Protes Penilaian Juri Viral, Peserta LCC Empat Pilar MPR RI Diduga Alami Teror Via WA

Unggahan Kakak peserta LCC MPR RI
Unggahan Kakak peserta LCC MPR RI

 Ajang final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 yang seharusnya menjadi ruang kompetisi intelektual pelajar, kini justru menjadi sorotan publik akibat dugaan ketidakadilan penilaian dan intimidasi terhadap salah satu peserta. Peristiwa tersebut viral di media sosial setelah keluarga peserta mengungkap adanya tekanan psikologis yang dialami sang siswa usai mengkritik keputusan juri.

Kasus ini mencuat setelah video protes terkait penilaian lomba beredar luas di berbagai platform media sosial. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam video tersebut, terlihat adanya perbedaan perlakuan penilaian terhadap jawaban peserta yang dianggap identik. Salah satu peserta dari Kalimantan Barat disebut memperoleh pengurangan poin, sementara tim lain yang memberikan jawaban serupa justru mendapatkan nilai penuh.

Kabar itu pertama kali diungkap oleh kakak peserta melalui unggahan media sosial pada Selasa, 12 Mei 2026. Ia menyebut adiknya kini mengalami tekanan mental cukup berat hingga kehilangan nafsu makan akibat situasi yang berkembang.

"Adikku peserta LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat. Dia jawab BENAR, dapat -5. Tim lain jawab hal yang SAMA PERSIS, dapat +10. Sekarang adikku ditekan lewat chat WA, entah dari siapa, disuruh hapus video yang sudah terlanjur viral, kalau enggak bakalan disomasi," tulis akun @zvanniisygg di Threads, dikutip dari Instagram @rumpi_gosip, Rabu 13 Mei 2026.

Menurut penuturannya, sang adik telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan demi mengikuti kompetisi nasional tersebut. Ia merasa kecewa karena penilaian yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan substansi jawaban peserta.

"Adikku telah berbulan-bulan hafal konstitusi sampai tidur pun komat-kamit. Di depan kamera live YouTube MPR RI, dia jawab. Lalu, soal dilempar ke tim lain. Jawaban sama, juri bilang 'Ini sudah benar. Nilai 10'. Aku replay sampai mataku panas. Tidak ada bedanya," lanjut unggahan tersebut.

Perdebatan bermula ketika peserta diminta menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Saat itu, jawaban dari peserta asal Kalimantan Barat dinilai kurang tepat hingga poin tim dikurangi. Namun beberapa saat kemudian, tim lain memberikan jawaban yang dinilai serupa dan justru memperoleh tambahan poin penuh dari dewan juri.

Ketika keberatan diajukan, juri disebut memberikan alasan bahwa pengurangan nilai bukan berasal dari isi jawaban, melainkan karena artikulasi peserta yang dianggap kurang jelas saat menyampaikan jawaban di depan forum.

Di tengah polemik tersebut, keluarga peserta juga mengunggah tangkapan layar pesan WhatsApp yang diduga berisi ancaman somasi. Dalam pesan itu, pengirim meminta agar video protes yang telah viral segera dihapus dari media sosial.

"Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG. Jika tidak, kami akan layangkan somasi," bunyi pesan tersebut.

Situasi itu membuat kondisi psikologis peserta disebut semakin menurun. Sang kakak mengaku bingung melihat adiknya mulai merasa bersalah karena dianggap memicu kegaduhan di tengah sorotan publik.

"Sekarang adikku bingung. Dia nanya ke aku, 'Kak, apa aku harus minta maaf? Katanya aku yang bikin gaduh'. Dan aku enggak tahu harus jawab apa," ungkapnya lagi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kasus ini pun menuai reaksi luas dari masyarakat. Banyak warganet menilai penyelenggara seharusnya membuka ruang evaluasi secara objektif terkait sistem penilaian lomba, bukan justru merespons kritik dengan dugaan intimidasi. Sebagai ajang edukasi nasional yang melibatkan pelajar, publik berharap seluruh peserta mendapatkan perlakuan yang adil dan transparan.