Menyusuri Gua di Sulawesi yang Menyimpan Lukisan Cap Tangan Tertua Dunia
Dari dinding sebuah gua wisata di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tim peneliti gabungan Indonesia-Australia berhasil mengungkap lukisan cap tangan tertua di dunia.
Lukisan cap tangan tertua di dunia itu berusia 67.800 tahun. Letaknya berada di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang kini dinobatkan sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia oleh Guinness World Records pada Selasa (19/5/2026).
"Saya sebagai peneliti sangat bangga ya, kita arkeolog dari hasil-hasil publikasinya telah diakui tidak hanya oleh dunia arkeologi nasional di Indonesia, tapi secara internasional, termasuk dari Guinness World Record ini sebagai Oldest Non-Figurative Art," kata peneliti BRIN Dr. Adhi Agus Oktaviana.
Peneliti BRIN Dr. Adhi Agus Oktaviana saat menerima penghargaan penemuan karya seni nonfiguratif tertua di dunia oleh Guinness World Records pada Selasa (19/5/2026).
Adhi menuturkan, akses lokasi menuju Liang Metanduno mudah dijangkau. Dari Kota Raha, wisatawan hanya perlu berkendara sekitar 30 menit untuk tiba di lokasi situs.
Saat ini, Liang Metanduno yang menjadi lokasi bersejarah lukisan cap tangan tertua di dunia tengah direkomendasikan sebagai cagar budaya nasional.
Itu sebabnya, Adhi menilai bahwa pengelolaan kawasan wisata ini perlu diperketat untuk menjaga keamanan para pengunjung.
"Guanya gampang diakses, tapi agak tricky kalau mau lihat gambar (cap tangannya) itu harus melewati bolder-bolder batu runtuhan. Itu licin makanya harus diatur, misalnya bergantian masuk lima orang per 20 menitan," saran Adhi saat dihubungi Kompas.com, Selasa (26/5/2026).
Peneliti muda tersebut juga menegaskan bahwa selama berada di dalam gua, pengunjung tidak boleh berkeringat dan merokok, untuk menjaga kondisi gua tetap stabil.
Saat ini, pengelolaan wisata di Gua Metanduno atau Liang Metanduno sudah melibatkan pemandu yang siap mendampingi pengunjung.
Metode penentuan usia lukisan
Lukisan cap tangan tertua di dunia itu berusia 67.800 tahun. Letaknya berada di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang kini dinobatkan sebagai karya seni nonfiguratif tertua di dunia oleh Guinness World Records pada Selasa (19/5/2026).
Lukisan cap tangan yang dibuat dengan teknik stensil ini merupakan hasil riset dari peneliti gabungan Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia (BRIN), Southern Cross University, dan Griffith University.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature pada Januari 2026, setelah dimulai pada 2012 silam.
Untuk menentukan usia minimum lukisan, para peneliti menggunakan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua tersebut.
sampelnya kita korek-korek dikit jadi serbuk, baru ada campuran kimia di situ yang untuk mengukur uranium series," ungkap Adhi.
Karya seni manusia purba
Peneliti BRIN Dr. Adhi Agus Oktaviana saat meneliti lukisan cap tangan tertua di dunia yang berlokasi Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
Lukisan cap tangan di Liang Metanduno menjadi bukti bahwa manusia modern awal ke wilayah tersebut.
Penelitian ini juga menggambarkan tingkat kognisi mereka yang memungkinkan manusia modern awal untuk mencatat aktivitas sehari-hari mereka di dalam gua melalui lukisan nonfiguratif dan figuratif.
“Kini terbukti dari fase penelitian baru kami bahwa Sulawesi adalah rumah bagi salah satu budaya seni terkaya dan tertua di dunia, yang asal-usulnya berasal dari sejarah awal pendudukan manusia di pulau ini setidaknya 67.800 tahun yang lalu,” kata arkeolog dan ahli geokimia dari Pusat Penelitian Sosial dan Budaya Griffith University, Profesor Maxime Aubert, dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa gua-gua di Pulau Muna digunakan manusia purba untuk membuat karya seni dalam rentang waktu yang sangat panjang, setidaknya selama 35.000 tahun hingga sekitar 20.000 tahun lalu.
Selain memecahkan rekor dunia, penemuan ini juga dinilai mengubah pemahaman tentang migrasi manusia modern awal atau Homo sapiens.
Lukisan tersebut menjadi bukti langsung paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, daratan purba yang mencakup Australia dan Papua.
Adhi menjelaskan bahwa manusia modern yang bermigrasi dari Paparan Sunda menuju Wallacea hingga Sahul telah memiliki kemampuan merekam aktivitas kehidupan mereka melalui seni cadas.
Tim peneliti juga menemukan bentuk unik pada lukisan tersebut. Setelah stensil tangan dibuat, bagian jari-jari sengaja dipersempit sehingga menyerupai cakar.
Profesor Adam Brumm dari Griffith University mengatakan makna simbolis bentuk tersebut masih menjadi bahan penelitian.
Menurutnya, seni itu kemungkinan menunjukkan hubungan erat antara manusia dan hewan dalam kepercayaan masyarakat prasejarah.
Penelitian ini turut didukung oleh Google Arts & Culture dan National Geographic Society.
Dokumentasi penelitian seni cadas Sulawesi juga ditampilkan dalam film dokumenter berjudul “Sulawesi l'île des premières images” yang dirilis di Eropa.
"Jadi untuk masyarakat yang belum lihat situs gambar cadas, ada di Google Art and Culture. Jadi ada Ancient Canvas sama First Picture yang bisa dilihat masyarakat umum, ada virtual situsnya, story-nya, dan foto-foto rock art," pungkas Adhi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang