Dikira Fosil Mamut, Tulang Berusia 2.000 Tahun di Alaska Ternyata Milik Paus Purba

Ilmuwan telah salah mengidentifikasi, mengira fosil paus purba sebagai fosil mamut Alaska berusia 2.000 tahun.
Awalnya, sepasang tulang belakang mamut berbulu yang ditemukan di Alaska sempat diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun, sehingga dianggap sebagai bukti paling muda dari keberadaan hewan purba yang telah punah tersebut yang pernah tercatat.
Namun, setelah dianalisis lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa fosil itu bukan berasal dari kelompok proboscidea (mammoth), melainkan milik dua ekor paus yang entah bagaimana bisa berada ratusan kilometer jauhnya dari laut.
Dilansir dari IFL Science (11/12/2025), spesimen tersebut ditemukan oleh penjelajah dan naturalis asal Jerman, Otto Geist, pada awal 1950-an di dekat kota pedalaman Fairbanks.
Fosil-fosil itu kemudian disumbangkan ke University of Alaska Museum of the North dan dikatalogkan sebagai lempeng epifisis tulang belakang mamut.
Pada 2022, penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa tulang-tulang itu berusia antara 1.900 hingga 2.700 tahun.
Hal itu dianggap sebagai hasil yang mengejutkan, mengingat catatan arkeologi menunjukkan bahwa mamut punah di wilayah tersebut sekitar 13.000 tahun lalu.
“Fosil mamut dari periode Holosen Akhir yang ditemukan di pedalaman Alaska akan menjadi temuan yang luar biasa: fosil mamut termuda yang pernah tercatat,” tulis para penulis.
“Jika hasil ini akurat, usianya akan beberapa ribu tahun lebih muda dibandingkan bukti genetik terakhir keberadaan mamut di Beringia timur,” lanjut mereka.
Dicukil dari phys.org, Rabu (7/1/2026), dalam sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Quaternary Science, tim peneliti yang dipimpin Matthew Wooller dari University of Alaska Fairbanks memutuskan untuk menelusuri temuan ini lebih jauh.
Ternyata makhluk dari laut dalam
Karena meragukan temuan tersebut, para peneliti memutuskan untuk memeriksa ulang identitas mamut dari kedua spesimen itu.
Mereka memulai dengan analisis isotop pada tulang, yang mengungkap bahwa kadar isotop nitrogen tertentu jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasanya ditemukan pada hewan darat, dan justru mencerminkan pola makanan khas mamalia laut besar.
Peneliti pun semakin ragu, kemudian melakukan analisis DNA.
Hasil analisis DNA menguatkan dugaan tersebut, memastikan bahwa tulang-tulang itu sebenarnya milik paus minke dan paus sikat Pasifik Utara (North Pacific right whale).
Setelah lebih dari tujuh dekade salah identifikasi, spesimen tersebut akhirnya dicabut statusnya sebagai fosil mamut.
Meski demikian, misterinya belum sepenuhnya terpecahkan.
Hal ini lantaran, fosil-fosil itu ditemukan pada 1950-an di tambang emas Dome Creek, dekat Fairbanks, sekitar 400 kilometer dari garis pantai terdekat
Sehingga muncul pertanyaan, bagaimana dua paus bisa berada di lokasi tersebut ribuan tahun lalu?
Berbagai dugaan peneliti
Menurut para peneliti, paus-paus purba itu hampir mustahil mencapai lokasi tersebut dengan berenang melalui sungai, karena fosil ditemukan di dekat sebuah anak sungai kecil yang tidak mungkin dilalui hewan sebesar itu.
Kedua, kemungkinan tulang-tulang tersebut dibawa oleh beruang atau pemakan bangkai lain dari pantai juga dinilai sangat kecil.
Salah satu kemungkinan yang masuk akal adalah, bahwa manusia pemburu-peramu purba memindahkan tulang paus tersebut, baik karena nilai simbolisnya maupun sebagai bahan baku pembuatan alat.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa komunitas pesisir prasejarah di Alaska memang menggunakan tulang paus untuk tujuan tersebut, meski bukti serupa di wilayah pedalaman masih belum ditemukan.
Pada akhirnya, para peneliti mengakui bahwa kita mungkin tidak akan pernah benar-benar mengetahui bagaimana sisa-sisa paus itu sampai ke lokasi akhirnya.
Penjelasan yang paling masuk akal justru bisa jadi, itu semua adalah kesalahan pelabelan di museum.
Penelusuran sejarah koleksi menunjukkan bahwa Otto Geist menyerahkan spesimen tersebut bersamaan dengan kumpulan tulang lain yang ia ambil dari wilayah pesisir Norton Bay.
Kemungkinan besar, tulang paus tersebut sebenarnya berasal dari koleksi Norton Bay, namun entah bagaimana tercampur dengan koleksi Geist dari pedalaman, sehingga memicu kebingungan selama lebih dari 70 tahun.
Meski begitu, kebenaran pastinya barangkali tidak akan pernah diketahui.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang