Akhir Riwayat Pohon Randu Alas, Ikon Desa Tuksongo Borobudur yang Berusia 250 Tahun

pohon randu alas, Akhir Riwayat Pohon Randu Alas, Ikon Desa Tuksongo Borobudur yang Berusia 250 Tahun

Penduduk di sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pasti sudah sangat akrab dengan pemandangan pohon randu alas yang menjulang tinggi dan gagah di kiri jalan, tepat sebelum lapangan Randu Alas, Desa Tuksongo.

Batang pohon randu alas itu berdiameter cukup besar. Dan pohon itu sudah berada di sana ratusan tahun lamanya, tanpa ada warga sekitar yang berani menyentuh apalagi merusaknya.

Maka ketika wacana pohon tua itu akan ditebang, banyak pro kontra yang menyeruak di media sosial.

Seperti yang diunggah oleh akun Instagram Magelang Today, yang menampakkan seorang penduduk lokal memberikan pendapatnya soal rencana penebangan tersebut.

Warga lokal yang sudah berusia senja dan menuntun sepeda itu mengatakan tak akan ikut campur soal rencana tersebut, lantaran pohon itu sudah sangat tua dan ada risiko tersendiri jika menebang atau merusaknya.

Sedangkan ditemui Kompas.com di sekitar pohon randu alas, seorang warga, Siti mengungkapkan, sudah diselenggarakan dua kali selamatan sebelum pemotongan pohon dilakukan.

"Yang terakhir kemarin sebelum dipotong pada Senin, sekitar pukul 03.00 WIB pagi ada mujadahan. Ratusan warga hadir di lapangan, di dekat pohon, untuk mengikuti pengajian," ujarnya, Selasa (3/2/2026) sore.

Bahkan menurut Siti, hadir pula puluhan paranormal saat selamatan digelar.

"Banyak paranormal yang datang, karena selama ini kan pohon randu alas tersebut dianggap sakral," paparnya.

Akhir hidup si randu alas

Diketahui, pada awal Februari 2026, pemerintah Desa Tuksono dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang akhirnya sepakat untuk menebang pohon yang sudah mulai mati tersebut.

Pada Senin (2/2/2026) pagi, warga berkumpul di sekitar lapangan melihat pohon randu raksasa untuk terakhir kalinya sebelum ditebang.

Ketika mesin pemotong kayu mulai dinyalakan, banyak warga yang mengeluarkan ponsel untuk merekam momen tersebut.

Dilansir dari Tribun, proses penebangan berlangsung sangat hati-hati. Satu unit mobile crane dikerahkan membantu memotong dahan yang menjulang tinggi.

Dua orang petugas tampak ada di atas pohon setinggi sekitar 40 meter untuk memotong dahan-dahan besar satu per satu menggunakan gergaji mesin.

Kemudian, setiap dahan yang sudah terpotong akan diikat tali terlebih dahulu agar tidak langsung jatuh ke tanah dan membahayakan warga dan bangunan yang ada di sekitarnya. 

Setelah diturunkan perlahan, potongan-potongan kayu itu kembali dipotong di bawah oleh sejumlah petugas.

Pernah menjadi tempat berteduh petani tembakau

Bagi warga sekitar Candi Borobudur, pohon randu alas tersebut selama ini selalu menjadi tetenger atau penanda yang hidup di ingatan kolektif masyarakat. 

Bagaimana tidak, pohon randu alas itu sudah berusia sekitar 250 tahun.

“Itu kan memang pohon randu yang sudah usianya ratusan tahun dan itu memang menjadi ikon desa kami,” kata Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim.

Abdul kemudian mengenang masa lalu, saat masyarakat Tuksongo masih bergelut dengan ladang tembakau, belum melirik sektor pariwisata.

Menurut Abdul, di masa kecilnya, banyak warga melakukan ngabul di Lapangan Tuksongo, yakni tradisi gotong royong masyarakat desa untuk menurunkan tembakau yang baru dipanen dari truk setelah diangkut dari ladang.

Nah, sebelum truk datang, para petani biasanya akan duduk menunggu di bawah rindangnya pohon randu alas itu.

Waktu berlalu, lapangan yang biasanya digunakan menjemur tembakau, kini menjadi salah satu titik destinasi wisata.

Hampir tiap hari, puluhan VW wisata akan memarkirkan mobilnya di situ, dan memberikan kesempatan wisatawan berfoto dengan latar belakang Perbukitan Menoreh, atau justru gagahnya Si Randu Alas.

Alasan penebangan pohon

Menurut Abdul Karim, pejabat desa dan warga setempat sebenarnya keberatan menebang pohon tersebut. 

Namun keputusan itu akhirnya harus diambil karena pohon dinyatakan sudah mati sehingga dahannya yang lapuk dikhawatirkan akan membahayakan warga maupun wisatawan yang melintas, terlebih di cuaca ekstrem belakangan ini, di mana hujan sering disertai angin kencang.

“Kita sebagai pemangku wilayah dan masyarakat tentunya tidak ingin menebang pohon randu alas yang mana pohon randu alas itu jadi ikon desa kami,” ujarnya.

“Tapi berhubung pohon randu alas atau ikon desa kami memang dilihat melalui kasat mata, itu sudah tidak layak hidup. Maka dari itu memang mau tidak mau kita harus melangkah demi aspek keselamatan,” lanjutnya.

Sebelum mencapai keputusan final, pemerintah desa dan Pemkab Magelang sudah meminta kajian akademis dari tim ahli Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Kesimpulan untuk pemotongan randu alas ini ini dengan hasil kajian dari tim UGM. Tim ahli dari UGM sudah menyatakan bahwa pohon randu itu 95 persen sudah tidak layak hidup,” ungkap Karim.

Kajian UGM itu memunculkan tiga opsi penanganan. Mulai dari pemotongan seluruhnya atau opsi  terakhir, yakni menyisakan sebagian batang pohon untuk dijadikan monumen.

Opsi terakhir itulah yang kemudian dipilih warga Tuksongo.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, juga ikut menjelaskan kondisi randu alas tersebut.

“Fisiologis tanaman terjadi pelapukan pada kulit batang, yang kedua terjadinya juga cambium tanaman sudah tidak ada dan kami melihat struktur tanaman sudah mati,” katanya.

Dilansir dari laman The Encyclopedia of Tress, pohon randu alas dikenal secara ilmiah sebagai Bombax ceiba L., termasuk dalam keluarga Malvaceae (dulunya Bombacaceae).

Randu alas juga dikenal sebagai kapuk hutan atau red silk cotton tree. Batangnya sangat besar, memiliki duri kerucut, dan bunganya berwarna merah menyala.

Randu alas yang bisa tumbuh sangat besar dan gigantik, sering dianggap sakral oleh masyarakat.

Pohon ini dapat hidup hingga ratusan tahun, dengan contoh kasus mencapai usia sekitar 250 tahun. Pohon ini dikenal berumur panjang, namun rentan mengalami pelapukan fisiologis pada kulit dan kambium batang saat memasuki usia sangat tua. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang