sentral menaikkan suku bunga moneter, ternyata suku bunga surat utang juga ikut naik. Takutlah ini investor-investor melihat, wah bagaimana kalau nanti terjadi default atau gagal bayar?" paparnya.
Di sisi lain, Gede menyoroti adanya ketidakselarasan antara kebijakan moneter BI dengan kinerja fiskal pemerintah yang sejauh ini menunjukkan hasil positif. Mengacu pada data per April, kinerja keuangan negara terbilang impresif dengan penerimaan mencapai Rp918 triliun dan belanja Rp1.024 triliun, sehingga defisit terjaga di angka 0,64 persen.
Selain itu, keseimbangan primer berhasil mencatatkan surplus setelah sempat negatif di kuartal pertama, sejalan dengan tren neraca perdagangan yang terus positif. Namun, capaian di sektor riil dan fiskal ini dinilai tidak sejalan dengan arah kebijakan moneter.
"Kita melihat ada seperti kebijakan fiskal ini dinegasikan. Dibatalkan oleh otoritas moneter. Harusnya bareng-bareng kesana, moneternya kok kayak mau negasikan," ucap Gede Sandra.
Lebih lanjut, Gede menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor dedolarisasi. Langkah BI memperluas Local Currency Transaction (LCT) dan penggunaan QRIS antarnegara untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS turut memicu reaksi dari pemodal global.
"Aktivitas dedolarisasi ini tidak disukai sebenarnya oleh modal-modal dari negeri dolar, dari Amerika, ya. Jadi ini juga salah satu faktor yang mendorong (pelemahan rupiah)," ungkapnya.
Faktor ini diperkuat oleh dinamika global, di mana Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga tinggi untuk meredam inflasi domestiknya, yang berujung pada penarikan likuiditas secara masif dari negara-negara berkembang.
Sebagai solusi, Gede menyarankan agar otoritas fiskal dan moneter di Indonesia dapat berjalan seirama dengan mengadopsi empat langkah pemulihan yang sukses diterapkan Presiden Brazil Lula da Silva pada 2002-2003.
Keempat langkah tersebut meliputi: menjaga target surplus keseimbangan primer yang tinggi, melakukan reformasi anggaran melalui efisiensi program, mengurangi ketergantungan terhadap dolar untuk stabilitas jangka panjang, serta menjaga komitmen pengetatan anggaran.
"Dengan empat langkah ini, akhirnya Brazil tahun 2002 lolos. Begitu persepsi pasar membaik, kurs menguat, inflasi turun, barulah kemudian Bank Sentral Brazil menaikkan suku bunga. Gak ada masalah setelah itu," pungkas Gede.